Saat Segelas Wine dan Keju Berpadu
Sampai hari ini saya masih dapat pertanyaan, kok bisa orang Jogja bikin keju di Indonesia.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Di tengah berkembangnya tren gaya hidup, segelas wine dan sepotong keju ternyata dapat menjadi pintu masuk untuk memahami lebih jauh tentang industri pangan lokal.
Suasana itu terasa di Hyatt Regency Yogyakarta, Sabtu (30/5/2026), saat produsen wine lokal Plaga berkolaborasi dengan Mazaraat Artisan Cheese menghasilkan "WINE CLASS by PLAGA".
Bukan sekadar sesi mencicipi wine, acara ini menjadi ruang berbagi pengetahuan tentang produk fermentasi lokal, proses produksinya hingga pentingnya membangun ekosistem kuliner yang berkelanjutan.
Peserta diajak mengenal karakter berbagai jenis wine sembari memadukannya dengan keju artisan buatan lokal.
Perjalanan panjang
Business Development Associate (BDA) Indowine, Andy Ahmad Syarifudin, mengatakan kegiatan ini dirancang untuk pengalaman baru bagi masyarakat Yogyakarta sekaligus memperkenalkan perjalanan panjang di balik produksi wine lokal yang berakar dari Bali.
"Kami mencoba keluar memberikan experience baru dari teman-teman. Semoga bisa menjadi experience yang baru buat teman-teman di sini," ujarnya, Sabtu (30/5/2026).
Andy menjelaskan, Plaga merupakan merek wine dari kawasan pegunungan Bali. Nama Plaga sendiri diambil dari wilayah tempat pabrik mereka berdiri. Tak hanya wine, keju artisan lokal produksi Mazaraat juga menarik perhatian peserta.
Founder Mazaraat Artisan Cheese, Jamie Najmi, mengakui edukasi mengenai keju natural di Indonesia masih menjadi tantangan tersendiri. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keju berkualitas dapat diproduksi di dalam negeri.
Butuh edukasi
"Sampai hari ini saya masih dapat pertanyaan, kok bisa orang Jogja bikin keju di Indonesia? Nah, itu pertanyaan yang sampai hari ini kita masih sulit jawab karena keju di Indonesia masih butuh edukasi dan penjelasan banyak hal," kata Jamie.
Dalam sesi food pairing, peserta diperkenalkan pada berbagai karakter keju. "Masing-masing dipadukan dengan jenis wine tertentu untuk menunjukkan bagaimana rasa dapat saling melengkapi," ujarnya.
Wine Enthusiast, Febry Rintoko Anggoro, yang memandu sesi tasting, mengajak peserta menikmati pengalaman tersebut tanpa merasa terbebani teori yang rumit.
Baginya, menikmati wine dan keju merupakan perjalanan personal yang sangat dipengaruhi preferensi masing-masing individu. "Tidak ada yang salah. Rasa itu sudah kembali ke masing-masing karakter kita yang berbeda," ujarnya.
Rasa berbeda
Febry membagikan pengetahuan mengenai pengaruh iklim terhadap karakter buah anggur. Dia menjelaskan bagaimana varietas yang sama dapat menghasilkan cita rasa berbeda ketika ditanam di wilayah dengan kondisi cuaca yang berbeda.
Tak kalah menarik, dia turut meluruskan sejumlah anggapan yang sering muncul mengenai non-aging wine. Menurutnya, metode blending dari beberapa hasil panen justru dilakukan untuk menjaga konsistensi rasa sehingga kualitas produk tetap terjaga dari waktu ke waktu.
Melalui kolaborasi ini, Plaga dan Mazaraat menunjukkan produk fermentasi lokal tidak hanya memiliki kualitas yang mampu bersaing, tetapi juga menyimpan cerita tentang keberlanjutan, kreativitas dan keberanian pelaku usaha lokal dalam mengedukasi pasar. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
