Lulur Warisan Keraton Yogyakarta Menginspirasi Inovasi Body Care
Kalau waktunya mepet atau sibuk, kita tetap bisa meraciknya sendiri di rumah.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Ketika industri kecantikan berlomba menghadirkan tren skincare berbahan aktif terbaru dari berbagai belahan dunia, merek kecantikan lokal Purbasari justru mengambil langkah berbeda. Alih-alih mengikuti arus, perusahaan memilih kembali menggali warisan budaya Nusantara lewat produknya Purbasari Lulur Mandi Teh Keraton. Inovasi produk body care ini terinspirasi dari ritual perawatan tubuh khas Keraton Yogyakarta.
Peluncuran produk tersebut dilakukan melalui acara A Touch of Royal Beauty di kawasan Candi Tirto Raharjo Yogyakarta, Rabu (15/7/2026). Pemilihan Yogyakarta bukan tanpa alasan. Kota budaya ini dipilih untuk memperkuat pesan bahwa tradisi perawatan tubuh keraton masih relevan dan dapat diterjemahkan menjadi gaya hidup masyarakat modern.
Dalam acara kali ini, Purbasari mengajak para tamu dan beauty enthusiast merasakan langsung pengalaman budaya melalui berbagai aktivitas. Di antaranya pijat relaksasi menggunakan lulur mandi, meracik teh khas keraton, hingga meracik lulur dengan kombinasi bahan tertentu agar manfaatnya lebih optimal.
Seluruh rangkaian tersebut dirancang untuk memperkenalkan kembali filosofi perawatan diri yang diwariskan turun-temurun kepada generasi masa kini. Manfaat produk sudah dapat dirasakan sejak pemakaian pertama berupa kulit yang lebih halus, harum, dan tubuh terasa lebih rileks.
Salah seorang beauty enthusiast, Rima Suwarjono, mengaku dapat pengalaman baru saat secara langsung meracik dan menggunakan Lulur Mandi Teh Keraton kali ini. Menurutnya, hasil yang dirasakan langsung setelah pemakaian membuat kulit terasa lebih halus, lembut dan lembap.
Peserta A Touch of Royal Beauty di kawasan Candi Tirto Raharjo Yogyakarta, Rabu (15/7/2026). (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)
"Ini benar-benar pengalaman baru. Setelah dipakai, kulit langsung terasa mulus, halus dan lembap. Apalagi ada kandungan minyak zaitunnya, jadi menurutku racikannya pas sekali untuk kulit perempuan Indonesia," ujarnya.
Dia menilai produk tersebut tidak hanya cocok untuk jenis kulit tertentu, tetapi dapat digunakan oleh perempuan Indonesia dengan beragam warna kulit.
Menurut Rima, keunggulan lain dari lulur tradisional tersebut adalah kemudahan penggunaannya. Masyarakat tidak lagi harus datang ke spa untuk menikmati sensasi relaksasi karena racikan lulur dapat dibuat sendiri di rumah.
"Kalau waktunya mepet atau sibuk, kita tetap bisa meraciknya sendiri di rumah. Bahkan racikannya bisa disimpan untuk dipakai beberapa hari ke depan, jadi praktis untuk perawatan sehari-hari," katanya.
Rima mengaku sebelumnya belum pernah meracik lulur secara mandiri. Karena itu, pengalaman tersebut memberinya perspektif baru bahwa ritual perawatan tradisional ternyata dapat dilakukan dengan mudah di rumah.
Dia mengapresiasi konsep acara yang mengangkat tema budaya Nusantara. Menurutnya, nuansa keraton terasa kuat, mulai dari konsep acara hingga karakter produk yang ditampilkan.
Rima berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang kembali mengenal tradisi perawatan tubuh berbahan alami sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia, sekaligus menjadikannya pilihan praktis untuk relaksasi di tengah aktivitas yang padat.
"Saya suka karena benar-benar mengangkat nuansa Nusantara dan keraton. Dari warna kemasan, desain, sampai aromanya sangat khas Indonesia, jadi terasa mewakili budaya kita," ucapnya.
Terus beradaptasi
Sementara Brand Executive Purbasari, Carensca Wahyudi, mengatakan inovasi tersebut lahir dari komitmen perusahaan yang telah berdiri sejak dekade 1990-an untuk terus beradaptasi tanpa meninggalkan identitas budaya Indonesia.
"Sebagai brand beauty lokal yang sudah ada sejak tahun 90-an, kami terus berinovasi menghadirkan produk terbaik. Kami ingin menghadirkan produk relaksasi yang sederhana digunakan di rumah, tetapi sensasinya seperti sedang berada di keraton," ujarnya.
Menurut Caren, mengangkat kembali konsep kecantikan keraton bukan sekadar strategi bisnis. Lebih dari itu menjadi upaya menjaga agar nilai-nilai budaya Indonesia tetap hidup di tengah derasnya tren kecantikan global.
"Kami ingin menggabungkan kandungan body care yang modern dengan sentuhan tradisional Indonesia. Budaya tidak boleh dilupakan, apalagi kami adalah brand lokal yang sudah lama berdiri," katanya.
Inspirasi produk berasal dari tradisi perawatan tubuh Keraton Yogyakarta yang telah diwariskan secara turun-temurun. Sebelum dikembangkan menjadi produk modern, tim Purbasari terlebih dahulu melakukan riset terhadap filosofi ritual kecantikan keraton, termasuk penggunaan bahan-bahan alami yang selama ini menjadi bagian dari budaya perawatan diri masyarakat Jawa.
Tak hanya mengangkat tradisi lulur, Purbasari juga membawa filosofi budaya teh keraton yang identik dengan ketenangan, kehangatan dan momen refleksi diri. Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam pengalaman mandi yang tidak sekadar membersihkan tubuh, tetapi juga menghadirkan relaksasi layaknya ritual spa khas keraton.
Produk tersebut memadukan sejumlah bahan aktif modern, yakni Chamomile Extract untuk membantu menenangkan kulit dan meredakan iritasi ringan. Selain itu Green Tea Extract yang kaya antioksidan untuk membantu melindungi kulit dari paparan radikal bebas sekaligus menjaga elastisitas.
"Jasmine Oil yang menjaga kelembaban sekaligus menghadirkan aroma melati yang menenangkan, serta Niacinamide yang membantu menyamarkan kulit kusam sehingga kulit tampak lebih cerah," jelasnya.
Caren menambahkan, lulur mandi ini tidak hanya berfungsi sebagai eksfoliator, tetapi juga dapat digunakan setiap hari sebagai pengganti sabun. Tekstur lulur yang lembut membantu mengangkat sel kulit mati tanpa membuat kulit terasa kering setelah eksfoliasi.
Dipadukan aroma teh melati yang khas, setiap penggunaan dirancang menghadirkan sensasi relaksasi seperti menikmati ritual perawatan tubuh ala keraton di rumah. Setelah digunakan kulit terasa lebih bersih, tetap lembab, halus dan memberikan efek glowing alami. "Kami ingin momen mandi menjadi lebih istimewa," katanya.
Sementara efek kulit tampak lebih cerah umumnya mulai terlihat setelah penggunaan rutin sekitar tujuh hari dan semakin optimal dalam dua pekan. "Yang paling terasa sejak sekali pakai adalah kulit lebih halus, lebih wangi, dan tubuh lebih rileks. Kalau untuk efek kulit tampak lebih cerah, umumnya mulai terlihat setelah tujuh hari penggunaan rutin," jelasnya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
