Dari Rombongan Besar ke Wisata Keluarga, Transformasi Pentingsari Menjadi Wajah Baru Pariwisata Sleman

Dari Rombongan Besar ke Wisata Keluarga, Transformasi Pentingsari Menjadi Wajah Baru Pariwisata Sleman
Kegiatan wisata susur sungai di Pentingsari. Foro kedua, gerbang Desa Wisata Pentingsari. (Dok. Pengelola DW Pentingsari).
Dari Rombongan Besar ke Wisata Keluarga, Transformasi Pentingsari Menjadi Wajah Baru Pariwisata Sleman

KORANBERNAS.ID, SLEMAN – Selama hampir dua dekade, Desa Wisata Pentingsari dikenal sebagai salah satu ikon wisata berbasis masyarakat di lereng Merapi. Ribuan pelajar dari berbagai daerah datang setiap tahun mengikuti program live-in dan study tour. Namun, dalam dua tahun terakhir, lanskap itu berubah drastis.

Kebijakan pembatasan study tour di sejumlah daerah, terutama Jawa Barat yang selama ini menjadi pasar utama, membuat jumlah kunjungan merosot tajam. Pengelola pun tak memilih bertahan dengan pola lama. Pentingsari kini bertransformasi, membidik wisata keluarga, kelompok kecil, hingga wisatawan mancanegara. Langkah tersebut sekaligus menjadi gambaran arah baru pengembangan pariwisata Kabupaten Sleman yang menekankan kualitas pengalaman wisata dan keberlanjutan.

Wakil Ketua Pengelola Desa Wisata Pentingsari, Dwi Wahyu Setiabudi, mengungkapkan penurunan kunjungan mulai terasa sejak 2025. Dibandingkan dengan tahun 2024, jumlah wisatawan turun sekitar 42 persen, sedangkan tren hingga pertengahan 2026 menunjukkan penurunan yang diperkirakan mendekati 50 persen.

Memberi makan ternak. (Dok. Pengelola DW Pentingsari).

"Selama ini sekitar 70 persen pasar kami berasal dari kegiatan live in dan study tour. Ketika kebijakan pembatasan itu diberlakukan, dampaknya langsung terasa terhadap jumlah kunjungan maupun omzet," ujarnya.

Menurut Dwi, kondisi tersebut tidak hanya dialami Pentingsari, tetapi juga dirasakan banyak desa wisata lain yang selama ini bergantung pada kunjungan rombongan sekolah.

Berangkat dari kondisi itu, Pentingsari memilih membaca perubahan pasar daripada sekadar menunggu keadaan membaik. Pengelola mulai menyasar sekolah swasta dan internasional di kawasan Jabodetabek, sekaligus membuka pasar baru yang selama ini belum tergarap optimal, yakni wisata keluarga dan kelompok kecil.

Keputusan itu juga didasarkan pada perubahan perilaku wisatawan. Data internal menunjukkan kunjungan satu hari atau field trip justru mengalami peningkatan. Artinya, semakin banyak wisatawan yang datang hanya beberapa jam tanpa menginap.

Menjawab tren tersebut, Pentingsari menghadirkan kawasan wisata baru di bantaran Kali Kuning yang mulai dibuka pada Juli 2026. Berbeda dengan konsep sebelumnya yang didominasi oleh paket rombongan dengan sistem reservasi, destinasi baru ini dirancang agar wisatawan bisa datang secara spontan.

Di kawasan tersebut, pengunjung dapat menikmati beragam aktivitas seperti ATV, menikmati kopi dan kuliner di tepi sungai, bermain air, yoga di alam terbuka, membatik, membuat wayang rumput hingga berbagai aktivitas edukasi budaya.

"Kami ingin wisatawan yang datang ke Jogja bersama keluarga atau teman bisa langsung menikmati pengalaman di Pentingsari meski hanya punya waktu satu sampai dua jam," kata Dwi.

Membajak sawah. (Dok. Pengelola DW Pentingsari).

Transformasi tidak berhenti pada pengembangan destinasi. Pentingsari juga mulai meningkatkan kualitas pelayanan sebagai bagian dari penerapan quality tourism. Pengelola membekali pemandu wisata, pemilik homestay, hingga pelaku UMKM agar mampu memberikan pengalaman yang lebih personal dan berkualitas.

