Beragam Etnis Akui Nyaman Tinggal di Purworejo
KORANBERNAS.ID, PURWOREJO - Perwakilan tujuh etnis yang tinggal di Kabupaten Purworejo mengaku merasa aman, nyaman, dan diterima selama menetap di Purworejo.
Pengakuan itu mengemuka dalam Dialog Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Purworejo di Pendopo Hotel Ganesha, Selasa (23/6/2026).
Forum bertema Membangun Jati Diri Bangsa melalui Penguatan Nilai-nilai Pancasila itu dihadiri perwakilan suku Jawa, Batak, Bugis, Madura, Minangkabau, Banyumasan, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dalam sesi dialog, sejumlah peserta dari luar Jawa mengungkapkan telah tinggal di Purworejo selama puluhan tahun.
Mereka menilai kehidupan masyarakat di Purworejo berlangsung harmonis tanpa adanya diskriminasi maupun persekusi berdasarkan latar belakang etnis.
Temuan tersebut mendapat perhatian Kepala Kesbangpol Purworejo Puguh Trihatmoko. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi modal penting untuk menjaga persatuan di tengah tantangan perkembangan teknologi informasi.
"Arus informasi di media sosial saat ini sangat deras sehingga masyarakat harus mampu menyaring setiap informasi yang diterima. Hoaks dapat dengan cepat memicu perpecahan apabila langsung dipercaya tanpa verifikasi," kata Puguh.
Asisten I Setda Purworejo Ahmad Jainudin yang mewakili Bupati Purworejo saat membuka acara menegaskan bahwa keberagaman harus dipandang sebagai kekuatan bangsa.
"Keberagaman itu kekuatan, bukan kelemahan. Pancasila adalah jati diri kita dan tetap relevan kapan pun. Jadikan Pancasila sebagai pedoman dalam berpikir dan bertindak sehari-hari. Perbedaan suku dan budaya jangan sampai menjadi alat untuk memecah belah," tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga toleransi dan kerukunan antarumat beragama.
"Kerukunan antarumat beragama wajib dijaga. Jangan mencampuradukkan urusan agama karena berpotensi menjadi pemicu konflik," ujarnya.
Pegiat muda Purworejo, Slamet Riyadi atau Memet, menilai persatuan merupakan modal utama untuk mendorong kemajuan daerah.
"Kalau Purworejo ingin maju dan ekonominya berkembang, kuncinya adalah guyub rukun. Pancasila jangan hanya dihafal, tetapi harus menjadi pegangan dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa, terutama di tengah tantangan krisis identitas yang dihadapi generasi muda," ujarnya.
Sementara itu, Ketua FPK Purworejo Gus Mustakim mengajak seluruh elemen masyarakat terus merawat kerukunan dan memperkuat kebersamaan.
"Mari terus guyub rukun. Jika kita kompak, Indonesia akan menjadi bangsa yang hebat," ujarnya saat menutup forum. (*)
Wahyu Nur Asmani EW
