STIPRAM Raih Hibah 13 Penelitian, Jawab Tantangan Pariwisata Berkelanjutan

STIPRAM Raih Hibah 13 Penelitian, Jawab Tantangan Pariwisata Berkelanjutan
Penandatanganan kontrak Program Pendanaan BIMA Kemendiktisaintek 2026 di Kampus STIPRAM Yogyakarta, Sabtu (27/6/2026). Sebanyak 13 proposal penelitian dosen STIPRAM berhasil memperoleh pendanaan pemerintah dari total 49 proposal yang diajukan. (yvesta putu ayu/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Yogyakarta berhasil meloloskan 13 proposal penelitian bidang pariwisata dan perhotelan untuk memperoleh pendanaan Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) 2026. Capaian tersebut diraih dari 49 proposal yang diajukan dosen STIPRAM tahun ini.

Ketua STIPRAM Yogyakarta, Suhendroyono, mengatakan keberhasilan tersebut menunjukkan budaya riset di lingkungan kampus terus berkembang. Menurutnya, penelitian menjadi instrumen penting untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi sektor pariwisata.

"Pariwisata adalah ilmu yang membutuhkan penelitian. Banyak persoalan yang harus dijawab melalui riset, mulai dari perubahan perilaku wisatawan, persoalan lingkungan di destinasi, hingga pengembangan kawasan wisata yang berkelanjutan," ujarnya usai penandatanganan kontrak Program BIMA Kemendiktisaintek 2026 di Kampus STIPRAM Yogyakarta, Sabtu (27/6/2026).

Ia menilai berbagai persoalan seperti banjir di kawasan wisata, kepadatan kunjungan wisatawan, hingga meningkatnya persaingan antar-destinasi membutuhkan kajian ilmiah agar menghasilkan solusi yang berkelanjutan.

Menurutnya, negara yang berhasil mengembangkan sektor pariwisata juga didukung riset dan evaluasi yang berkesinambungan.

Sementara itu, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STIPRAM, Sony Heru Priyanto, mengatakan 13 penelitian yang memperoleh hibah melibatkan sedikitnya 39 dosen dan 39 mahasiswa.

"Jika setiap penelitian melibatkan tiga dosen dan tiga mahasiswa, maka ada 39 dosen dan 39 mahasiswa yang terlibat langsung dalam penelitian yang mendapatkan pendanaan tahun ini," katanya.

Menurut Sony, sebagian besar penelitian berfokus pada isu strategis, seperti mass tourism, pengembangan destinasi, penguatan daya saing industri pariwisata, serta pengembangan desa wisata.

Ia berharap hasil riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga menghasilkan inovasi, hak kekayaan intelektual, model pengembangan, hingga rekomendasi kebijakan yang bermanfaat bagi industri dan pemerintah. (*)

STIPRAM juga mendorong dosen meningkatkan kualitas publikasi dan luaran penelitian agar mampu mengakses skema hibah dengan nilai lebih besar, termasuk melalui kolaborasi riset internasional.