Rumah yang Tak Selalu Berdinding, TEMPA dan Paku Mas Merawat Memori Lewat Seni
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Rumah tak selalu berupa bangunan. Bukan pula sekadar alamat. Kadang yang membuat seseorang kembali adalah perasaan yang pernah ditinggalkan di sana, seperti rasa aman, rasa nyaman, atau sekadar perasaan seperti pulang ke rumah.
Gagasan itulah yang dipertemukan oleh kolektif seni TEMPA dan Paku Mas Hotel Yogyakarta melalui pameran bertajuk Jejak Rumah dan Memori. Bersama dua seniman TEMPA, hotel ini menghadirkan pameran instalasi dengan konsep bahwa rumah bukan sekadar bangunan fisik berdinding dan beratap.
Rumah adalah ruang yang menyimpan pengalaman, kenangan, identitas, dan hubungan emosional seseorang dengan tempat-tempat yang pernah disinggahinya.
Pemahaman itu tumbuh dari praktik artistik dua seniman Yogyakarta yang juga pasangan suami istri, Putud Utama dan Rara Kuastra, yang sejak 2015 konsisten mengolah pengalaman personal dan keseharian menjadi bahasa visual yang puitis dan intim melalui lukisan, mural, maupun instalasi.
Putud dalam pembukaan pameran, Jumat (3/7/2026) sore, mengatakan sembilan karya dipamerkan di berbagai sudut hotel, mulai dari lobi, restoran, hingga lounge.
"Pengunjung tidak menemukannya di dalam kamar, melainkan di ruang-ruang yang memungkinkan orang berhenti sejenak, memperhatikan, lalu berdialog dengan karya-karya tersebut," jelasnya.
Namun, pameran ini sesungguhnya hanyalah awal. Di balik mini showcase tersebut, TEMPA juga sedang menyiapkan sebuah instalasi khusus yang nantinya akan menjadi artefak permanen di area hotel.
Instalasi tersebut akan menggabungkan cerita tentang hotel, para pekerjanya, hingga tamu-tamu yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan Paku Mas.
Karya tersebut akan mengambil inspirasi dari salah satu bagian bangunan hotel yang masih menyimpan jejak gempa Yogyakarta tahun 2006.
Bagian bangunan yang tidak sepenuhnya dipugar itu selama ini dipertahankan sebagai pengingat atas peristiwa yang pernah mengguncang kota.
Bagi TEMPA, jejak itu bukan sekadar kerusakan bangunan, melainkan bagian dari memori yang membentuk identitas sebuah tempat.
"Sebagaimana rumah yang tak pernah hanya terdiri dari tembok dan pintu, sebuah kota pun tidak hanya dibangun oleh gedung-gedungnya, melainkan oleh cerita-cerita yang tinggal di dalamnya," paparnya.
Rara menambahkan, melalui pendekatan visual pop surrealism, TEMPA menghadirkan karya-karya yang terasa akrab sekaligus menyimpan lapisan makna yang dalam.
"Pengunjung diajak berhenti sejenak untuk mengingat kembali hubungan mereka dengan rumah, dengan masa lalu, dan dengan ruang-ruang yang pernah memberi mereka rasa aman," paparnya.
Di tengah Yogyakarta yang setiap pertengahan tahun berubah menjadi panggung besar seni melalui berbagai agenda pameran dan festival, kolaborasi ini menghadirkan sesuatu yang berbeda.
Hotel tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat singgah. Ia berubah menjadi ruang budaya, tempat perjumpaan, dan tempat memori dirawat bersama.
Sebab, pada akhirnya, rumah memang tidak selalu berdinding. Kadang ia hadir dalam sebuah hotel yang mengingat nama tamunya.
Kadang ia tinggal dalam retakan bangunan yang memilih untuk tidak melupakan sejarahnya.
"Dan kadang, rumah hadir dalam sebuah karya seni yang membuat seseorang berhenti sejenak dan merasakannya," ujarnya.
Menariknya, gagasan tentang rumah itu ternyata memiliki irisan yang kuat dengan identitas Paku Mas Hotel. Selama bertahun-tahun, pihak hotel mengaku mendapatkan kesan yang hampir seragam dari para tamunya, yakni suasana yang terasa seperti rumah sendiri ketika berada di Yogyakarta.
Karena pengalaman itulah, sejak 2015 hotel tersebut menggunakan tagline "Rumah Anda di Jogja."
"Kami banyak mendapatkan cerita dari tamu-tamu yang kembali lagi karena suasananya seperti rumah," ungkap owner Paku Mas Hotel, Leobert Sundriyo.
Kesamaan cara pandang itulah yang kemudian melahirkan kolaborasi antara ruang perhotelan dan seni rupa, termasuk dalam pengembangan proyek instalasi bekas gempa 2006 di hotel tersebut.
"Kami ingin mengingat peristiwa gempa di Jogja itu melalui instalasi di lobi yang tengah dirancang TEMPA," imbuhnya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
