Garebeg Besar Tahun Ini Digelar Sederhana, Simbol Syukur dan Kepedulian Sosial

Perubahan bentuk Garebeg sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah panjang Keraton Yogyakarta.

Garebeg Besar Tahun Ini Digelar Sederhana, Simbol Syukur dan Kepedulian Sosial
Dokumentasi pelaksanaan Garebeg saat pandemi. Abdi dalem Keraton Yogyakarta membawa ubarampe. (dok. keraton yogyakarta)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Tradisi Hajad Dalem Garebeg Besar di Keraton Yogyakarta pada peringatan Idul Adha 1447 Hijriah tahun ini dikemas berbeda. Tidak ada kirab gunungan keluar keraton maupun iring-iringan prajurit seperti tahun-tahun sebelumnya.

Namun di balik penyederhanaan tersebut, Keraton Yogyakarta justru ingin menegaskan nilai utama Garebeg sebagai simbol syukur, kesederhanaan dan kepedulian sosial di tengah situasi ekonomi yang masih penuh tantangan.

Raja Keraton Yogyakarta sekaligus Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyebut keputusan penyederhanaan diambil sebagai bentuk empati terhadap kondisi masyarakat dan semangat efisiensi yang saat ini juga diterapkan pemerintah pusat maupun daerah.

Meski tanpa kemeriahan kirab prajurit dan rebutan gunungan di kawasan Alun-alun Utara hingga Masjid Gedhe Kauman, pelaksanaan Garebeg Besar tetap berlangsung khidmat di dalam lingkungan keraton, Rabu (27/5/2026). Seluruh prosesi inti tetap dijalankan oleh para abdi dalem sesuai pakem budaya yang berlaku.

Rasa syukur

Langkah ini dinilai menjadi penegasan bahwa nilai utama Garebeg bukan semata atraksi budaya, melainkan wujud sedekah Raja kepada rakyat dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Wakil Penghageng II Kawedanan Sri Wandawa Keraton Yogyakarta, KRT Sindurejo, mengatakan perubahan bentuk Garebeg sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah panjang Keraton Yogyakarta.

Tradisi tersebut beberapa kali mengalami penyesuaian mengikuti situasi zaman, mulai masa perjuangan kemerdekaan hingga pandemi Covid-19. "Ini menunjukkan rangkaian upacara budaya dapat berubah sesuai situasi dan kondisi, asalkan esensinya tetap sama," jelasnya.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi. Dia meminta masyarakat memahami keputusan Keraton karena penyederhanaan tidak menghilangkan makna sakral Garebeg.

Tetap relevan

"Tidak digelarnya prosesi pembagian pareden ke luar lingkungan keraton sama sekali tidak menghilangkan esensi utama Garebeg sebagai wujud syukur dan sedekah dari Raja," ujarnya.

Sementara itu, salah seorang Abdi Dalem senior Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara, menjelaskan format Garebeg tahun ini akan menyerupai pelaksanaan saat pandemi Covid-19. Seluruh ubarampe pareden nantinya dibagikan secara internal kepada para abdi dalem di lingkungan keraton.

Meski masyarakat tidak bisa menyaksikan langsung prosesi rebutan gunungan seperti biasanya, banyak pihak menilai keputusan ini justru memperlihatkan kemampuan tradisi budaya Jawa untuk tetap hidup dan relevan mengikuti perkembangan zaman.

Keraton Yogyakarta memilih mempertahankan substansi budaya dibanding sekadar kemeriahan seremoni. (adv)