Belasan Ribu Penonton Larut dalam Nostalgia MLTR di Hari Pertama Prambanan Jazz 2026

Belasan Ribu Penonton Larut dalam Nostalgia MLTR di Hari Pertama Prambanan Jazz 2026
Penampilan Michael Learn To Rock di Prambanan Jazz. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA — Malam pertama Prambanan Jazz Festival 2026 berlangsung meriah di kawasan Candi Prambanan, Jumat (3/7/2026). Belasan ribu penonton memadati area festival untuk menikmati penampilan puluhan musisi yang tampil bergantian di Rukun Stage, Guyub Stage, dan Langgam Lounge.

Direktur Rajawali Indonesia sekaligus Project Director Prambanan Jazz Festival, Tovic Raharja, mengatakan antusiasme penonton pada hari pertama sangat tinggi dengan jumlah pengunjung mencapai belasan ribu orang. 

Menurutnya, angka tersebut sesuai dengan proyeksi panitia dan diperkirakan masih akan meningkat pada hari kedua dan ketiga festival.

"Besok 30 ribu tiket sudah habis terjual, banyak yang mau nonton Niki," ujarnya saat ditemui di lokasi pada Jumat (3/7/2026)

Sorotan utama malam pembuka Prambanan Jazz Festival 2026 tak terbantahkan menjadi milik grup pop-rock legendaris asal Denmark, Michael Learns To Rock (MLTR). Tepat sekitar pukul 21.00 WIB, lampu panggung Rukun Stage mulai diredupkan. 

Sorak-sorai ribuan penonton langsung pecah ketika tiga personel MLTR—Jascha Richter (vokal dan keyboard), Mikkel Lentz (gitar), serta Kåre Wanscher (drum)—muncul di atas panggung dengan latar megah Candi Prambanan yang disinari tata cahaya berwarna keemasan.

Sejak lagu pembuka dimainkan, hampir tak ada penonton yang diam. Mereka ikut bernyanyi dari awal hingga akhir, menciptakan paduan suara raksasa yang sesekali mengalahkan volume pengeras suara. 

Deretan lagu romantis yang telah menemani perjalanan hidup berbagai generasi dibawakan tanpa jeda panjang, mulai dari Someday, Sleeping Child, Complicated Heart, Blue Night, I Still Carry On, It's Gonna Make Sense, I'm Gonna Be Around, Out of the Blue, Nothing To Lose, 25 Minutes, The Actor, You Took My Heart Away, Wild Women, Breaking My Heart, Paint My Love, hingga ditutup dengan Take Me To Your Heart. 

Kehadiran MLTR sebagai headliner hari pertama memang menjadi salah satu penampilan yang paling dinantikan pada perayaan 12 tahun Prambanan Jazz Festival.

Momen paling emosional hadir di pertengahan konser. Jascha Richter menghentikan permainan musik sejenak dan memilih berbincang langsung dengan penonton. 

Dengan nada haru, ia menyebut Indonesia sebagai negara yang memiliki arti sangat besar bagi perjalanan karier MLTR.

"Ini adalah negara favorit kami. Saat kami kehilangan kontrak rekaman di Amerika, lagu-lagu kami justru diputar di radio-radio Indonesia. Dari sinilah musik kami menjadi terkenal di seluruh Asia. Terima kasih kepada kalian semua di Indonesia," ujar Jascha, yang kemudian mengajak seluruh penonton menyanyikan It's Gonna Make Sense.

Ucapan tersebut langsung disambut tepuk tangan panjang. Tak sedikit penonton mengangkat lampu ponsel dan ikut bernyanyi bersama. Suasana romantis semakin terasa ketika Paint My Love, 25 Minutes, dan Take Me To Your Heart dimainkan. 

Pasangan muda hingga penonton yang telah mengikuti perjalanan MLTR sejak era 1990-an larut dalam nostalgia, menjadikan pelataran Candi Prambanan seolah berubah menjadi ruang temu lintas generasi yang dipersatukan oleh lagu-lagu cinta yang tetap hidup hingga kini.

Tak hanya panggung utama yang dipenuhi penonton. Guyub Stage juga dipadati penggemar saat Salma Salsabil tampil membawakan sejumlah lagu. 

Penampilannya menuai pujian dari Mela (47), pengunjung asal Bandung yang sengaja membeli tiket 3 Days Pass sejak akhir 2025 dan datang bersama suaminya.

"Keren, bagus. Ini pertama kalinya aku nonton Salma secara langsung. Suaranya kayak rekaman, halus banget. Dia loncat-loncat, tapi suaranya tetap stabil. Bagus banget," katanya.

Meski puas dengan jalannya festival, Mela berharap penyelenggara menambah fasilitas toilet dan menyediakan water station agar pengunjung lebih mudah memperoleh air minum. 

Ia juga menilai perlu ada penertiban penonton yang membawa kursi lipat maupun menggelar tikar di area depan Rukun Stage karena menghalangi pandangan penonton lain.

"Kalau di Guyub Stage lebih tertib. Semoga besok ada petugas yang mengatur supaya kursi dan tikar hanya di pinggir, jadi yang ingin berdiri dekat panggung tetap bisa menikmati konser," ujarnya.

Menjelang tengah malam, suasana festival kembali memanas saat grup rock Korea Selatan Xdinary Heroes menutup rangkaian penampilan di panggung utama. 

Tata cahaya, kualitas tata suara, serta kemegahan Candi Prambanan sebagai latar pertunjukan kembali menghadirkan pengalaman konser yang menjadi ciri khas Prambanan Jazz Festival.

Hari pertama perhelatan Prambanan Jazz mempertemukan ribuan orang dalam satu ruang penuh nostalgia, energi, dan kemeriahan yang akan berlanjut hingga dua hari berikutnya. (*)