Dosen dari Jerman Terpesona pada Sekolah SALAM, Belajar Menumbuhkan Manusia
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Di tengah persawahan Nitiprayan, Bantul, anak-anak Sekolah Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta tampak sibuk mendalami riset mereka. Ada yang menulis di buku, ada pula yang mencatat di tanah sambil bercakap ringan dengan fasilitator.
Di antara mereka, berdiri beberapa tamu dari jauh, salah satunya Kordula Schulze, akademisi dari Universitas Münster, Jerman sedang memperhatikan dengan takjub.
“Di sini saya melihat anak-anak belajar bukan karena disuruh, tapi karena ingin tahu,” katanya pelan, matanya mengikuti gerak siswa-siswa SALAM yang sedang bermain di halaman.
Schulze datang ke Indonesia bukan untuk berlibur. Ia tengah melakukan observasi lintas negara untuk mencari inspirasi dalam pengembangan pelatihan guru di Eropa — terutama tentang bagaimana sekolah bisa membangun anak-anak yang kritis, peka terhadap isu global dan mampu berdialog lintas budaya.
“Kami tertarik dengan konsep sekolah alternatif seperti di Sekolah SALAM. Kami ingin menemukan cara baru dalam pelatihan guru dan pendidikan yang mendorong anak memahami isu-isu seperti lingkungan dan demokrasi,” ujarnya, Selasa (28/10/2025).
Bagi Kordula, kunjungan ini membuka perspektif baru. Di Jerman, ia terbiasa melihat sekolah-sekolah dengan struktur ketat dan kurikulum yang seragam. SALAM berbeda. Tidak ada jadwal pelajaran yang mengikat, tidak ada ujian yang menekan, dan tidak ada guru yang berdiri sebagai pusat pengetahuan.
“Sekolah SALAM tidak terikat pada kurikulum nasional. Siswa diberi ruang untuk menemukan cara belajar mereka sendiri. Kami melihat hal serupa di salah satu sekolah di Jogja, tapi di SALAM penerapannya lebih kuat dan menyeluruh," ujarnya.
Kordula lalu membandingkan dengan konsep pendidikan alternatif di negaranya — Montessori atau Freie Waldorf — yang meski dihargai, masih belum menjadi arus utama (mainstream) di sistem pendidikan Jerman.
“Sekolah alternatif di Jerman sangat dihormati, tapi jumlahnya sedikit. Karena itu kami datang ke Indonesia untuk melihat praktik berbeda yang bisa menjadi inspirasi pendidikan guru di Eropa,” tuturnya.
Dialog yang Menyambung Dunia
Kunjungan Kordula dan rombongan Universitas Münster ini tidak hanya menjadi ruang belajar bagi mereka, tapi juga bentuk dialog antarbangsa tentang pendidikan yang memanusiakan manusia.
Bagi Kordula, pertemuan itu bukan sekadar observasi, tetapi juga refleksi atas sistem pendidikan global yang semakin kehilangan sisi kemanusiaannya.
“Saya melihat semangat di SALAM yang tidak mudah ditemukan di sekolah mana pun — keberanian untuk percaya bahwa setiap anak punya jalannya sendiri untuk belajar,” katanya.
Belajar dari Riset, bukan dari Buku
Di ruang yang sama, Budi S. Gemak, fasilitator SALAM, menjelaskan bahwa sistem belajar di sekolah ini berangkat dari riset dan pengalaman anak, bukan dari buku teks.
“Anak-anak di sini tidak dibatasi oleh mata pelajaran. Mereka belajar dari pengalaman, dari hal-hal yang mereka temui sehari-hari,” kata Budi.
Ia mencontohkan seorang murid SMA bernama Mikael, yang meneliti sejarah keluarganya sendiri.
“Kakek buyutnya sedang diperjuangkan menjadi pahlawan nasional. Dari situ, ia tertarik meneliti sejarah pascakemerdekaan. Ia mencari data, menulis, dan mempresentasikannya. Semua lahir dari rasa ingin tahu,” ujar Budi.
Proses seperti ini, kata Budi, tidak mungkin terjadi di sekolah formal.
“Kalau sekolah formal itu deduktif — kurikulum disiapkan oleh para ahli lalu disampaikan ke murid. Di SALAM, prosesnya induktif: anak memulai dari pengalaman, lalu mengolahnya menjadi pengetahuan,” jelasnya.
Metode bottom-up inilah yang membuat tamu dari Jerman itu terpukau.
“Mereka excited melihat bagaimana anak bisa menemukan pengetahuan dari pengalaman sendiri. Ini bukan teori, tapi praktik hidup,” kata Budi. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
