Menghidupkan Kembali Nostalgia Kartu Pos di Kavach Space

Kamera analog kembali diminati, kaset kembali digunakan, begitu juga kartu pos.

Menghidupkan Kembali Nostalgia Kartu Pos di Kavach Space
Pengunjung memperhatikan detail deretan kartu pos karya seniman-seniman visual di Kavach Space Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Sebuah kartu pos biasanya hanya menjadi penanda perjalanan atau media berkirim kabar. Di Kavach Space, benda sederhana itu justru berubah menjadi ruang tempat puluhan seniman menitipkan cara pandang, kenangan hingga kegelisahan mereka tentang kehidupan.

Melalui pameran Art in Focus yang berlangsung 13 Juli-31 Agustus 2026 dalam rangkaian Lebaran Seni Yogyakarta, sekitar 70 seniman menampilkan lebih dari 100 karya berformat kartu pos (postcard). Ukurannya kecil, namun setiap karya menyimpan cerita yang mengajak pengunjung berhenti sejenak, mendekat, lalu membaca narasi yang tidak selalu selesai hanya dengan sekali pandang.

Mengusung tema Sight, Space & Stories, pameran ini berangkat dari keyakinan setiap orang memiliki cara berbeda dalam melihat dunia. Sight berbicara tentang perspektif personal, Space menjadi ruang tempat berbagai perspektif bertemu, sementara Stories merupakan narasi yang lahir dari pengalaman, pengamatan, dan ingatan yang kemudian diterjemahkan menjadi karya visual.

Bagi Antino Restu selaku Creative Director Kavach sekaligus kurator pameran, format kartu pos dipilih bukan karena keterbatasan medium melainkan karena kedekatan emosional yang dimilikinya.

"Kami ingin menghadirkan ruang untuk mempresentasikan karya teman-teman seniman. Medium kartu pos memungkinkan lebih banyak seniman terlibat sekaligus menghadirkan pengalaman yang lebih intim bagi pengunjung. Dengan karya-karya berukuran kecil, orang bisa lebih dekat saat menikmati setiap karya," ujarnya di sela pembukaan pameran, Senin (13/6/2026).

Tidak ada tema besar yang mengikat para peserta. Antino justru memberi kebebasan kepada setiap seniman untuk berbicara dengan bahasa visualnya sendiri.

"Kami membebaskan para seniman menyuarakan apa pun melalui karya mereka. Dalam open call kami hanya memberikan ketentuan bahwa karya tidak boleh mengandung unsur SARA," katanya.

Antino Restu selaku Creative Director Kavach sekaligus kurator pameran saat memberikan penjelasan tentang pameran Art in Focus di Kavach Space. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

Selain peserta hasil open call, pameran juga diikuti seniman undangan yang sebelumnya pernah berkolaborasi dengan Kavach, di antaranya Gnoberio dari Jakarta. Seluruhnya dipertemukan dalam satu ruang tanpa batasan medium. Lukisan, print, kolase hingga fotografi berdampingan dalam format yang sama: kartu pos.

Menurut Antino, kartu pos memiliki sejarah panjang sebagai media berbagi kabar dan menyimpan kenangan atau nostalgia. Dalam Art in Focus, fungsi tersebut bergeser menjadi medium yang mengirimkan pengalaman dan perspektif dari seniman kepada publik.

Ruang yang dipilih pun tidak lazim. Pameran berlangsung di Kavach Space, sebuah ruang ritel eyewear yang sejak awal dirancang sebagai tempat bertemunya desain, budaya, komunitas dan praktik kreatif. Di sana, karya seni tidak ditempatkan sebagai dekorasi, melainkan menjadi bagian dari identitas ruang.

Pandangan itu dinyatakan benar oleh Arsita Pinandita atau Dito, dosen, kurator, seniman visual sekaligus penulis yang membuka pameran. Menurutnya, seni hari ini tidak lagi harus di ruang-ruang yang steril seperti galeri konvensional.

"Awalnya banyak pameran hadir di coffee shop dan dianggap hanya sebagai dekorasi. Namun, lama-kelamaan ruang itu justru menjadi lebih cair dan interaktif," ujarnya.

