Kepala SMA I Bopkri Yogyakarta, Sartana Meninggal dalam Tugas di Beijing
Keluarga besar BOSA mengadakan doa bersama
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Alumni Bosa Bersatu (ABB) dan seluruh Keluarga Besar SMA BOPKRI I (BOSA) Yogyakarta mengadakan doa bersama untuk mengenang almarhum Sartana, Kepala SMA BOSA yang meninggal saat menjalankan tugas sekolah di Beijing, China pada hari Kamis (3/7/2025) dan sampai dengan hari ini jenazah masih dalam proses pengiriman dari Beijing menuju Yogyakarta.
Suasana haru menyelimuti SMA BOSA pada Rabu (9/7/2025), saat Alumni Bosa dan Keluarga Besar SMA BOSA berkumpul di lobi depan sekolah untuk menggelar doa bersama. Doa bersama ini menjadi sarana bagi seluruh warga sekolah untuk mendoakan almarhum Sartana, sosok Kepala Sekolah dan pendidik terhormat yang telah meninggalkan kenangan mendalam di SMA BOSA.
Kegiatan doa bersama dipimpin Pendeta Caleb Hover Buntoro, tokoh agama sekaligus Alumni SMA BOSA. Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua Umum Alumni Bosa Bersatu (ABB) H. Budi Waljiman, yang menyampaikan rasa duka cita atas kepergian almarhum, selanjutnya dari pihak sekolah yang disampaikan Plt. Kepala Sekolah SMA BOSA Dr. Sri Sulastri dilanjutkan dengan perarakan dengan membawa lilin dan bunga untuk diletakkan di lobi SMA BOSA sebagai wujud tanda dukacita.
Doa bersama dihadiri oleh 150 alumni, guru, staf, perwakilan keluarga dan siswa SMA BOSA. Aura khidmat terasa seolah menjadi wadah bagi setiap doa yang dihaturkan untuk almarhum. Melalui doa bersama ini, diharapkan almarhum Sartana mendapatkan tempat yang layak disisiNya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
Dalam suasana kebersamaan yang sarat makna ini, beberapa Alumni SMA BOSA, menyampaikan cerita kenangan indah bersama almarhum. Hal ini mengingatkan bahwa SMA BOSA tidak hanya kehilangan Sartana, bukan hanya kehilangan seorang Kepala Sekolah, tetapi kehilangan pendidik, pemberi inspirasi dan pembimbing. Dalam acara tersebut terkumpul dana Tali Asih yang langsung diserahkan pada keluarga almarhum sebesar Rp. 8.2 juta. Doa bersama ini menjadi penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan dan mewujudkan rasa solidaritas di antara seluruh keluarga besar SMA BOSA. (*)
Anung Marganto
