Menenun Kembali Ingatan Bangsa Melalui Filateli
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Di sebuah sudut Kantor Pos Besar Yogyakarta, Sabtu sore (28/3/2026), denting stempel dan aroma kertas tua seolah membawa kembali kenangan masa lalu yang mulai pudar pada era digital.
Namun, pertemuan ini bukan sekadar nostalgia. Ini adalah langkah besar untuk menempatkan kembali prangko sebagai penjaga memori kolektif bangsa dalam rangka menyongsong Hari Filateli Nasional (HFN) 2026.
Sekretaris Jenderal Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI), Mahfudzi, menegaskan bahwa perangko memiliki kedudukan yang sangat kuat di negeri ini. Bukan sekadar hobi, filateli telah diakui oleh negara melalui Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2009 tentang Pos.
"Prangko ini adalah salah satu benda yang masuk dalam undang-undang negara kita. Di usianya yang kini menginjak 104 tahun, kami mendorong agar prangko bukan lagi sekadar koleksi, melainkan instrumen penting untuk menginformasikan kebudayaan," ujar Mahfudzi.
Ia juga menyoroti kembalinya Cap Slogan, sebuah tradisi komunikasi klasik pemerintah melalui pos yang kini mulai langka.
"Hari ini kita menghidupkan kembali Cap Slogan. Ini adalah media untuk mempromosikan isu-isu penting di masyarakat secara otentik," tambahnya.
Sinergi Merawat Jejak Sejarah
Sebagai tuan rumah, Executive General Manager (EGM) Kantor Pos Yogyakarta, Jovikal, menyambut hangat kolaborasi ini. Baginya, Yogyakarta adalah kota yang paling tepat untuk menyuarakan semangat ini karena nilai kesejarahannya yang kental.
"Filateli memiliki semangat merawat jejak sejarah dan menyampaikan cerita bangsa melalui selembar kertas. Kami berharap sinergi antara PT Pos, komunitas filatelis, dan pemerintah daerah ini terus diperkuat demi kemajuan filateli di Indonesia," ungkapnya.
Dukungan penuh datang dari Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta. Baginya, filateli adalah cara merawat ingatan kota yang harus diwariskan kepada generasi masa depan.
Kepala Dinas Kebudayaan, Yetti Martanti, menekankan bahwa prangko memiliki posisi penting dalam ekosistem kebudayaan.
“Filateli bukan sekadar hobi, tetapi bagian dari perjalanan sejarah dan identitas bangsa. Prangko telah menjadi medium budaya yang merekam tokoh, peristiwa, dan lanskap secara permanen,” tegas Yetti.
Visi ini telah diinisiasi sejak lama, termasuk melalui pameran "Bertemu Malioboro" pada 2023 yang menempatkan prangko sebagai sarana penyampaian cerita kota berbasis riset. Kini, momentum HFN 2026 menjadi ajang untuk memperluas akses masyarakat terhadap praktik budaya berbasis koleksi dan arsip.
Puncak Perayaan di Yogyakarta Selatan
Minggu, 29 Maret, perayaan nasional ini akan bergeser ke Taman Budaya Embung Giwangan. Pemilihan lokasi ini dinilai strategis untuk menghidupkan ruang budaya baru di wilayah Yogyakarta bagian selatan.
Acara yang diprediksi dihadiri oleh 1.000 peserta ini akan dimeriahkan dengan Seminar Filateli Nasional bertema “Filateli sebagai Media Pemajuan Budaya” dan peluncuran Buku Kartu Pos “Djocja”.
Tak hanya pameran, kegiatan ini juga merangkul dunia pendidikan melalui lomba kreatif pelajar serta workshop bagi guru dan mahasiswa. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
