Muhammadiyah Sapen Universal School Resmi Berdiri di Bantul
Mengusung konsep kelas eksklusif, setiap kelas dibatasi hanya untuk 28 peserta didik.
KORANBERNAS.ID, BANTUL – Dunia pendidikan dasar di Daerah Istimewa Yogyakarta kini memasuki babak baru. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, secara resmi meresmikan Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS), Sabtu (4/7/2026).
Prosesi peresmian berdirinya Lembaga Pendidikan itu ditandai menekan layar digital oleh Haedar Nashir, didampingi Ketua PWM DIY, PDM Kota Yogyakarta dan Bantul, Rektor UMY, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta Agung Rahmanto serta disaksikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Fajar Riza Ul-Haq.
Ketua Tim Pembangunan MSUS, Gita Danupranata, menjelaskan keberadaan Sekolah Dasar Berwawasan Global Berbasis Nilai Islam ini akan memberikan warna baru dan pilihan bagi masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta yang mendambakan institusi pendidikan dasar berkualitas tinggi.
Gedung sekolah itu berdiri di atas lahan seluas 8.200 meter persegi dengan total luas bangunan mencapai 4.497 meter persegi. Menariknya, gedung megah berlantai enam ini diselesaikan dalam kurun waktu kurang dari satu tahun dan dilengkapi teknologi lift paling modern yang dirancang khusus agar tetap berfungsi optimal meskipun dalam kondisi darurat kebakaran. Pembiayaan proyek tersebut bersumber dari sinergi PWM DIY, PDM Kota Yogyakarta, yang kemudian didukung oleh PDM Bantul serta berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Menurut dia, pendirian MSUS merupakan langkah strategis ekspansi layanan pendidikan melalui skema kelas jauh dari SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta yang telah terkenal. Gedung MSUS berlokasi di Jalan Brawijaya, Gatak Tamantirto Kasihan Bantul, atau tepat berada di kawasan strategis sebelah timur Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Gedung MSUS di Bantul berdiri megah di atas lahan 8.200 meter persegi. (sholihul hadi/koranbernas.id)
MSUS dikembangkan dengan visi global yang adaptif melalui perpaduan harmonis antara Kurikulum Nasional dan pendekatan internasional. Meski berkiblat global, sekolah ini tetap memegang teguh akar nilai-nilai Islam, Kemuhammadiyahan, kebangsaan serta kekayaan budaya Indonesia.
Menurutnya, sekolah ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern terhadap model pendidikan dasar yang dinamis. MSUS dirancang agar fleksibel terhadap perkembangan zaman, namun tetap kokoh dalam membentuk fondasi karakter dan moral peserta didik.
Agung Rahmanto menambahkan, Tahun Ajaran 2026/2027 akan menjadi penanda dimulainya pembelajaran perdana di MSUS, yang dijadwalkan serentak mengikuti kalender pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin, 13 Juli 2026.
Pada fase awal operasionalnya, MSUS meluncurkan dua rombongan belajar (rombel) utama, yakni untuk jenjang kelas I dan kelas III, yang masing-masing dibagi ke dalam dua kelas paralel. Manajemen sekolah berkomitmen untuk mengembangkan kapasitas rombel ini secara bertahap seiring kesiapan sarana, ketersediaan tenaga pendidik, serta tren pertumbuhan jumlah siswa.
Ke depan, pihak sekolah memancangkan target ambisius untuk menyediakan dua kelas paralel pada setiap jenjang, mulai dari kelas I hingga VI, dengan total 12 rombongan belajar. Mengusung konsep kelas eksklusif, setiap kelas dibatasi hanya untuk 28 peserta didik, sehingga kapasitas maksimal sekolah diproyeksikan mampu menampung hingga 336 siswa.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan keterangan pers usai peresmian MSUS, Sabtu (4/7/2006). (sholihul hadi/koranbernas.id)
Disebutkan, keunggulan komparatif utama yang diusung MSUS terletak pada integrasi kurikulumnya, yang mempertemukan Kurikulum Nasional dengan praktik-praktik terbaik dunia melalui Cambridge Curriculum dan International Baccalaureate (IB).
Melalui pengayaan program Cambridge, siswa akan diasah secara intensif pada penguatan aspek kebahasaan, matematika serta sains lewat pemanfaatan sumber belajar standar internasional. Adopsi pendekatan IB diaplikasikan untuk memperkokoh budaya belajar berbasis inkuiri (inquiry-based learning), pembentukan karakter pembelajar, keterampilan refleksi, kemampuan komunikasi dan perluasan wawasan global.
