UNU Yogyakarta Kembangkan Hilirisasi Jamu Kiringan, Jangkau Pasar Herbal Lebih Luas

Kiringan yang sejak 1950-an dikenal sebagai sentra jamu tradisional, ditetapkan sebagai Desa Wisata Jamu.

UNU Yogyakarta Kembangkan Hilirisasi Jamu Kiringan, Jangkau Pasar Herbal Lebih Luas
Mahasiswa UNU dan warga menjalani Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Desa Wisata Jamu Kiringan, Kalurahan Canden Kapanewon Jetis Kabupaten Bantul. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta kembali menggulirkan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Desa Wisata Jamu Kiringan, Kalurahan Canden Kapanewon Jetis Kabupaten Bantul. Program yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) itu difokuskan pada hilirisasi produk jamu berbasis Tanaman Obat Keluarga (TOGA) agar memiliki nilai tambah dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Dosen Program Studi Agribisnis UNU Yogyakarta, Nur Saudah Al Arifa D, mengatakan program tersebut bertujuan mengembangkan jamu tradisional menjadi produk yang lebih praktis, berdaya saing sekaligus memperkuat identitas Desa Wisata Jamu Kiringan sebagai destinasi wisata kesehatan berbasis kearifan lokal.

"Melalui program ini, kami ingin meningkatkan nilai tambah produk jamu tanpa meninggalkan identitas lokal yang telah menjadi kekuatan masyarakat Kiringan," ujarnya, Rabu (1/7/2026).

Program diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan 20 anggota Kelompok Jamu Gendong "Marguna". Kegiatan itu dipimpin Nur Saudah bersama dosen Fakultas Industri Halal UNU Jogja, Ertha Martha Intani dan Fitri Andriani Fatimah, untuk memetakan kebutuhan masyarakat sekaligus menyusun prioritas pengembangan usaha.

Menurut Nur, Kiringan yang sejak 1950-an dikenal sebagai sentra jamu tradisional dan telah ditetapkan sebagai Desa Wisata Jamu masih menghadapi sejumlah tantangan. Sebagian besar produk dipasarkan dalam bentuk jamu segar dengan masa simpan terbatas, sementara diversifikasi produk dan pemasaran modern masih perlu diperkuat.

Kualitas kemasan

Karena itu, program akan diarahkan pada pengembangan produk herbal bernilai tambah, seperti jamu serbuk instan dan wedang uwuh celup, disertai pelatihan budidaya TOGA, penguatan manajemen usaha, peningkatan kualitas kemasan, serta branding dan pemasaran.

Indonesia memiliki lebih dari 19 ribu spesies tanaman obat berkhasiat. Namun, baru sebagian kecil yang diolah menjadi produk herbal dan jamu. Di tengah pasar kesehatan dan wellness global yang terus berkembang, kontribusi Indonesia masih relatif kecil sehingga peluang pengembangan industri herbal berbasis kearifan lokal dinilai masih sangat terbuka.

UNU Jogja berharap program tersebut tidak hanya menghasilkan inovasi produk, tetapi juga membangun model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan pengetahuan lokal, riset terapan, dan kewirausahaan sehingga mampu meningkatkan daya saing pelaku usaha jamu sekaligus memperkuat keberlanjutan Desa Wisata Jamu Kiringan. (*)