Proyek Strategis di Sungai Progo Senilai Rp 213 Miliar Ditinjau DPRD DIY
Sungai Progo sebagai sumber irigasi pertanian dan penyedia air baku bagi masyarakat.
KORANBERNAS.ID, BANTUL – Pimpinan dan anggota Komisi C DPRD DIY melakukan peninjauan lapangan ke lokasi pembangunan Groundsill Srandakan, Kamis (25/6/2026).
Hasilnya, pembangunan Groundsill Srandakan di perbatasan Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulonprogo itu diketahui menunjukkan perkembangan positif. Proyek strategis senilai Rp 213 miliar yang dibangun untuk menjaga stabilitas Sungai Progo tersebut saat ini progresnya mencapai 77,35 persen dan ditargetkan selesai 31 Desember 2026.
Di hadapan para wakil rakyat, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sungai dan Pantai II Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), Dicky Maulana, menjelaskan pembangunan groundsill dimulai 10 Oktober 2025. Hingga saat ini, pekerjaan yang tersisa sekitar 22 persen.
“Konstruksi utama atau main dam di sisi timur Sungai Progo sudah selesai. Saat ini pekerjaan difokuskan pada penyelesaian main dam dan sub dam di sisi barat yang berada di wilayah Kabupaten Kulonprogo,” katanya.
Menurutnya, groundsill baru dibangun di sisi selatan bangunan lama yang mengalami kerusakan berat akibat banjir besar Sungai Progo pada Januari 2025. Struktur baru tersebut memiliki panjang 300 meter, sama dengan groundsill sebelumnya yang telah beroperasi hampir 20 tahun sebelum mengalami kerusakan.
Akhir tahun
Menurut Dicky, momentum musim kemarau akan dimanfaatkan untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan konstruksi utama. “Musim kemarau menjadi waktu yang sangat efektif karena debit sungai lebih rendah. Kami targetkan pekerjaan utama selesai sebelum musim penghujan sehingga akhir tahun nanti tinggal menyelesaikan pekerjaan pendukung,” jelasnya.
Wakil Ketua Komisi C DPRD DIY, Amir Syarifudin, menyatakan pentingnya penyelesaian proyek sesuai jadwal mengingat fungsi strategis Sungai Progo sebagai sumber irigasi pertanian dan penyedia air baku bagi masyarakat.
“Juni hingga Agustus merupakan masa yang tepat untuk mempercepat pekerjaan. Kami berharap proyek ini dapat selesai sesuai kontrak sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Anggota Komisi C DPRD DIY, Aslam Ridlo, menilai konstruksi groundsill yang baru memiliki kualitas lebih baik dibandingkan bangunan sebelumnya. Salah satu penguatan dilakukan melalui pemasangan tiang pancang hingga kedalaman 12 meter di bawah fondasi.
“Konstruksi yang baru ini jauh lebih kuat. Harapannya dapat bertahan lebih lama dan mampu mengantisipasi gerusan sungai yang selama ini menjadi tantangan,” katanya.
Penambangan pasir
Dia mengingatkan perlunya pengawasan terhadap aktivitas penambangan pasir di sekitar Sungai Progo agar tidak mengganggu stabilitas bangunan yang telah dibangun dengan anggaran besar tersebut.
“Kami berharap ada sinergi antara pemerintah daerah, instansi teknis, dan para pelaku usaha penambangan agar aktivitas yang dilakukan tidak berdampak pada konstruksi groundsill,” harapnya.
Anggota Komisi C lainnya, Lilik Syaiful Ahmad, mengajak masyarakat, termasuk para penambang pasir di sekitar Sungai Progo, untuk turut menjaga keberadaan groundsill Srandakan.
Infrastruktur tersebut memiliki fungsi vital dalam menjaga keamanan jembatan, sistem irigasi, serta keberlangsungan sumber daya air bagi masyarakat.
“Kalau dirawat bersama, groundsill ini bisa bertahan hingga 10 tahun tanpa perbaikan. Ini aset bersama yang harus dijaga agar anggaran yang sudah dikeluarkan negara tidak sia-sia dan manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” kata Lilik.
Dengan progres pembangunan yang telah melampaui tiga perempat pekerjaan, Groundsill Srandakan diharapkan dapat segera berfungsi optimal dalam menjaga stabilitas aliran Sungai Progo, melindungi infrastruktur di sekitarnya, serta mendukung kebutuhan irigasi dan air baku bagi masyarakat Bantul dan Kulonprogo. (*)
---
