Ketika Rindu pada Masa Lalu Jadi Ladang Bisnis Masa Kini
PJ2 bukan sekadar mencari untung, melainkan gerakan untuk mendemokratisasi seni keprajuritan.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Suara tambur menggelegar, suling melengking, terompet berbunyi lantang. Barisan bregada berseragam tradisional berjalan khidmat mengawal kereta kuda yang megah.
Bukan di halaman Keraton Ngayogyakarta melainkan di jalan kampung, di gedung pernikahan bahkan di pendapa milik selebriti. Inilah "dagangan" Eras Yudhanto melalui Prajurit Jogja 2 atau PJ2, sebuah bisnis jasa bregada rakyat yang dirintis sejak 2015.
"Saya sering lihat bapak ikut kirab di kampung, ada rasa suka dan ingin melestarikan. Kemudian saya ingin memperdalam lagi tentang kebudayaan Jawa di seni keprajuritan, kemudian mendirikan sendiri sama teman anak-anak muda di luar Kampung Wisata Dipowinatan tetapi basecamp-nya tetap di Dipowinatan," kata Eras mengenang awal mula perjalanannya.
Inspirasi itu datang dari sosok ayahnya yang menjadi anggota bregada rakyat di Kampung Wisata Dipowinatan. Setiap kali melihat sang ayah berparade dalam kirab kampung, sesuatu bergetar di dada Eras.
Generasi kedua
Bukan sekadar kagum, tapi ada kerinduan mendalam untuk menjaga agar kemegahan tradisi masa lalu itu tidak hanya menjadi milik istana atau acara resmi kerajaan semata.
Nama Prajurit Jogja 2 bukan dipilih sembarangan. Eras sangat sadar bahwa prajurit asli berasal dari Keraton Ngayogyakarta. Angka "2" dalam nama paguyubannya adalah pengakuan jujur bahwa mereka adalah generasi kedua, sebuah kreativitas baru yang lahir dari rasa hormat terhadap yang asli.
"Setelah mendirikan ini, saya mengumumkan ke teman-teman luar daerah seperti Gunungkidul, Bantul, Kulonprogo, Sleman. Semua dikumpulkan dan jadi wadah dinamai PJ2, soalnya prajurit asli kan Keraton Yogyakarta. Kalau PJ2 ini untuk mempermudah orang mengingat, khususnya orang dari luar Jogja kalau PJ2 ini punya saya," jelasnya dengan nada rendah hati sekaligus bangga.
Yang menarik dari PJ2 adalah pendekatan mereka yang tidak sepenuhnya meniru. Meski berkiblat pada seni keprajuritan Keraton Ngayogyakarta, Eras dan kawan-kawannya tetap berkreasi, mulai dari aransemen musik hingga desain kostum. Mereka belajar secara otodidak, beruntung memiliki beberapa teman yang memiliki koneksi dengan lingkungan keraton.
Seragam fleksibel
"Untuk memainkan alat musik kita otodidak, kebetulan ada teman-teman juga dari keraton, belajar juga dari teman. Musiknya masih musik klasik, kiblatnya tetap keraton pakai suling, tambur, terompet, tetapi beberapa dikreasikan sendiri," ungkap Eras.
Soal seragam pun mereka fleksibel, memiliki berbagai jenis gaya mulai dari Jogja hingga Surakarta, menyesuaikan konsep yang diminta klien.
Sepuluh tahun bukanlah perjalanan mulus. Seperti bisnis pada umumnya, PJ2 mengalami pasang surut. Tantangan terbesar justru datang dari internal: bentrokan waktu dengan kesibukan masing-masing anggota. Ada yang memilih keluar karena merasa lelah, ingin mencari pekerjaan lain yang lebih stabil. Eras tidak pernah melarang.
"Beberapa teman juga bilang capek, mau kerja yang lain, kami tetap mempersilakan. Yang penting konsisten sama kita dan mau terus belajar," katanya dengan lapang dada.
Launching produk
Namun kerja keras dan konsistensi itu membuahkan hasil manis. PJ2 kini tidak hanya tampil di event-event lokal Yogyakarta, tetapi merambah keluar kota bahkan keluar Pulau Jawa. Acara resmi pemerintahan, pernikahan, gathering perusahaan, launching produk, hingga kirab-kirab budaya menjadi lahan mereka.
Yang membuat nama PJ2 semakin melambung adalah ketika public figure dan orang-orang ternama mempercayakan momen spesial mereka pada jasa bregada rakyat ini.
Pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Gudono, pernikahan artis Vicky Shu, serta pernikahan pasangan pebulutangkis ternama Indonesia Ribka Sugiarto dan Rian Ardianto di Pendopo Tulungo milik Soimah, semuanya menghadirkan kemegahan kereta kuda PJ2.
Eras mengungkapkan bahwa ketiga pasangan tersebut menggunakan kereta pertama yang mereka miliki, sebuah kereta yang desainnya terinspirasi langsung dari kereta keraton.
Dirancang cermat
"Kami kereta kuda punya empat. Mas Kaesang, Vicky Shu, sama atlet bulu tangkis Mbak Ribka sama Mas Rian pakai kereta pertama yang kami punya. Inspirasi kereta juga dari keraton," kata Eras.
Keempat kereta itu bukan sekadar properti bisnis. Masing-masing adalah karya seni yang dirancang dengan cermat, mengusung nilai-nilai estetika Jawa namun tetap nyaman dan aman untuk digunakan.
Setiap detail, mulai dari ukiran hingga warna, dipilih untuk mencerminkan kemegahan tanpa meninggalkan sentuhan modern yang membuatnya relevan untuk acara masa kini.
Di balik kesuksesan komersial dari ladang bisnis itu, Eras tidak pernah melupakan misi awal yaitu pelestarian budaya. Baginya, PJ2 bukan sekadar bisnis mencari untung, melainkan gerakan untuk mendemokratisasi seni keprajuritan.
Masyarakat biasa
Jika dulu kemegahan bregada hanya bisa dinikmati dalam acara-acara istana atau pemerintahan, kini masyarakat biasa pun bisa merasakannya.
"Bisnis seperti ini belum ada di mana anak-anak muda melestarikan budaya. Kita ingin ikut melestarikan di masyarakat biasa biar bisa menggunakan bregada rakyat," katanya.
Eras dan kawan-kawannya di PJ2 membuktikan bahwa menjadi anak muda tradisional tidak berarti ketinggalan zaman. Mereka adalah generasi baru yang berhasil menemukan formula untuk menghormati masa lalu sambil merangkul masa depan, menjual kemegahan istana untuk rakyat jelata, dan yang terpenting, membuat bisnis dari hal yang mereka cintai.
Di Kampung Dipowinatan, basecamp PJ2 masih ramai dikunjungi anak-anak muda yang ingin belajar. Mereka berlatih memainkan alat musik, mempelajari formasi barisan dan merawat kereta kuda. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