Skema penyesuaian paket wisata bahkan telah disiapkan mulai 2027. Menurut Dwi, peningkatan harga nantinya akan diikuti oleh peningkatan pelayanan sehingga manfaat ekonomi yang diterima masyarakat juga semakin baik.

Selain pasar domestik, Pentingsari mulai menggarap wisatawan mancanegara. Selama enam bulan pertama 2026, sejumlah wisatawan asing telah datang untuk mengikuti aktivitas budaya seperti bermain gamelan, bertani di sawah, mengenal kopi lokal, menikmati wedang rempah, hingga berinteraksi dengan pelaku UMKM.

"Kalau wisatawan mancanegara datang, mereka mencari pengalaman yang autentik. Karena itu, pelayanan dan pengalaman yang kami berikan juga harus meningkat," ujarnya.

Mengenal gamelan. (Dok. Pengelola DW Pentingsari).

Transformasi yang dilakukan Pentingsari ternyata sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah Kabupaten Sleman dalam membangun sektor pariwisata.

Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Edy Winarya, mengatakan pengembangan pariwisata ke depan memang diarahkan pada konsep community-based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat menjadi pelaku utama sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas sekaligus menjaga keberlanjutan destinasi.

"Kalau didukung masyarakat, destinasi wisata akan lebih tahan lama. Dalam konsep desa wisata, keterlibatan masyarakat harus lebih dominan," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata Sleman Edy Winarya. (Istimewa).

Menurut Edy, pemerintah tidak hanya mendorong pembangunan fisik destinasi, tetapi juga memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan pelayanan wisata, sertifikasi kompetensi, pendampingan pemasaran digital hingga penyusunan paket wisata bersama biro perjalanan.

Ia menilai perubahan perilaku wisatawan menjadi tantangan sekaligus peluang. Wisatawan kini cenderung memilih konsep micro tourism, yakni perjalanan singkat dengan pengalaman yang lebih berkualitas. Karena itu, inovasi menjadi kebutuhan mutlak bagi setiap desa wisata.

"Sekarang bukan hanya soal memiliki destinasi yang bagus, tetapi bagaimana destinasi itu terus berinovasi dan mampu menjawab kebutuhan wisatawan," ujarnya.

Saat ini Kabupaten Sleman memiliki 82 desa wisata, dengan tujuh di antaranya telah berstatus mandiri. Menurut Edy, desa wisata yang berkembang umumnya mampu membaca perubahan pasar, memanfaatkan teknologi, serta terus melakukan inovasi.

Upaya tersebut dinilai penting mengingat sektor pariwisata menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah. Sepanjang 2024, sektor pariwisata menyumbang Rp 379,04 miliar atau sekitar 32 persen dari total Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sleman. Kontribusi terbesar berasal dari aktivitas ekonomi yang tumbuh melalui hotel, restoran, kuliner, hiburan, UMKM, hingga berbagai layanan wisata.

Bagi Pentingsari, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi memastikan pariwisata benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai desa wisata berbasis masyarakat, seluruh pengembangan diarahkan agar tetap menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.

Karena itu, Dwi berharap kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Sleman terus diperkuat, mulai dari promosi, peningkatan kapasitas SDM, hingga pendampingan pengembangan kawasan baru di bantaran Kali Kuning.

"Pariwisata tidak bisa berjalan sendiri. Kami ingin terus bertumbuh bersama masyarakat dan tetap menjaga prinsip keberlanjutan. Dengan dukungan berbagai pihak, kami optimistis desa wisata tetap menjadi kekuatan pariwisata Sleman di masa depan," katanya.

Menurut saya, struktur ini lebih kuat karena pembaca terlebih dahulu diajak melihat persoalan nyata dan transformasi Pentingsari, baru kemudian memahami bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari arah besar kebijakan Pemkab Sleman. Dengan begitu, peran Dinas Pariwisata tetap menonjol, tetapi hadir sebagai penguat solusi, bukan sekadar sumber pernyataan. Ini membuat artikel terasa lebih hidup, lebih jurnalistik, dan tetap selaras dengan tujuan publikasi kerja sama. (*)