Tidak hanya itu, proses transformasi ilmu di MSUS turut mengadopsi berbagai metodologi mutakhir seperti deep learning, project-based learning, problem-based learning, STEAM, coding, literasi digital, pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), serta global & digital citizenship. Seluruh kerangka modern tersebut dikawinkan secara utuh dengan pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, program tahfid Al Quran, Bahasa Arab, hingga penguatan kearifan lokal Yogyakarta.
Komitmen terhadap pelestarian kebudayaan lokal tidak ditinggalkan. Sekolah tetap mewajibkan muatan lokal berupa pembelajaran Bahasa Jawa, seni tari, karawitan, membatik hingga cerita rakyat.
Sedangkan Ketua PWM DIY, Ikhwan Ahada, dalam sambutannya mengatakan setiap kontribusi, baik yang tampak maupun tidak, akan dicatat sebagai amal jariyah yang terus mengalir. Dia menambahkan bahwa operasional resmi tahun ajaran baru 2026/2027 akan segera digulirkan 13 Juli mendatang.
Sesi foto bersama saat peresmian MSUS. (sholihul hadi/koranbernas.id)
Sementara itu, kepada awak media seusai peresmian dilanjutkan peninjauan ruang-ruang kelas, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengungkapkan kekagumannya atas peresmian gedung tersebut. Dia menyatakan MSUS merupakan mata rantai penting dari pengembangan SD Muhammadiyah Sapen yang dirancang khusus dengan standar internasional.
"Kami, atas nama PP Muhammadiyah, sangat menghargai inisiatif, kehendak, sekaligus kesungguhan dari seluruh jajaran pimpinan dan keluarga besar SD Muhammadiyah Sapen, serta Pimpinan Daerah dan Pimpinan Wilayah yang berhasil melahirkan sekolah unggulan ini untuk bertransformasi menjadi Muhammadiyah Sapen Universal School," ujar Haedar Nashir.
Menurutnya, peresmian ini menandai sebuah tonggak penting atas tiga alasan utama. Pertama, dunia pendidikan modern menuntut adanya pendekatan holistik yang menyentuh seluruh aspek, mulai dari ekosistem lingkungan, sarana-prasarana penunjang, hingga totalitas proses pembelajaran yang kini berhasil diwujudkan secara utuh di kampus ini.
Poin kedua berkaitan dengan tingginya animo masyarakat terhadap reputasi SD Muhammadiyah Sapen sebagai sekolah favorit, yang bahkan memicu antrean panjang (indent) hingga bertahun-tahun ke depan. Mengingat keterbatasan daya tampung di kampus Sapen Timur, kampus baru di Bantul ini menjadi jawaban konkret Muhammadiyah mewujudkan prinsip inklusivitas pendidikan untuk semua kalangan.
Haedar mengakui tantangan pendidikan nasional saat ini sangat berat, terutama daya saing SDM yang masih tertinggal di level ASEAN. Melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh ini, dia berharap MSUS dapat menjadi representasi gerakan fastabiqul khairat demi mendongkrak mutu sekolah agar mampu berbicara banyak di level regional ASEAN hingga internasional.
Amanat konstitusi
Ketiga, keterbatasan pemerintah yang tidak mungkin berjalan sendiri dalam menuntaskan amanat konstitusi mencerdaskan bangsa. Di sinilah peran vital organisasi kemasyarakatan berbasis keagamaan diuji untuk mengambil tanggung jawab kebangsaan secara tulus tanpa melulu berorientasi pada keuntungan materiil semata.
"Kami tidak berpikir soal kapital, kami berpikir soal tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa. Itu komitmen kami, yang dibuktikan lewat pembangunan terintegrasi mulai dari SD Muhammadiyah Sapen, TK ABA Semesta, UMY, UAD, Unisa, Universitas Siber, hingga jaringan rumah sakit di kawasan 3T," jelasnya.
Haedar mengingatkan esensi utama dari penyelenggaraan pendidikan bukanlah masalah perebutan jabatan, kekuasaan ataupun materi melainkan sebuah amanah kemanusiaan untuk mendidik anak manusia agar tumbuh menjadi pribadi yang utuh, unggul dalam takwa, rohani, kecerdasan intelektual, keahlian praktis, sekaligus memiliki empati sosial yang kuat.
Dia menyatakan peresmian MSUS bukanlah titik akhir, melainkan gerbang awal dari transformasi besar pendidikan Islam berkemajuan yang memadukan penguatan iman dan kemajuan peradaban. (*)
---
