Kunjungi MAN 1 Yogyakarta, Menteri Wihaji Melihat Langsung Para Ayah Ambil Rapor di Sekolah
Anak itu tidak hanya membutuhkan uang, namun bagaimana seorang ayah secara emosional hadir dalam kehidupannya.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI, Dr H Wihaji, melakukan kunjungan ke MAN 1 Yogyakarta, Kamis (25/6/2026).
Kunjungan ini selain untuk berdialog dengan para siswa terkait kesehatan mental dan solusi terhadap persoalan remaja, juga untuk melihat langsung pelaksanaan Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak di Sekolah (Gemar) dalam rangka Hari Keluarga Nasional ke-33 #Ayah Wajib Hadir.
“Ada dua persoalan yang dihadapi remaja saat ini. Pertama, adalah kesehatan mental di mana dari data yang ada sebanyak 34 persen anak muda atau remaja kita mengalami permasalahan kesehatan mental,” kata menteri.
Permasalahan kedua adalah fatherless. “25 persen remaja kita mengalami itu,” lanjut Wihaji.
Fatherless adalah kondisi ketika seorang anak tumbuh tanpa kehadiran atau keterlibatan figur ayah. Kondisi ini tidak hanya terjadi jika ayah meninggal atau bercerai, tetapi juga mencakup situasi di mana ayah datang secara fisik namun absen secara emosional atau tidak terlibat dalam pengasuhan (father hunger).
Tari Saman menyambut Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI, Wihaji, di MAN 1 Yogyakarta, Kamis (25/6/2026). (sariyati wijaya/koranbernas.id)
“Anak itu tidak hanya membutuhkan uang, namun bagaimana seorang ayah secara emosional hadir dalam kehidupannya. Maka kementerian kami membuat gerakan ayah mengambil rapor. Percayalah, hal ini akan diingat anak-anak kita sampai kapan pun,” kata Wihaji di depan para ayah yang mengambil rapor anaknya.
Menurutnya, jangan sampai ketika anak tidak dekat dengan orang tuanya, termasuk ayah, maka yang dijadikan ‘orang tua’ adalah gawai atau handphone. “Rata-rata anak pegang HP itu 8,7 jam hingga 10 jam sehari sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Yang terjadi algoritma otaknya 60 sampai 70 persen dipengaruhi teknologi. Untuk itu perlu kehadiran orang tua termasuk ayah dalam keluarga. Sempatkan ngobrol dan mendengar anak,” kata Wihaji.
Hal ini diyakini akan berdampak positif bagi seorang anak ke depan. Tidak saat ini, namun pada masa depan. Program yang dibuat oleh kementeriannya adalah pembangunan SDM dan pembangunan kualitas keluarga yang hasilnya tidak bisa langsung dilihat. “Pesan saya teknologi jangan mempengaruhi, namun memudahkan,” kata Wihaji menandaskan.
Tampak hadir dalam acara ini Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Kepala Perwakilan BKKBN DIY, Rohina dan jajaran, para stafsus menteri, Kepala MAN 1 Yogyakarta Edi Triyanto, para guru dan karyawan. Kedatangan menteri Wihaji disambut tari Saman oleh para pelajar madrasah itu. (*)
Sariyati Wijaya
