Pusaka Berusia Ratusan Tahun Peninggalan Adipati Terakhir Loano Dijamas
KORANBERNAS.ID, PURWOREJO — Pusaka peninggalan Adipati terakhir Loano, Den Ngabehi Gagak Handoko, yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun, kembali dijamas.
Tradisi tahunan ini digelar di halaman Panepen (rumah menyepi) Gagak Handoko, Desa Loano, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Sabtu (27/6/2026) atau bertepatan dengan 10 Muharram atau 10 Sura.
Sekretaris Desa Loano, Erwan Widi Ashari, mengatakan tradisi jamasan rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai upaya melestarikan sekaligus merawat pusaka peninggalan leluhur.
"Hari ini warga pemangku Loano melakukan jamasan rutin tahunan Den Ngabehi Gagak Handoko. Beliau merupakan Adipati terakhir Loano yang memimpin sekitar tahun 1800 hingga 1830. Setelah Perang Jawa, wilayah Loano kemudian dilebur menjadi Purworejo," ujarnya di sela prosesi jamasan.
Erwan yang juga masih memiliki hubungan kekerabatan dengan trah Gagak Handoko menjelaskan, pusaka yang dijamas terdiri atas tiga tombak, dua keris, sejumlah aksesori pusaka seperti jimat, serta kuluk atau penutup kepala.
Menurutnya, tradisi jamasan tidak hanya menjadi bentuk pelestarian budaya, tetapi juga bagian dari perawatan benda-benda bersejarah.
Berkat perawatan yang dilakukan secara rutin, pusaka-pusaka tersebut masih terjaga dalam kondisi baik meski telah berusia ratusan tahun.
Ia berharap tradisi jamasan dapat terus dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah meninggalkan jejak sejarah bagi masyarakat Loano.
Prosesi jamasan dihadiri kerabat dan trah Adipati Gagak Handoko, pegiat budaya, serta mahasiswa KKN Universitas Gadjah Mada (UGM).
Salah seorang mahasiswa KKN UGM di Desa Loano, Bima Candra, mengaku bangga dapat menyaksikan langsung prosesi tersebut.
"Saya beruntung bisa menyaksikan jamasan pusaka karena tidak banyak orang yang mendapat kesempatan melihat proses perawatan pusaka leluhur," katanya.
Mahasiswa Fakultas Hukum UGM asal Surabaya itu mengaku takjub dengan tradisi yang masih terjaga.
Sebagai warga negara Indonesia keturunan Tionghoa, ia menilai ritual jamasan merupakan warisan budaya yang patut dipertahankan. (*)
"Ritual jamasan ini sangat luar biasa. Tidak banyak daerah yang masih memiliki pusaka yang tetap utuh dan dirawat seperti ini. Tradisi seperti ini layak dipertahankan," ujarnya.
Wahyu Nur Asmani EW
