Berawal dari Rumah Buyut, Ceria Hotel Hidupkan Kembali Warisan Heritage

Hampir semua tiang penyangga atau rasuk di sini masih asli.

Berawal dari Rumah Buyut, Ceria Hotel Hidupkan Kembali Warisan Heritage
Salah satu kamar di Hotel Ceria Alun-Alun Yogyakarta, Rumah warisan keluarga yang dibangun sejak era 1940-an itu direvitalisasi menjadi hotel berkonsep heritage living yang nyaman. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di tengah menjamurnya hotel modern di pusat Kota Yogyakarta, Ceria Hotel Alun-Alun Yogyakarta memilih mempertahankan karakter rumah warisan keluarga sebagai identitas utama. Berlokasi tak jauh dari kawasan heritage Keraton Yogyakarta, hotel ini menawarkan pengalaman menginap dengan konsep heritage living yang memadukan nilai sejarah, kenyamanan modern dan pelayanan personal.

"Ceria Hotel berawal dari keinginan keluarga kami untuk menjaga rumah warisan ini agar tetap hidup dan memiliki manfaat bagi banyak orang. Kami percaya sebuah bangunan yang memiliki cerita akan selalu menghadirkan pengalaman berbeda bagi setiap tamunya," ujar Fitria, perwakilan Keluarga Prawiro Soewarno, Selasa (14/7/2026), saat ditemui di Ceria Hotel Alun-alun Yogyakarta.

Hotel yang berada tak jauh dari Malioboro tersebut dikelola dan dihidupkan kembali oleh generasi penerus keluarga sejak akhir 2021. Bangunan yang semula merupakan rumah tinggal keluarga itu direvitalisasi tanpa menghilangkan karakter aslinya sehingga tetap menjadi bagian dari warisan budaya yang produktif.

Direktur Ceria Group, Erie Prakoso, mengungkapkan bangunan tersebut awalnya merupakan rumah buyut dari pihak istrinya yang masih keturunan tokoh Kotagede, Pak Tembong.

"Sekitar tahun 1940-an atau 1950-an, keluarga besar mengungsi dari Kotagede ke tengah kota dan menempati rumah ini. Istri saya bahkan masih ingat momen masa kecilnya saat sungkeman di area yang sekarang menjadi meja resepsionis," katanya.

Seiring waktu, rumah itu sempat difungsikan sebagai rumah kos bagi siswa SMA Farmasi pada akhir 1980-an. Memasuki awal 1990-an, bangunan tersebut resmi beroperasi sebagai Hotel Ceria dan menjadi salah satu penginapan yang cukup dikenal wisatawan. Pada masa itu, banyak tamu datang melalui rekomendasi pengayuh becak yang mangkal di stasiun.

Saat Erie dan istrinya mengambil alih pengelolaan pada November 2021, kondisi bangunan membutuhkan pembaruan. Momentum pandemi Covid-19 dimanfaatkan untuk melakukan renovasi menyeluruh dengan tetap mempertahankan ciri utama bangunan.

Lebih nyaman

Renovasi dilakukan cukup ekstrem. Jumlah kamar dikurangi dari 23 menjadi 15 unit demi menciptakan ruang yang lebih lega, pencahayaan alami yang lebih baik, serta sirkulasi udara yang lebih nyaman.

Empat kamar di sisi timur dialihfungsikan menjadi ruang kantor, dapur dan toilet umum, sedangkan dua kamar digabung menjadi kamar tipe VIP yang lebih luas. Meski mengalami banyak perubahan, Erie menegaskan elemen-elemen penting bangunan tetap dipertahankan.

"Hampir semua tiang penyangga atau rasuk di sini masih asli. Lantai memang kami ganti, tetapi kap lampu antik tetap dipertahankan agar suasana malamnya tetap eksotis dan romantis," ujarnya.

Selain mempertahankan nilai sejarah, hotel juga terus meningkatkan kenyamanan tamu. Area hotel dirancang ramah bagi penyandang disabilitas dengan akses kursi roda serta pencahayaan yang terang. Fasilitas soundbar dan guling tambahan tersedia khusus di kamar tipe Executive dan Suites.

Nama "Ceria" merupakan doa yang diberikan ayah Fitria agar setiap tamu membawa pulang pengalaman menyenangkan selama berada di Yogyakarta.

Upaya revitalisasi tersebut membuahkan hasil. Tanpa promosi besar-besaran, tingkat hunian hotel mencapai sekitar 88 persen per tahun. Popularitas hotel berkembang secara organik melalui rekomendasi tamu dan unggahan di media sosial seperti TikTok dan Instagram.

Lokasi syuting

Erie mengatakan tren tersebut justru banyak didorong wisatawan muda. "Di luar dugaan, banyak Gen Z usia 20 sampai 30 tahun dan pasangan yang honeymoon memilih menginap di sini. Koridor panjang hotel juga sering dipakai untuk pemotretan produk fesyen hingga lokasi syuting film bertema Jogja tempo dulu," katanya.

Selain menyediakan sepeda gratis untuk berkeliling kawasan Malioboro dan Keraton, hotel menawarkan tarif mulai sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1,2 juta per malam untuk kamar VIP. Bagi rombongan keluarga, tersedia pula paket sewa satu hotel dengan tarif sekitar Rp 15 juta per malam termasuk sarapan.

Menurut Erie, pengalaman yang ditawarkan bukan sekadar menginap, melainkan suasana seperti pulang ke rumah keluarga. "Rasanya seperti mudik dan menginap di rumah besar eyang sendiri. Suasana intim seperti ini tidak akan didapatkan di hotel dengan ratusan kamar," ujarnya.

Ke depan, Ceria Group juga berkomitmen menghidupkan aset-aset heritage lain di Yogyakarta. Selain mengelola Villa Ceria di kawasan Dukuh dan sebuah guest house di Patehan Kidul, grup tersebut sedang mengembangkan Lodji Paris, bangunan cagar budaya bergaya kolonial Belanda yang disiapkan sebagai kawasan kuliner.

Melalui upaya tersebut, Ceria Group berharap bangunan-bangunan bersejarah di Yogyakarta tetap hidup, produktif, sekaligus menjadi ruang bagi wisatawan untuk merasakan hangatnya atmosfer hunian khas Yogyakarta pada masa lalu. (*)