Bukan Dimusuhi, ISI Yogyakarta dan BRIN Cari Ruang Kolaborasi dengan AI

Berpegang pada prinsip manusia tetap menjadi pusat kendali teknologi.

Bukan Dimusuhi, ISI Yogyakarta dan BRIN Cari Ruang Kolaborasi dengan AI
Rektor ISI Yogyakarta Dr Irwandi M Sn (kiri) bersama Kepala Organisasi Riset Elektronika dan Informatika BRIN, Dr Eng Budi Prawara, menyampaikan keterangan pers di sela seminar nasional dalam rangka Dies Natalis ke-42. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Dr Irwandi M Sn, menyatakan keberadaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bukan untuk dimusuhi. Ibarat kompromi, kampus seni terbesar di Indonesia ini bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) siap mencari ruang kolaborasi memanfaatkan AI dengan berpegang pada prinsip manusia tetap menjadi pusat kendali teknologi.

“ISI Yogyakarta saat ini terus memantau perkembangan teknologi AI secara intensif serta telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi terhadap dampak perubahannya,” ungkapnya kepada wartawan di sela sela-sela Seminar Nasional dalam rangka Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta, Rabu (17/6/2026), di kampus setempat.

Pada kegiatan ilmiah bertema Dialektika Seni dan Artificial Intelligence dalam Rekonstruksi Nilai Estetika ini, Irwandi menyampaikan pandangannya mengenai posisi seni, kemanusiaan dan kreativitas di era kecerdasan buatan.

Menurutnya, pemilihan tema AI dalam Dies Natalis merupakan langkah berkelanjutan dari institusi. Beberapa tahun sebelumnya, saat teknologi AI pertama kali mulai muncul ke permukaan, ISI Yogyakarta juga telah mengangkat tema serupa. Tahun ini, isu tersebut kembali diangkat secara lebih nyata sebagai strategi konkret mengantisipasi disrupsi yang sedang terjadi.

Narasumber foto bersama Rektor ISI Yogyakarta Dr Irwandi M Sn beserta jajarannya usai pembukaan seminar nasional dalam rangka Dies Natalis ke-42. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Pihak kampus mengambil sikap. Fenomena disrupsi teknologi tidak seharusnya dimusuhi atau dihindari. Sebaliknya, ISI Yogyakarta berupaya mencari ruang kolaborasi dan elaborasi agar perkembangan teknologi ini dapat diadaptasi dengan baik, di mana manusia tetap memegang peran sentral sebagai pengendali utamanya.

Melalui seminar nasional kali ini, lanjut dia, ISI Yogyakarta mengundang BRIN untuk membahas korelasi antara manusia dan AI yang dikaji secara mendalam. Harapannya, arah kebijakan ISI Yogyakarta dalam menyikapi AI ke depan akan semakin jelas, khususnya dalam menjaga kedaulatan data dan merumuskan regulasi seni-budaya.

Menanggapi pertanyaan mengenai dampak AI, Irwandi mengakui teknologi ini memiliki sisi positif dan negatif. Pihak kampus berkomitmen menekan dampak minus atau negatif dari AI, sementara potensi positifnya akan terus diakselerasi untuk kemajuan institusi.

Menjawab pertanyaan terkait peluang integrasi ke dalam kurikulum, rektor mengungkapkan saat ini sudah ada perencanaan matang untuk memasukkan AI dalam sistem pembelajaran.

Standar etika

Dia mengakui saat ini para mahasiswa secara praktis telah mulai bersinggungan dengan AI. Kampus masih menerapkan standar etika akademik konvensional, seperti keharusan mencantumkan atribusi selama bukan bentuk plagiasi. Namun ke depan, penempatan AI dalam kurikulum akan diatur secara lebih spesifik dan jelas.

Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Elektronika dan Informatika BRIN, Dr Eng Budi Prawara yang datang mewakili Kepala BRIN Prof Dr Arif Satria SP M Si selaku pembicara kunci seminar tersebut menyatakan, selaku lembaga riset, tugas pokok dan fungsi (tupoksi) BRIN adalah melaksanakan kegiatan riset dan inovasi. “Salah satu fokus utamanya saat ini adalah merumuskan regulasi mengenai pemanfaatan AI di bidang riset dan karya ilmiah,” katanya.

Budi mencontohkan, regulasi tersebut diperlukan untuk membatasi persentase maksimal konten berbasis AI dalam pembuatan publikasi ilmiah atau paper. Hal ini dipicu oleh maraknya indikasi pelanggaran etika akademik belakangan ini, di mana ditemukan karya yang sepenuhnya atau 100 persen dibuat oleh AI.

BRIN saat ini sedang intensif mengembangkan regulasi terkait batasan tersebut. Budi berharap di tengah pesatnya perkembangan AI, seluruh kegiatan riset dan inovasi tetap berpedoman pada standar etika yang baik, baik yang berlaku secara global maupun yang akan ditetapkan dalam regulasi nasional.

Berbagai sektor

Dia menyatakan teknologi AI kini telah merambah ke berbagai sektor, termasuk bidang seni. Fenomena ini memicu terjadinya transformasi bagi para seniman, yang semula mengkreasi karya seni secara konvensional dan individual, kini dapat memadukan keahlian mereka dengan bantuan mesin serta teknologi kecerdasan buatan.

Budi menilai kolaborasi antara kreativitas seniman dan mesin AI ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai dan kualitas karya seni. Selain memberikan pengalaman baru bagi para penikmat seni, hasil kolaborasi tersebut diharapkan memiliki nilai jual yang tinggi sehingga mampu berkontribusi signifikan dalam memajukan industri kreatif di Indonesia.

Mengenai keharusan untuk beradaptasi, Budi menyatakan benar adaptasi adalah kunci utama menghadapi perkembangan zaman. Dia juga menyatakan dukungan penuh terhadap rencana Rektor ISI Yogyakarta memasukkan AI ke dalam kurikulum.

Mengingat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi AI, dia sepakat Indonesia harus bergerak cepat agar tidak tertinggal dan tidak sekadar menjadi negara konsumen yang menggunakan teknologi asing, melainkan mampu menjadi kreator inovasi yang mendorong pertumbuhan ekonomi baru berbasis iptek.

Seminar yang diikuti berbagai kalangan termasuk praktisi seni itu juga mengundang narasumber lainnya yaitu Dr Monica Lim (Komposer & Seniman Suara), Arman L Wirjawan M PSi (Monitoring Evaluation & Learning Specialist), Dr Nadiyah Tunnikmah (Peneliti dan Staf Pengajar ISI Yogyakarta) serta Kurniawan Adi Saputro SIP MA Ph D (Peneliti dan Staf Pengajar ISI Yogyakarta). (*)