Bregada Satria Puger Warnai HUT Ke-92 HKTY Pugeran

Mereka tampil sebagai cucuk lampah yang membuka rangkaian perayaan HUT gereja.

Bregada Satria Puger Warnai HUT Ke-92 HKTY Pugeran
Bregada Satria Puger saat mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun Gereja HKTY Pugeran Yogyakarta. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Derap langkah prajurit, alunan musik tradisional dan prosesi bernuansa Jawa menyambut perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-92 Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Paroki Pugeran Yogyakarta, Minggu (12/7/2026).

Bukan sekadar seremoni, penampilan Bregada Satria Puger menjadi simbol bahwa tradisi budaya Jawa masih hidup dan menyatu dalam kehidupan umat Katolik di gereja yang telah berdiri sejak 1934 itu.

Sebelum misa syukur dimulai, puluhan anggota Bregada Satria Puger mengawal prosesi petugas liturgi dari Mandala Tyas Dalem menuju gereja. Berbusana layaknya prajurit tradisional dengan iringan musik khas, mereka tampil sebagai cucuk lampah yang membuka rangkaian perayaan HUT gereja.

Suasana khidmat berlanjut dalam misa konselebrasi yang dipimpin Pastor FX Sukendar Wignyasumarta Pr bersama sejumlah Romo lainnya. Dalam homili, umat diajak mensyukuri perjalanan panjang HKTY Pugeran sekaligus menjaga semangat para perintis gereja agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Usai misa, Bregada Satria Puger kembali mengawal perarakan tumpeng sebagai simbol rasa syukur umat. Tumpeng kemudian dibagikan dalam bentuk nasi berkat yang disambut antusias jemaat sebagai wujud kebersamaan dan ungkapan syukur.

Perayaan dilanjutkan dengan pesta umat yang menampilkan beragam kesenian, mulai dari Tari Bedayan Karahayon Jati, Tari Kenes Gandhes, Tari Kasetyan, pertunjukan angklung hingga penampilan kaum muda. Ragam kesenian tersebut memperlihatkan bagaimana budaya Jawa tetap mendapat ruang dalam kehidupan menggereja.

Salah seorang anggota Dewan Pastoral Paroki HKTY Pugeran, Edi S Miko, mengatakan peringatan HUT ke-92 bukan hanya mengenang sejarah gereja, tetapi juga menegaskan komitmen menjaga inkulturasi sebagai identitas khas Paroki Pugeran.

"Sejak awal berdiri, Gereja Pugeran tumbuh bersama masyarakat Jawa. Karena itu, budaya lokal tidak dipandang sebagai pelengkap, tetapi menjadi bagian dari cara umat menghayati iman. Tradisi ini ingin terus diwariskan kepada generasi muda agar tetap hidup di tengah perubahan zaman," ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/6/2026).

Menurut Edi, inkulturasi terlihat dalam berbagai perayaan gereja, seperti penggunaan bahasa Jawa krama inggil dalam liturgi, iringan gamelan pada misa tertentu, tembang macapat, hingga keberadaan komunitas budaya seperti Bregada Satria Puger.

Berbagai profesi

Sementara itu, anggota Bregada Satria Puger, FX Riyanto, mengatakan komunitas tersebut beranggotakan umat dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari seniman, guru, pensiunan, mahasiswa, wiraswasta hingga abdi dalem Keraton Yogyakarta.

"Bregada bukan sekadar kelompok yang tampil dalam prosesi. Kami ingin menjaga warisan budaya sekaligus menghidupkan semangat pelayanan. Melalui derap langkah, musik dan tata upacara, kami berharap generasi muda ikut mencintai budaya Jawa yang berpadu dengan kehidupan gereja," katanya.

Dia menjelaskan, nama Bregada Satria Puger mengandung makna sebagai paguyuban umat yang menjaga tradisi keprajuritan dan mengawal prosesi-prosesi penting gereja. Selain itu, juga menjadi pengingat akan sejarah Kampung Pugeran yang memiliki kedekatan dengan lingkungan Keraton Yogyakarta.

Selama lebih dari sembilan dekade, HKTY Pugeran dikenal sebagai salah satu gereja yang konsisten merawat perpaduan iman Katolik dengan budaya Jawa. Di tengah modernisasi, tradisi itu terus dijaga melalui liturgi, seni, musik dan keterlibatan berbagai komunitas lintas generasi, menjadikan gereja bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga ruang pelestarian budaya yang tetap hidup di Kota Yogyakarta. (*)