Pelangi di Mars Ingin Membangkitkan Imajinasi Anak Indonesia
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Film fiksi ilmiah anak berjudul Pelangi di Mars hadir sebagai tontonan Lebaran di bioskop-bioskop Yogyakarta tahun ini. Tak sekadar film, Pelangi di Mars membawa misi besar untuk membangun imajinasi generasi muda.
Karenanya, menyambut tingginya antusiasme penonton keluarga di bioskop, Mahakarya Pictures menggelar roadshow di tiga kota besar yakni Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta pada Minggu (22/3/2026).
Para cast dan kru film hadir. Di antaranya Bimo Kusumo, Vanya Rivani serta produser Dendi Reynando dan sutradara Upie Guava.
Upie membuka cerita personal yang menjadi fondasi film ini. Ia mengingat masa kecilnya yang dipenuhi tontonan fiksi ilmiah seperti Star Wars, Back to the Future, hingga E.T. the Extra-Terrestrial, yang membuatnya selalu ingin cepat pulang sekolah, berpetualang, dan membayangkan masa depan besar.
“Waktu kecil kita punya mimpi menaklukkan dunia. Tapi semakin dewasa, sering terhimpit kenyataan. Padahal semangat masa kecil itu yang membuat kita terus berjuang sampai hari ini,” ujarnya.
Ia menilai, banyak tokoh besar dunia seperti Elon Musk lahir dari imajinasi dan literasi sejak kecil. Karena itu, ia merasa anak-anak Indonesia hari ini membutuhkan lebih banyak pilihan tontonan yang mampu membangkitkan mimpi, bukan sekadar hiburan.
Film sebagai Medium Literasi Masa Depan
Menurut Upie, genre fiksi ilmiah (sci-fi) bukan sekadar cerita fantasi, melainkan alat untuk meramalkan kemungkinan masa depan. Ia mencontohkan bagaimana teknologi seperti video call atau kecerdasan buatan telah lebih dulu hadir dalam film sebelum menjadi kenyataan.
“Sci-fi itu benchmark bahwa sebuah negara mampu membayangkan masa depannya. Amerika, Jepang, sekarang Korea, China, India, mereka punya itu. Kita harus mulai,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa usia anak di bawah 13 tahun merupakan fase “golden age” yang menentukan arah masa depan. Karena itu, Pelangi di Mars sengaja dirancang sebagai film sci-fi khusus anak, sesuatu yang masih jarang di Indonesia.
Film ini mengisahkan anak Indonesia yang memimpin robot-robot dari berbagai negara untuk menyelamatkan bumi pada masa depan. Bagi orang dewasa, mungkin terlihat sederhana, namun bagi anak-anak, menurutnya, cerita ini dapat membuka kemungkinan besar dalam cara berpikir mereka.
Membangun Teknologi dari Nol
Di balik layar, produksi film ini memakan waktu perjalanan panjang. Sejak 2020, tim mulai melakukan riset teknologi secara mandiri. Mereka membangun studio sendiri, menguji pipeline produksi, hingga akhirnya mulai produksi penuh pada 2024.
Upie mengungkapkan, film ini terdiri dari lebih dari 1.400 shot, dengan setiap shot melalui sekitar 19 tahap produksi dengan total hampir 28.000 proses kerja.
“Kita enggak punya peta. Salah ya, ulang lagi. Tapi kita ingin mulai bareng dengan dunia, supaya kita bisa pintar bareng Amerika, Jepang, Korea,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Indonesia selama ini tertinggal sekitar 20 tahun dalam teknologi animasi. Karena itu, timnya memilih langsung mengadopsi teknologi terbaru, bahkan saat masih dalam tahap awal pengembangan global.
Membangun IP Lokal dan Ekosistem
Lebih jauh, Pelangi di Mars juga menjadi bagian dari upaya membangun intellectual property (IP) lokal yang kuat. Selama ini, pasar Indonesia didominasi oleh karakter luar negeri dari perusahaan seperti The Walt Disney Company.
Upie menilai Indonesia perlu memiliki karakter sendiri yang bisa dibanggakan, sebagaimana Jepang dengan Gundam atau Korea dengan konten animasinya.
“Dulu kita punya Gundala, tapi sekarang anak-anak masih kenal tidak? Kita ingin ikut berjuang membangun kebanggaan itu,” ujarnya.
Tak berhenti di film, Dendi menyiapkan pengembangan lanjutan berupa mainan, sekuel, hingga kolaborasi dengan berbagai brand seperti jaringan ritel dan layanan digital.
"Kita siapkan sekuelnya," ungkapnya.
Lebih dari sekadar tontonan, Pelangi di Mars diharapkan menjadi pengalaman yang membekas dan membawa pulang mimpi baru bagi anak-anak Indonesia.
Melalui roadshow ini, Mahakarya Pictures menegaskan bahwa Pelangi di Mars bukan hanya film keluarga untuk mengisi liburan, tetapi juga langkah awal untuk membangun generasi yang berani bermimpi besar.
“Ini bukan cuma soal anak-anak nonton di bioskop. Tapi mimpi apa yang mereka bawa setelah keluar dari bioskop?” katanya.
Antusiasme Anak-Anak Jadi Bukti
Dalam roadshow, respons anak-anak terlihat nyata. Tawa, rasa kagum, hingga ketertarikan pada karakter robot seperti Kimchi, Batik, dan Sulil menjadi bukti kuat bahwa film ini berhasil menyentuh imajinasi mereka.
Bimo Kusumo, pengisi suara Batik, turut menyampaikan pesan kepada anak-anak untuk menjaga persahabatan, sebagaimana karakter dalam film.
Dengan misi tersebut, film ini diharapkan menjadi pemantik lahirnya lebih banyak karya fiksi ilmiah anak di Indonesia. Selain itu, membuka jalan menuju masa depan yang tidak hanya dibayangkan, tetapi juga diciptakan oleh generasi berikutnya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
