Seorang Kades di Purworejo Buka Kursus Bahasa Jepang untuk Warganya
Agar mereka punya penghasilan besar. Ini cara saya untuk mengentaskan kemiskinan.
KORANBERNAS.ID, PURWOREJO – Sebagai upaya memberikan kesempatan warganya yang ingin bekerja ke Negeri Sakura, seorang kepala desa (kades) di Kabupaten Purworejo membuka kursus bahasa Jepang.
Dia adalah Supono. Kades Kunir Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo itu menggunakan rumahnya untuk tempat belajar.
Dirinya memang memberikan kesempatan bagi warga Desa Kunir dan sekitarnya yang ingin belajar Bahasa Jepang sebagai salah satu bekal bekerja di negara itu.
“Saya membantu buka kursus bahasa Jepang agar mereka punya penghasilan besar. Ini cara saya untuk mengentaskan kemiskinan," kata Supono di kantor desa, Kamis (2/7/2026).
Pihaknya mendatangkan guru bahasa Jepang (sensei) lulusan Sastra Jepang Universitas Brawijaya Malang. Kursus sudah dimulai sejak Januari 2026 hingga saat ini.
"Kami juga melakukan kerja sama dengan SO Momiji Gakuen Japanese School And Training Center yang berkedudukan di Kabupaten Batang Jawa Tengah, untuk menyalurkan tenaga kerja ke Jepang," tambahnya.
Menurutnya, kursus bahasa Jepang total ada 50 bab, meliputi hiragana, katakana dan kanji. Jika siswa sudah menyelesaikan 25 bab, sudah layak mendapat job kerja di Jepang.
"Kami memberikan kursus ini tujuannya bagi yang mau ke Jepang biar belajar bahasa dahulu. Setelah itu baru mencari job lewat SO Momiji Gakuen. Hal ini bisa menekan biaya," jelas Pono.
Kades Kunir Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo, Supono. (wahyu nur asmani ew/koranbernas.id)
Di tempat kursus itu terdapat 20 siswa yang belajar setiap Senin hingga Jumat pukul 15:00 hingga 17:00. Ada juga kelas malam. Adapun biaya per siswa Rp 700 ribu.
"Saat ini sudah ada empat siswa proses menunggu job di SO Momiji Gakuen, dua orang hari ini proses mendaftar ke SO Momiji. Dan rencananya minggu depan, kami akan mengirimkan delapan siswa untuk mendaftarkan ke SO Momiji," ungkapnya.
“Warga yang kerja di sana dengan pola hidup sederhana pasti pulang membawa uang yang cukup, bisa beli sawah atau buka usaha," lanjutnya.
Guru Bahasa Jepang, Aprilda Para Fibrian Yales, mengatakan pihaknya mengajar bahasa Jepang sejak 18 Januari 2026 hingga saat ini.
Menurutnya, yang perlu dipelajari siswa adalah tata bahasa, kalimat, kosa kata dan interview. Siswa juga diminta menghafal kosa kata.
"Minasang (siswa) yang belajar bahasa Jepang harus sabar dan konsisten. Bagi siswa harus bisa membagi waktu dengan baik, porsi belajar bahasa Jepang diperbanyak, minimal belajar 60 persen," harapnya.
Sementara itu, salah seorang siswi, Isnaeni Susiati Latifah, dari Desa Kemiri menyatakan motivasi belajar bahasa Jepang karena ingin bekerja di Jepang di sektor pengolahan makanan atau perhotelan.
Selama belajar bahasa Jepang dia merasa kesulitan menghafal kosa kata dan kanji. Sedangkan baca tulis hiragana dan katakana merasa mampu.
"Saya berterima kasih untuk guru yang sabar dalam membimbing selama belajar. Untuk teman-teman semangat menghafal kosa kata, karena butuh waktu dan telaten," ujarnya. (*)
Wahyu Nur Asmani EW
