Revitalisasi Museum di Tengah Efisiensi Anggaran, Kementerian Kebudayaan Gandeng Swasta

Museum tidak boleh hanya bergantung pada APBN, tetapi harus menjadi ekosistem yang hidup dengan kolaborasi lintas sektor.

Revitalisasi Museum di Tengah Efisiensi Anggaran, Kementerian Kebudayaan Gandeng Swasta
Menbud Fadli Zon meninjau koleksi Museum Sandi di Yogyakarta, Kamis (16/10/2025) sore. (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) tetap melanjutkan komitmennya merawat warisan sejarah bangsa melalui program revitalisasi museum. Langkah itu kini ditempuh secara lebih selektif dan kolaboratif, dengan menggandeng sektor swasta, filantropis serta masyarakat sipil.

“Kita melakukan revitalisasi secara bertahap dan terbatas, bekerja sama dengan berbagai pihak. Museum tidak boleh hanya bergantung pada APBN, tetapi harus menjadi ekosistem yang hidup dengan kolaborasi lintas sektor,” ujar Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, saat meninjau Museum Sandi di Yogyakarta, Kamis (16/10/2025) sore.

Menurut Fadli, keterbatasan anggaran bukan menjadi alasan untuk menghentikan upaya pelestarian sejarah. Justru, kondisi tersebut menjadi momentum untuk membuka ruang kemitraan yang lebih luas melalui skema Public Private Partnership (PPP) atau kolaborasi publik-swasta. “Perlu ada dukungan sumber daya dan inovasi dari berbagai pihak tanpa membebani keuangan negara,” tegasnya.

Melalui pendekatan PPP, Kemenbud tengah membangun model kemitraan dengan korporasi, lembaga filantropi hingga individu yang memiliki kepedulian terhadap kebudayaan. Skema ini memungkinkan museum dikelola lebih berkelanjutan dan responsif terhadap perkembangan zaman.

Visi besar

Langkah revitalisasi ini tidak sekadar membenahi infrastruktur atau mempercantik ruang pamer. Fadli menegaskan, strategi tersebut merupakan bagian dari visi besar menjadikan museum sebagai ruang edukasi, interaksi dan inovasi budaya, bukan semata tempat penyimpanan koleksi.

Untuk menguatkan arah kebijakan, Kemenbud juga membentuk dewan pengarah revitalisasi museum, yang berperan menggalang dukungan dari berbagai pihak di luar pemerintah.

“Pemajuan kebudayaan dan revitalisasi museum memang memerlukan kerja sama lintas pihak, tidak bisa hanya mengandalkan anggaran pemerintah,” ujarnya.

Dalam kunjungan ke Yogyakarta, Fadli mencontohkan Museum Sandi, yang merekam perjalanan dunia persandian Indonesia sejak masa perjuangan kemerdekaan. Menurutnya, museum di bawah koordinasi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi ruang belajar interaktif yang relevan bagi generasi muda.

Sentuhan teknologi

“Museum Sandi punya cerita yang luar biasa. Tinggal perlu ditambah sentuhan teknologi agar lebih menarik bagi anak muda. Kita ingin museum menjadi pusat belajar, pusat budaya, dan ruang interaksi yang dinamis,” tambah Fadli.

Dengan pengelolaan dan manajemen keramaian yang tepat, lanjut dia, museum-museum di Indonesia berpeluang besar meningkatkan jumlah pengunjung. Kemenbud pasang target angka kunjungan harian mencapai 20 ribu orang per hari pada beberapa museum unggulan.

Saat ini, tercatat 460 museum di seluruh Indonesia yang telah masuk registrasi nasional museum. Melalui revitalisasi berbasis kolaborasi ini, Kemenbud berharap museum tidak lagi dipandang sebagai ruang masa lalu, melainkan sebagai pusat inspirasi masa depan. “Museum harus menjadi ruang pembelajaran yang hidup, bukan hanya tempat mengingat masa lalu,” ungkapnya. (*)