Petualangan ala Wild West di Pony Park Klaten

Pony Park sebelumnya merupakan arena latihan berkuda bernama The Cristo.

Petualangan ala Wild West di Pony Park Klaten
Para pelatih hewan usai mengadakan pertunjukan. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, KLATEN -- Sebuah menara air kayu bertuliskan Pony Park berdiri menjulang di antara bangunan bergaya koboi dan kincir angin yang berputar pelan. Pemandangan itu mungkin mengingatkan pada lanskap ala film-film Wild West Amerika.

Namun siapa sangka, destinasi wisata satwa keluarga yang tengah tumbuh di Klaten ini berawal dari sebuah mimpi sederhana yang dirawat selama bertahun-tahun.

Di balik Pony Park, ada sosok Agung Sulistomo, putra asli Klaten yang sejak kecil memiliki ketertarikan besar terhadap satwa. Kecintaan itulah yang kemudian mendorongnya membangun ruang di mana manusia dan hewan dapat hidup berdampingan sekaligus saling mengenal lebih dekat.

“Ini berawal dari mimpi kecil saya dan keluarga,” ujar Agung di depan awak media, Jumat (19/6/2026).

Konservasi satwa

Perjalanan mewujudkan mimpi tersebut tidak berlangsung singkat. Kawasan yang kini dikenal sebagai Pony Park sebelumnya merupakan arena latihan berkuda bernama The Cristo.

"Seiring waktu, tempat ini berkembang menjadi pusat konservasi satwa yang dikelola secara mandiri," ujarnya.

Agung dan tim harus melalui proses panjang untuk memenuhi berbagai persyaratan perizinan. Pada 2023, mereka memperoleh izin penangkaran burung paruh bengkok dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Setahun kemudian, izin penangkaran mamalia seperti rusa timor, landak, dan binturong juga berhasil dikantongi. Melalui penantian panjang, izin peragaan satwa akhirnya resmi diterbitkan pemerintah. Izin tersebut menjadikan Pony Park sebagai destinasi pertama di Jawa Tengah yang memiliki legalitas peragaan satwa.

Berinteraksi langsung

Di tengah maraknya kebun binatang konvensional di sejumlah daerah sekitar, Pony Park memilih menawarkan pengalaman berbeda. Konsep yang diusung memadukan petting zoo dan mini zoo, sehingga pengunjung tidak hanya melihat satwa dari kejauhan, tetapi juga dapat berinteraksi secara langsung.

Atmosfer petualangan semakin terasa melalui bangunan bertema Wild West, restoran bergaya saloon, hingga area food truck yang melengkapi kawasan wisata.

Saat ini, Pony Park menjadi rumah bagi sekitar 80 jenis satwa. Mulai dari beragam burung eksotis, rusa, landak, hingga alpaka yang didatangkan dari luar negeri melalui proses karantina.

Ada pula penghuni baru yang mulai mencuri perhatian pengunjung, yakni seekor bayi kapibara yang lahir di lokasi penangkaran. Bagi anak-anak, pengalaman memberi makan satwa menjadi salah satu aktivitas yang paling ditunggu. Melalui sesi feeding time yang didampingi petugas, mereka dapat belajar mengenal karakter dan kebutuhan satwa secara langsung.

Dunia berkuda

Identitas Pony Park juga tak bisa dilepaskan dari dunia berkuda. Berawal dari sekolah berkuda, destinasi ini menghadirkan berbagai program seperti Pony Ride dan Pony Class. Pengunjung diajak tidak hanya menunggang kuda poni, tetapi juga memahami cara merawat dan berinteraksi dengan hewan tersebut.

Manajemen juga menerapkan sejumlah aturan guna menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan satwa. Salah satunya adalah larangan membawa makanan dari luar kawasan. Sebagai gantinya, berbagai fasilitas kuliner telah disediakan di dalam area wisata.

Selain itu, seluruh satwa hasil penangkaran ditegaskan tidak untuk diperjualbelikan. Keberadaannya semata-mata ditujukan untuk konservasi, edukasi, dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian satwa.

Meski jadwal soft opening dan harga tiket masuk masih akan diumumkan melalui sosial media resmi, antusiasme masyarakat mulai terlihat.  (*)