Teater "Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion" Hidupkan Cerita di Balik Pakaian Daerah

Teater "Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion" Hidupkan Cerita di Balik Pakaian Daerah
Pentas teater "Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion" di ISI Yogyakarta pada 25–26 Juni 2026. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Di tengah derasnya arus mode global dan tren fesyen yang silih berganti, pakaian daerah Indonesia ternyata masih memiliki ruang hidup yang luas di tengah masyarakat.

Bukan sekadar busana untuk upacara adat atau seremoni, setiap helai kain tradisional menyimpan cerita, identitas, hingga pengalaman personal yang diwariskan lintas generasi.

Kesadaran itulah yang diangkat dalam pertunjukan teater bertajuk "Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion" yang digelar di Ruang Galeri Pascasarjana ISI Yogyakarta pada 25–26 Juni 2026.

Berbeda dengan pertunjukan teater pada umumnya, pementasan ini menghadirkan kisah-kisah nyata tentang pakaian daerah melalui pendekatan Playback Theatre, sebuah bentuk teater partisipatif yang menghidupkan cerita masyarakat di atas panggung.

Melalui pertunjukan tersebut, pakaian daerah tidak diposisikan sebagai artefak budaya yang diam di museum, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang terus berubah, beradaptasi, dan menemukan makna baru di era modern.

Sutradara pertunjukan, B. Verry Handayani, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (28/6/2026), menyatakan bahwa pertunjukan ini menghadirkan berbagai cerita mengenai pakaian daerah yang tidak hanya menyimpan filosofi dan nilai-nilai kehidupan.

"Tetapi juga pengalaman personal pemiliknya yang terus dimaknai ulang dari generasi ke generasi," ujarnya.

Pertunjukan ini juga menggandeng desainer fesyen Luthfi Majid yang menghadirkan perspektif dunia mode tentang bagaimana pakaian tradisional dapat bertransformasi melalui desain, material, hingga cara pemakaiannya tanpa kehilangan akar budayanya.

Pendekatan Playback Theatre memungkinkan cerita para narasumber tentang filosofi, makna, dan pengalaman menggunakan pakaian daerah diterjemahkan menjadi adegan-adegan spontan di atas panggung.

Tidak hanya para pemain yang bercerita, penonton pun diajak menjadi bagian dari pertunjukan dengan membagikan pengalaman pribadi mereka mengenai pakaian tradisional maupun busana yang memiliki makna khusus dalam kehidupan sehari-hari.

Cerita-cerita tersebut kemudian diperankan oleh para aktor, yakni Davin Ezra Pradipta, Mailani Sumelang, Muhammad Dinu Imansyah, Regina Gandes Mutiary, dan Veronika Erlina Harimastuti.

Menurut Verry, memahami cerita di balik pakaian daerah merupakan bagian penting dalam membangun kebanggaan sebagai bangsa yang majemuk.

"Baju daerah melambangkan kekayaan budaya Indonesia. Mungkin ada baiknya juga, sambil terus berusaha mengangkatnya ke level yang lebih luas, kita mengetahui cerita di baliknya agar kebanggaan atas keindonesiaan kita sebagai bangsa yang bhinneka menjadi lebih bermakna," ujarnya.

Melalui kisah-kisah yang hadir di atas panggung, penonton diajak melihat pakaian daerah sebagai jejak budaya yang menyimpan pengetahuan, nilai, dan pengalaman kolektif masyarakat Indonesia.

Setiap kain bukan hanya benda yang dikenakan, tetapi juga ruang cerita yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Tidak berhenti pada pertunjukan teater, acara ini juga menghadirkan lapak produk artisan dan jasa bernuansa etnik yang memungkinkan pengunjung berinteraksi langsung dengan pelaku usaha kreatif yang mengangkat kekayaan budaya melalui karya mereka.

"Penonton juga memperoleh voucher yang dapat ditukarkan dengan berbagai penawaran khusus dari peserta lapak, sehingga menciptakan pengalaman budaya yang lebih interaktif dan berkelanjutan," paparnya.

Mengusung semangat Bhinneka Tunggal Ika, "Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion" menjadi ruang pertemuan berbagai suara, pengalaman, dan identitas budaya Indonesia melalui medium pakaian.

Pertunjukan ini sekaligus menunjukkan bahwa di balik selembar kain tradisional tersimpan cerita tentang keluarga, ingatan, perjalanan hidup, dan kebangsaan yang tetap relevan bagi generasi masa kini maupun masa depan.

Pertunjukan tersebut mendapat dukungan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan dan LPDP melalui Program Dana Abadi Kebudayaan sebagai bagian dari upaya menghadirkan praktik seni yang menghubungkan ekspresi budaya, kreativitas, dan partisipasi publik. (*)