Prambanan Jazz 2026 Pecahkan Rekor Pengunjung
Lonjakan pengunjung paling tinggi terjadi hari kedua mencapai sekitar 35 ribu orang.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Promotor Prambanan Jazz Festival (PJF) 2026 akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan penonton setelah festival tahun ini mencatat rekor kunjungan tertinggi sepanjang penyelenggaraan dengan total 85 ribu penonton selama tiga hari.
Founder Prambanan Jazz Festival, Anas Alimi, mengatakan lonjakan pengunjung paling tinggi terjadi pada hari kedua yang mencapai sekitar 35 ribu orang. Kepadatan penonton di depan panggung utama dipicu tingginya antusiasme terhadap penampilan para headliner, termasuk NIKI.
"Secara total, crowd di hari kedua mencapai 35.000 penonton. Ini menjadi data lapangan riil bagi kami untuk mengevaluasi kapasitas maksimal festival ini. Memang terjadi kepadatan tinggi di depan dan samping panggung saat headliner tampil, meskipun sebenarnya masih ada beberapa titik area yang kosong," ujar Anas dalam konferensi pers penutupan PJF 2026 di Prambanan, Minggu (5/7/2026).
Menurut Anas, salah satu evaluasi utama adalah masih banyaknya penonton reguler yang membawa tikar dan kursi lipat hingga ke depan panggung. Padahal, aturan hanya memperbolehkan penggunaan kursi lipat di zona khusus untuk bersantai.
"Ini masalah habit dan minimnya literasi. Aturannya sudah sangat jelas di mana tempat yang boleh membawa kursi lipat. Kami bahkan melakukan double check di pintu masuk super festival, tetapi beberapa penonton tetap meloloskannya melalui pagar. Ini menjadi bahan evaluasi ketat bagi kami," katanya.
Arus penonton
CEO Rajawali Indonesia, Tovic Raharja, mengatakan promotor langsung melakukan sejumlah penyesuaian sejak hari kedua setelah menerima berbagai masukan dari penonton. Di antaranya dengan menambah hampir 100 toilet portabel dan mengubah pengaturan arus penonton agar tidak terjadi penumpukan di satu titik.
"Kami tidak anti-kritik dan langsung melakukan tindakan taktis. Tata letak alur penonton juga kami evaluasi agar sisi kanan panggung yang sebelumnya kosong bisa lebih terisi," ujar Tovic.
Tahun depan, pihak promotor telah berkomunikasi dengan pengelola kawasan guna memperluas area festival, termasuk membuka peluang pemanfaatan kawasan hingga mendekati agar kapasitas dan kenyamanan penonton meningkat.
Di balik berbagai evaluasi tersebut, PJF 2026 juga dinilai memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi Yogyakarta. Berdasarkan data pembeli tiket, lebih dari 70 persen penonton berasal dari luar daerah.
"Berdasarkan data per ID pembeli tiket, lebih dari 70 persen penonton berasal dari luar kota Jogja. Dampaknya sangat besar terhadap perputaran ekonomi," kata Tovic.
Dia menambahkan, tingginya jumlah wisatawan selama festival berdampak pada tingkat okupansi hotel, penjualan tiket transportasi, hingga ramainya restoran dan rumah makan di Yogyakarta selama libur panjang. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
