Ruwat Kali Bogowonto, Ikrar Warga Loano Menjaga Alam dan Tradisi
KORANBERNAS.ID, PURWOREJO — Bagi warga Dusun Tlepo, Desa Loano, Kecamatan Loano, Sungai Bogowonto bukan sekadar aliran air. Sungai itu menjadi sumber penghidupan sekaligus bagian dari warisan budaya yang terus dijaga melalui tradisi Ruwat Kali Bogowonto dan kenduri.
Tradisi yang digelar setiap tiga tahun sekali itu kembali dilaksanakan pada Selasa Kliwon (7/7/2026).
Selain menjadi ungkapan syukur kepada Allah SWT, ruwatan juga menjadi doa bersama agar masyarakat yang sehari-hari menggantungkan hidup sebagai penambang batu memperoleh keselamatan dan rezeki.
"Ini merupakan wujud syukur kami. Biasanya dilaksanakan pada Jumat Kliwon di bulan Sura, tetapi tahun ini bertepatan dengan Selasa Kliwon," kata Kepala Dusun Tlepo, Sungkono.
Prosesi diawali dengan kenduri dan doa bersama, kemudian dilanjutkan larungan tumpeng lengkap dengan ingkung ayam serta ubarampe ke Sungai Bogowonto sebagai simbol rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap alam.
Sekretaris Desa Loano, Erwan Widi, mengatakan tradisi tersebut rutin dilaksanakan setiap tiga tahun. Selain melestarikan budaya, kegiatan itu juga menjadi pengingat agar masyarakat memanfaatkan sumber daya sungai secara bijaksana.
"Ruwat Kali Bogowonto menjadi ungkapan syukur para penambang batu sekaligus ajakan mencintai alam. Penambangan dilakukan dengan cara tradisional agar tidak merusak sungai, bahkan kegiatan ini juga diisi dengan penebaran benih ikan untuk menjaga ekosistem," ujarnya.
Menurut Erwan, tradisi tersebut mendapat perhatian berbagai pihak, termasuk tim ekspedisi Sungai Bogowonto Lestari yang melibatkan akademisi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Badan Otorita Borobudur (BOB).
Kepala Desa Loano, Sutanto, menegaskan Ruwat Kali Bogowonto merupakan tradisi turun-temurun yang harus terus dipertahankan karena menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.
Sementara itu, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret, Prof. Dr. Sumarwati, mengatakan tradisi tersebut mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Menurutnya, berbagai cerita rakyat dan mitos yang hidup di sekitar sungai bukan sekadar legenda, melainkan cara masyarakat menanamkan kesadaran untuk menjaga alam.
"Ruwatan ini merupakan ikrar masyarakat untuk menjaga sungai sebagai sumber kehidupan. Ketika masyarakat menjaga sungai, mereka juga menjaga sumber air yang menjadi penopang kehidupan," ujarnya.
Ia menambahkan, hingga kini telah mendokumentasikan sekitar 145 tradisi pelestarian alam di Jawa Tengah yang memanfaatkan cerita rakyat sebagai media edukasi lingkungan.
Baginya, Ruwat Kali Bogowonto menjadi salah satu contoh bagaimana budaya dan konservasi alam berjalan beriringan. (*)
Wahyu Nur Asmani EW
