Industri Makanan Rumahan di Borobudur Jadi Destinasi Wisata

Pengunjung bisa melihat dapur atau proses produksi slondok dan yangko.

Industri Makanan Rumahan di Borobudur Jadi Destinasi Wisata
Pembuatan makanan tradisional slondok di Borobudur Magelang. (nanang w hartono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, MAGELANG -- Industri makanan rumahan di Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang menjadi destinasi wisata. Pengunjung umumnya datang dari luar kabupaten itu.

Industri rumahan yang memproduksi slondok dan yangko itu kini menjadi pilihan berwisata, setelah tiket masuk Candi Borobudur naik signifikan.

Perkembangan destinasi Industri makanan rumahan tentu tidak lepas dari wisata Volkswagen (VW). Bisnis sewa mobil yang umurnya lebih dari 50 tahun, berperan penting mengembangkan Industri makanan rumahan. Industri makanan rumahan menjadi rute wisata VW jadul tapi dengan perawatan yang baik.

Pelaku bisnis wisata VW memberi beberapa pilihan kunjungan, salah satunya ke industri makanan rumahan.

Melihat dapur

Konsep destinasi wisata Industri makanan rumahan, di antaranya setiap pengunjung bisa melihat dapur atau proses produksi slondok dan yangko. Pengunjung diberikan kesempatan untuk mencicipi makanan, sebelum menentukan pilihan makanan yang akan dibeli.

Kedua Industri makanan rumahan ini, memberi pilihan rasa slondok dan yangko. Karyawan Omah Slondok Borobudur (OSB) di Desa Tuksongo Kecamatan Borobudur, Nindya, Rabu (11/6/2026), mengungkapkan sebagian besar pengunjung industri rumahan yang telah berdiri dua tahun lalu itu adalah kelompok yang menggunakan mobil VW wisata. "Tiap akhir pekan penuh, " ujar Nindya.

Industri slondok di OSB memanfaatkan hasil panen singkong petani Borobudur. "Sebelum ada omah slondok, harga singkong sekilo hanya Rp 500, sekarang dibeli Rp 3.500 sekilo," ujar Nindya yang juga guide di OSB. 

Berkembangnya destinasi wisata industri makanan rumahan juga memberi penghidupan pedagang kaos dan celana pendek. Harga yang ditawarkan Rp 20 ribu per potong. (*)