Ribuan Warga Tapa Bisu Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta
Tidak ada aba-aba maupun komando yang terdengar.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Tepat tengah malam, dentang lonceng dari Kagungan Dalem Kamandungan Lor atau Keben memecah kesunyian. Bunyinya terdengar 12 kali, menandai pergantian hari sekaligus dimulainya sebuah perjalanan yang telah diwariskan lintas generasi.
Perlahan, ribuan orang mulai melangkah keluar dari Bangsal Ponconiti Keraton Yogyakarta. Tidak ada percakapan, hanya derap kaki yang bergerak serempak menyusuri jalan-jalan di sekitar benteng keraton. Mereka menjalani tapa bisu, laku diam yang menjadi inti dari tradisi Mubeng Beteng setiap malam 1 Sura.
Selasa (16/6/2026) malam hingga Rabu (17/6/2026) dini hari itu, di kawasan Keraton Yogyakarta larut dalam suasana yang berbeda. Di saat sebagian orang menyambut pergantian tahun baru dengan keramaian, ribuan peserta Mubeng Beteng memilih menyambut Tahun Baru Jawa 1 Sura Warsa Enggal Be 1960 dengan keheningan.
Peserta datang dari berbagai penjuru. Ada Abdi Dalem yang mengenakan busana tradisional Jawa lengkap. Ada pula masyarakat umum, mulai dari warga hingga peziarah budaya dari luar daerah. Mereka berjalan bersama dalam satu irama, mengelilingi benteng keraton sepanjang kurang lebih lima kilometer.
Agenda adat
Ketua Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan Hajad Kawula Dalem, yakni agenda adat yang diselenggarakan masyarakat bersama Abdi Dalem dengan perkenan Sri Sultan Hamengku Buwono X.
"Malam ini bertepatan dengan Malam Satu Sura tahun Be 1960, atas berkenan Ngarsa Dalem Sri Sultan melalui Kawedanan Hageng Panitropuro, kami diizinkan menggunakan Kagungan Dalem Bangsal Ponconiti beserta seluruh kelengkapannya untuk menyelenggarakan kegiatan adat Hajad Kawula Dalem ini," ujarnya sebelum prosesi dimulai.
Sebelum langkah pertama diayunkan, peserta mengikuti rangkaian acara yang diawali pembacaan Macapat, hingga doa bersama. Setelah itu, suasana berubah. Ribuan orang yang sebelumnya berkumpul di halaman Bangsal Ponconiti mulai menata barisan dan memasuki keheningan.
Bagi sebagian orang, Mubeng Beteng mungkin tampak sebagai tradisi berjalan kaki mengelilingi benteng keraton. Namun bagi para pelakunya, ritual ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam.
Perjalanan hidup
Perwakilan Paguyuban Abdi Dalem, KRT Wijayapamungkas, menyebutkan laku diam tersebut merupakan sarana untuk menengok kembali perjalanan hidup yang telah dilalui.
"Meneng di sini bukan berarti pasif, melainkan diam sambil berdoa dan mengevaluasi apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Jika ada yang jelek, dikembalikan kepada yang benar," katanya.
"Di samping itu, kami juga memohon kepada Yang Maha Kuasa agar suasana Indonesia pada umumnya, dan Yogyakarta khususnya, tetap ayem-ayem tentrem," lanjutnya.
Di sepanjang perjalanan, peserta melintasi kawasan Alun-Alun Utara, Jalan Kauman, Pojok Beteng Lor Kulon, Pojok Beteng Kidul Kulon, hingga Pojok Beteng Timur sebelum kembali ke titik awal. Tidak ada aba-aba maupun komando yang terdengar. Namun ribuan orang tetap berjalan tertib dalam keheningan yang nyaris sempurna.
Catatan khusus
Tahun ini, perayaan tahun baru Hijriah 1 Muharam atau 1 Sura juga memiliki catatan khusus. Untuk pertama kalinya, Kawedanan Kridhamardawa menggelar Pergelaran Wayang Kulit Gedhog sebagai bagian dari penyambutan Tahun Be 1960.
Pertunjukan tersebut menjadi penanda datangnya tahun awal dalam siklus delapan tahunan atau windu dalam kalender Jawa. Jumlah peserta yang mengikuti Mubeng Beteng diperkirakan mencapai belasan ribu orang. Angka itu menunjukkan tradisi yang telah berusia panjang ini masih memiliki tempat di hati masyarakat. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
