Ari Lasso Mengenakan Kaos “Free Palestine”, KLa Project Tutup Prambanan Jazz 2026

Saya memiliki darah keturunan dari pengurus Nahdlatul Ulama. Apa mungkin saya tidak menginginkan Palestina merdeka.

Ari Lasso Mengenakan Kaos “Free Palestine”, KLa Project Tutup Prambanan Jazz 2026
Ari Lasso tampil di Guyub Stage pada malam puncak Prambanan Jazz Festival 2026 di kompleks Candi Prambanan, Sleman, Minggu (5/7/2026). (anggarakzza rayyi untuk koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Malam terakhir Prambanan Jazz Festival (PJF) 2026 di kawasan Candi Prambanan, Minggu (5/7/2026), lebih dari sekadar pertunjukan musik. Ribuan penonton yang memadati area festival disuguhi aksi spontan di atas panggung, pesan kemanusiaan hingga kolaborasi musik modern dengan budaya Jawa yang menutup rangkaian festival selama tiga hari.

Mengusung tema Celebrate the Joy, penyelenggaraan tahun ini kembali ditampilkan musisi lintas generasi di tiga panggung utama yakni Rukun Stage, Guyub Stage dan Langgam Lounge. Sejak sore, arus penonton terus berdatangan memenuhi kawasan Candi Prambanan untuk menyaksikan puluhan penampil nasional maupun internasional.

Puncak perhatian malam itu tertuju pada penampilan Ari Lasso di Guyub Stage sekitar pukul 20:30. Mengenakan kaos putih bertuliskan Free Palestine, mantan vokalis Dewa 19 tersebut membuka penampilannya dengan lagu-lagu yang telah akrab di telinga penikmat musik Indonesia, seperti Cinta 'Kan Membawamu Kembali, Kangen, Satu hingga Separuh Nafas. Hampir di setiap lagu, ribuan penonton ikut bernyanyi bersama.

Pilihan busana Ari menjadi perhatian tersendiri. Dalam beberapa waktu terakhir, namanya sempat menjadi perbincangan di sosial media setelah unggahan lama mengenai kunjungannya ke Israel kembali beredar dan memunculkan beragam tanggapan dari warganet.

Di tengah penampilannya, Ari menyampaikan pesan yang menegaskan sikapnya mengenai isu kemanusiaan di Palestina. "Saya memiliki darah keturunan dari pengurus Nahdlatul Ulama. Apa mungkin saya tidak menginginkan Palestina merdeka? Kita jangan pernah dipecah belah, karena Tuhan hanya satu," kata Ari yang langsung disambut tepuk tangan penonton.

Sinden dan gamelan saat KLa Project menutup rangkaian Prambanan Jazz Festival 2026 di kompleks Candi Prambanan, Sleman, Minggu (5/7/2026) dengan lagu Yogyakarta. (anggarakzza rayyi untuk koranbernas.id)

Pesan tersebut kemudian disambung dengan intro lagu Satu milik Dewa 19. Ribuan penonton kembali larut menyanyikan setiap bait lagu yang malam itu terasa selaras dengan pesan persatuan yang baru saja disampaikan Ari.

Suasana kembali mencair ketika Ari menyoroti monitor penghitung waktu (countdown timer) yang dipasang di depan panggung. Menurutnya, keberadaan alat tersebut membuat musisi terlalu terpaku pada durasi penampilan.

"Mas Anas, besok-besok jangan pasang monitor timer depan panggung seperti ini ya. Ini bikin penyanyinya jadi makin capek karena terus dikejar waktu," ujarnya disambut gelak tawa penonton.

Tak lama kemudian Ari spontan mencabut konektor monitor tersebut. Aksi itu langsung memancing sorakan penonton. Tanpa lagi melihat hitungan waktu, dia melanjutkan penampilannya hingga hampir 50 menit dengan mengajak penonton bernyanyi bersama.

Pendiri Prambanan Jazz Festival, Anas Syahrul Alimi, menanggapi aksi tersebut dengan santai. "Ari kesenengen saat tampil dan melihat antusiasme penonton, 50 menit lho dia nyanyi" ujar Anas.

Usai penampilan Ari Lasso, Guyub Stage berganti nuansa saat Maliq & D'Essentials naik panggung. Berbeda dengan Ari yang banyak berinteraksi dengan penonton, Angga Puradiredja dan personel lainnya memilih langsung memainkan lagu demi lagu tanpa banyak berbincang. Permainan musik yang memadukan pop, jazz, soul dan funk membuat ribuan penonton terus bergoyang mengikuti irama hingga akhir pertunjukan.

Paling berkesan

Menjelang tengah malam, giliran KLa Project menutup rangkaian festival. Trio Katon Bagaskara, Romulo "Lilo" Radjadin dan Adi Adrian tampil membawakan sejumlah lagu yang telah menjadi bagian dari perjalanan musik Indonesia.

Momen paling berkesan hadir ketika KLa Project membawakan lagu Yogyakarta. Lagu tersebut diaransemen secara khusus dengan menghadirkan instrumen gamelan dan sindhen sehingga menciptakan perpaduan musik modern dengan tradisi Jawa di pelataran Candi Prambanan. Penonton pun ikut menyanyikan lagu itu hingga bait terakhir sebelum tepuk tangan panjang menutup seluruh rangkaian festival.

Direktur Prambanan Jazz Festival, Tovic Raharja, mengatakan antusiasme masyarakat terhadap penyelenggaraan tahun ini tercermin dari penjualan tiket. Selama tiga hari pelaksanaan, sebanyak 85 ribu penonton tercatat hadir berdasarkan data penjualan tiket.

Capaian tersebut kembali menegaskan posisi Prambanan Jazz sebagai salah satu festival musik terbesar di Indonesia yang tidak hanya menampilkan deretan musisi lintas generasi, tetapi juga memadukan pertunjukan musik dengan kekayaan budaya di kawasan warisan dunia Candi Prambanan. (*)