"Hari ini pameran bahkan berkembang ke ruang-ruang yang semakin dekat dengan lifestyle. Kehadiran pameran di Kavach menjadi sesuatu yang wajar karena dunia eyewear, fesyen, dan seni memang memiliki kedekatan," lanjutnya.

Dito melihat kecenderungan lain yang menarik. Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital, banyak seniman muda justru kembali melirik medium yang bersifat analog.

"Kamera analog kembali diminati, kaset kembali digunakan, begitu juga kartu pos. Bagi seniman muda, kartu pos adalah medium yang sangat personal dan intim. Mereka tidak harus membuat karya berukuran besar. Lewat kartu pos pun mereka bisa menciptakan bahasa visualnya sendiri," katanya.

Semangat personal itu salah satunya terlihat dalam karya Sony Sunday, seniman asal Yogyakarta. Melalui karya berjudul Need More Sunday, dia mengajak pengunjung kembali mengingat masa kecil yang terasa lebih sederhana.

"Saya merasa kehidupan saat dewasa membuat kita seolah membutuhkan hari Minggu lebih banyak. Waktu kecil, hari Minggu benar-benar menyenangkan. Dari pagi sampai sore saya hanya menonton kartun," ujarnya.

Kerinduan itu kemudian divisualkan melalui tokoh-tokoh yang akrab dengan masa kecilnya, seperti Kamen Rider, Voltes V, hingga karakter-karakter yang pernah menemaninya tumbuh.

Karya yang dipamerkan sebenarnya merupakan reproduksi dari lukisan oil on canvas berukuran sekitar 40 x 69 sentimeter yang telah lebih dulu terjual kepada kolektor di Bali. Bagi Sony, menjadikannya sebagai kartu pos membuka kemungkinan baru agar karya seni dapat dinikmati lebih banyak orang.

"Ini pertama kalinya lukisan saya dijadikan kartu pos. Sekarang kualitas digital printing sudah sangat baik sehingga reproduksi warnanya sangat mendekati lukisan asli," katanya.

Selain Sony Sunday, Art in Focus juga menampilkan karya Abenk Alter, Adam Lauhil, Adi Novianto, Adriel Reyhan, Afney, Agum Gum, Agung Prayogie, Ajeng Larasati, Carmeli Budiman, Kezia Odelia, Stomp Brigade, Suar Makna, Aldo Aprilian Wibowo, Catha Ngiring Hayyu Kamijoyo, Andi Yulianto, Daniel Scantofia, Aryhox, Dharshanda P., Atasiaishii, Dosa, Keysha Belva Slavina, Awas Lepas, Emmanuel Putro Prakoso, Kimozz, Sweetarens, Lucyanna, Syarifah Al Addawiyah, Luthfi Pratama, Tiara Bachtiar.

Selain itu, juga ditampilkan karya Mariska Ratri Handayani, Tomtombol, Bagas Satrio, Erika Enda Ginting, Marsha Hapsari, Uukwuzhere, Beauty Clarabelle, Erin Dwia, Begok.oner, Evan Valerian, Bonk AVA, Fadia Vienisa, Fauzan Puthut, Nadia Diandra, Ferdyzal Oktama, Nadhief Ashr, Ulfi Audria, Yusa Dirgantara, Nandhika Lupitasari, Nevy Kusuma Danarti, Ngiring, Hamzah Fathul, Noormatiin, Harits Geronimo, Norma Fauza, Okkan Yuranoa, I Made Arya Wiguna, Raka Adityatama, Imelda, Raphael, Iqbal, Rei, Res Harris, Rifki, Saigon, Sloppyrobb, Soni Harsono serta sejumlah seniman lainnya.

Pada akhirnya, Art in Focus tidak sedang menawarkan kemegahan ruang atau ukuran karya. Pameran ini justru mengingatkan pengalaman melihat sering kali menjadi lebih berarti ketika berlangsung dari jarak yang dekat. Dari selembar kartu pos, sebuah kenangan, kritik, kegembiraan, hingga cara seseorang memandang dunia dapat berpindah tangan, lalu menemukan makna baru di mata pengunjung. (*)