Jumenengan Pakoe Boewono XIV Disaksikan Ribuan Orang

<i>Jumenengan</i> Pakoe Boewono XIV Disaksikan Ribuan Orang
SISKS Pakoe Boewono XIV mengucapkan sumpah dan sabda raja didampingi GKR Timoer Rumbay Kusuma Dewayani yang memegangi mic cadangan. Foto kedua, PB XIV duduk di singgasana watu gilang. Foto ketiga: PB XIV berjalan dari Siti Hinggil menuju Pagelaran untuk melaksanakan kirab.(pututwiryawan/koranbernas.id).
<i>Jumenengan</i> Pakoe Boewono XIV Disaksikan Ribuan Orang
<i>Jumenengan</i> Pakoe Boewono XIV Disaksikan Ribuan Orang

KORANBERNAS.ID, SURAKARTA – Tepat pukul 11.05, Sabtu, 15 November 2025 di Bangsal Manguntur Tangkil, Siti Hinggil, Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono XIV, Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama, menyampaikan ikrar dan sabda sebagai raja baru Kasunanan Surakarta. Mengenakan baju kebesaran warna ungu muda dipadu dengan kain jarik motif Parang Barong Ageng latar putih, Susuhunan Paku Buwono XIV menyampaikan ikrar dan sabda dalam bahasa Jawa. Ada tiga hal yang ia sampaikan.

Pertama, PB XIV menyatakan dirinya sebagai Sri Susuhunan yang akan memimpin Keraton Surakarta Hadiningrat dengan berlandaskan nilai-nilai Islam dan adat Jawa. Ia berjanji menjaga tata nilai dan paugeran yang diwariskan oleh para leluhur Mataram.

Kedua, PB XIV menegaskan komitmennya untuk mendukung NKRI dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia, akan ikut melaksanakan pembangunan nasional.

Ketiga, PB XIV berikrar untuk menjaga dan melestarikan budaya, tradisi, dan pusaka Keraton Surakarta sebagai bagian dari warisan Mataram Islam. Ia menyebut bahwa Keraton bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi juga pusat kebudayaan dan spiritualitas Jawa.

Ribuan kerabat keraton dan undangan yang memenuhi Siti Hinggil dan Pagelaran di depan Siti Hinggil, mendengarkan sabda raja dengan khidmat.

Gamelan pusaka Kangjeng Kyai Banjir.

Begitu Paku Buwono XIV selesai menegaskan sikapnya, gamelan pusaka Kangjeng Kyai Monggang Carabalen dari Bangsal Angun-angun di sebelah timur Siti Hinggil  menggaungkan Gendhing Monggang. Disusul kemudian gamelan pusaka Kangjeng Kyai Banjir di sebelahnya membunyikan gendhing Kodhok Ngorèk. Kedua perangkat gamelan pusaka itu hanya terdiri dari beberapa instrumen, seperti bonang, satu kenong, gong dan kendang.

SISKS Pakoe Boewono XIV kemudian berjalan beberapa langkah ke belakang untuk duduk di singgasana watu gilang yang ditutup kain beludru warna merah berpadu sulaman benang warna emas dengan tulisan “PB XII”. Artinya, PB XIV menggunakan kain beludru peninggalan sang kakek.

Singgasana raja ikut dikirab dari Bangsal Kemandungan menuju Siti Hinggil. (pututwiryawan/koranbernas.id).

Mengaku puas

Ketua Panitia Jumenengan, GKR Timur Rumbay Kusuma Dewayani, yang juga kakak sulung PB XIV lain ibu, mengaku puas dengan pelaksanaan acara jumenengan yang berlangsung lancar tanpa hambatan. Ia mengatakan hal itu kepada wartawan, usai melepas kirab PB XIV di depan Pagelaran.

Ketika ditanya mengapa tidak ikut kirab, GKR Timoer berujar, “Saya kan harus menemui tamu-tamu di Sasana Handrawina. Mosok saya tinggal!”

Ia menjelaskan, seluruh prosesi jumenengan sejak dari kegiatan pertama masuk ke Dalem Ageng, sampai kirab berlangsung lancar. Tentang kegiatan Susuhunan di Dalem Ageng selama hampir satu jam, GKR Timoer tidak bisa menjelaskan rinci.

