Tiga Penyair, Tiga Buku, Tiga Kota Tampil pada Sastra Bulan Purnama

Tiga Penyair, Tiga Buku, Tiga Kota Tampil pada Sastra Bulan Purnama
Tiga perempuan penyair meluncurkan tiga buku. (Istimewa).

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Tiga perempuan penyair dari tiga kota, masing-masing buku pusinya telah diterbitkan, dan akan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama edisi 178, Sabtu, 11 Juli 2026, pukul 15.30 – 18.00 bertempat di aula STPMD ‘APMD’ Jl. Timoho No.317, Baciro, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55225.

Ketiga perempuan penyair itu ialah, Nia Samsihono (Jakarta), buku puisinya berjudul ‘Laras’, Rini Intama (Tangerang) buku puisinya berjudul ‘Molase’ dan Yuliani Kumudaswari (Yogyakarta), buku puisinya berjudul ‘Losarium’. Masing-masing penyair akan membacakan puisi, setidaknya 5 puisi, sehingga sedikitnya akan ada 15 puisi dibacakan. Selain itu, dua puisi karya Nia Samsihono dan Rini Intama akan dibuat lagu oleh Joshua Igho.

Nia Samsihono, lahir 16 September 1959, sejak mahasiswa sudah menulis puisi dan dipublikasikan di harian Suara Merdeka. Sampai sekarang, Nia masih aktif menulis puisi. Rini Intama mulai aktif menulis tahun 1990-an dan telah memiliki beberapa antologi puisi. Tiga diantaranya di tahun berbeda terpilih 5 nomine terbaik versi Yayasan Hari Puisi. Yuliani Kumudaswari mulai aktif menulis puisi pertengahan tahun 2000, dia termasuk produktif menulis puisi, beberapa buku puisinya sudah terbit.

Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro menyebutkan, berbeda dengan tahun 1960-an sampai 1980an, pada era digital ini, perempuan penyair jumlahnya lebih banyak, dan mereka memiliki profesi beragam: guru, dosen, pegawai negeri, pengusaha, pengacara sampai ibu rumah tangga.

“Pada tahun 1960-an sampai 1980-an, bahkan sampai 1990-an,  media cetak masih menyediakan ruang sastra, sehingga para penulis bisa mempublikasikan karyanya melalui media cetak, dan jumlah perempuan penyair bisa dihitung dengan jari,”ujar Ons Untoro

Pada era media digital ini, demikian Ons menjelaskan, media cetak banyak yang sudah tutup, dan ruang sastra susah ditemukan di media cetak. Namun banyak penyair, baik perempuan penyair maupun penyair muda masih terus menulis puisi.

“Sepertinya puisi memiliki daya tarik tersendiri bagi perempuan, sehingga meski usianya tidak lagi muda, perempuan masih giat menulis puisi,” kata Ons Untoro.

Wakil Ketua STMPD ‘APMD’ Tri Agus Susanto Siswowiharjo, yang sering dipanggil Tass menyebutkan, kegiatan sastra perlu terus diberi ruang, agar sastra semakin dekat dengan masyarakat, dan STPMD mengapresiasi Sastra Bulan Purnama yang sudah memasuki usia 15 tahun untuk terus menggerakan sastra.

“Meski STPMD tidak memiliki Fakultas Sastra, namun memiliki Jurusan komunikasi, dan karya sastra merupakan proses komunikasi secara estetis, sehingga STPMD memberi ruang pertunjukkan sastra,” ujar Tass. (*)