“Di Dalem Ageng itu acara tertutup. Tidak untuk konsumsi publik. Tapi intinya, Sinuhun bersemadi untuk memohon restu dari para leluhur. Sampun njih...,” katanya sambil berjalan menuju Sasana Handrawina.

Sekalipun berlangsung khidmat dan lancar, disaksikan ribuan orang, tetapi di deretan tamu undangan tidak terlihat Sultan HB X dan Paku Alam X yang juga sudah diundang. Pun tidak nampak hadir Gubernur Jawa Tengah serta Walikota Solo. Demikian pula tidak nampak hadir Mahamenteri Kangjeng Panembahan Agung Tedjowulan, Gusti Moeng dan KGPH Hangabehi yang dua hari sebelumnya dinobatkan dalam pertemuan keluarga oleh Lembaga Dewan Adat pimpinan Gusti Moeng.

Nampak hadir, dua paman PB XIV atau putera PB XII. Mereka adalah KGPH Dipokusumo dan KGPH Benowo.

Hukum tertinggi

Salah seorang sentana dalem, yang mengaku sangat dekat dengan almarhum PB XIII, KPH Adipati Hari Sulistyono Sosronegoro kepada koranbernas.id mengatakan, di dalam sistem monarki Jawa, sabda atau keputusan raja yang berkuasa adalah hukum tertinggi. Paugeran adat tidak lebih tinggi dari sabda raja.

KPH Adipati Hari Sulistyono Sosronegoro (tengah) bersama keluarga. (pututwiryawan/koranbernas.id).

Karena itu, kata Adipati Hari Sulistyono, ketika almarhum PB XIII pada peringatan ke-18 jumenengan, 27 Februari 2022 menetapkan permaisuri dan putera mahkota, itu tidak bisa diganggu gugat. Semua kerabat, sentana dalem, abdi dalem Kasunanan Surakarta harus tunduk pada keputusan PB XIII. “Keputusan itu mengikat secara adat, tidak bisa diganggu gugat,” katanya.

Ketika dimintai tanggapan atas sikap dan langkah Ketua Lembaga Dewan Adat GKR Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng, KPH Adipati Hari Sulistyono mengatakan, “Beliau dari dulu kan begitu. Kalau saya ya tidak kaget.”

Seorang kerabat dari PB IV, keturunan ketujuh, Kangjeng Raden Arya Panji Mangkuwijaya kepada koranbernas.id mengatakan, konflik di internal keraton, lebih bermotif ekonomi. Kerabat yang mendukung Gusti Moeng memang lebih banyak dari kelompok pendukung Sunan Paku Buwono XIV yang hari ini jumenengan. Meski kalah pendukung, legitimasi KGPH Puruboyo menjadi pewaris takhta sangat kuat karena sudah diangkat sebagai putera mahkota.

Aturan adat dalam acara jumenengan, katanya, sudah ada tatacara busana. Semua kerabat harus memakai pakaian adat jawa Surakarta. Tidak bisa sembarangan hanya memakai batik. “Kalau menurut paugeran adat acara penobatan Sunan harus didepan kerabat yang memakai pakaian adat. Lha kemarin, KGPH Mangkubumi naik takhta, menyebut dirinya PB XIV semua yang datang pakai batik. Itu melanggar,” kata Mangkuwijaya.

Seperti diberitakan kemarin, Mahamenteri Kangjeng Gusti Panembahan Agung Tedjowulan mereka terjebak dalam acara yang diselenggarakan di Sasana Handrawina. Tedjowulan mengundang keluarga PB XII dan PB XIII untuk rapat koordinasi dan berembug soal suksesi. Namun, menjelang rapat berakhir, Gusti Moeng menambah acara penobatan KGPH Mangkubumi (Hangabehi) sebagai PB XIV.

Alasan yang selalu dikemukakan Gusti Moeng, KGPH Hangabehi adalah anak lelaki tertua PB XIII. Ketua Lembaga Dewan Adat ini tidak pernah mau mengakui istri PB XIII sebagai permaisuri dan KGPH Puruboyo sebagai putera mahkota. Padahal, dhawuh dalem PB XIII soal permaisuri dan putera mahkota, berlangsung dalam acara formal, peringatan ke-18 jumenengan PB XIII pada 27 Februari 2022. (*)