Istimewa, Kloter 8 YIA Dilepas Menteri Haji Gus Irfan

Terdapat satu orang jamaah yang gagal berangkat setelah status kesehatannya ditinjau kembali dan dinyatakan tidak istithaah.

Istimewa, Kloter 8 YIA Dilepas Menteri Haji Gus Irfan
Sebagian jamaah Kloter 8 YIA dari Yogyakarta saat di Tanah Suci. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, MEKKAH – Suasana haru dan bangga menyelimuti keberangkatan jamaah haji asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 8 YIA. Diberangkatkan melalui Yogyakarta International Airport (YIA) Kulonprogo pada 1 Mei 2026, kloter ini terasa kian spesial karena dilepas langsung oleh Menteri Haji dan Umrah, Dr KH Mochamad Irfan Yusuf atau yang akrab disapa Gus Irfan.

“Kloter 8 YIA memang terasa sangat istimewa,” ujar Ketua Kloter 8 YIA, Samanto, melalui siaran pers dari Mekkah, Kamis (14/5/2026).

Samanto menjelaskan seluruh jamaah dalam rombongan ini berasal dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Aisyiyah. Meski secara organisasi solid, kondisi di lapangan membuat jumlah jamaah saat keberangkatan tidak mencapai angka sempurna 100 persen.

“Dari kapasitas seharusnya 360 orang, yang akhirnya terbang berjumlah 357 jamaah. Terdapat satu orang jamaah yang gagal berangkat setelah status kesehatannya ditinjau kembali dan dinyatakan tidak istithaah. Sementara itu, dua jamaah lainnya terpaksa ditunda keberangkatannya karena membutuhkan perawatan medis khusus,” ungkapnya.

Tanpa putus

Selama sembilan hari berada di Madinah, sebagian besar jamaah berhasil menunaikan salat Arbain 40 waktu tanpa putus. Namun, Samanto mengakui ada beberapa jamaah yang tidak bisa melaksanakannya secara penuh karena kendala kesehatan, mendampingi keluarga yang sakit, hingga faktor kodrati bagi jamaah perempuan yang sedang datang bulan.

Perjalanan ibadah berlanjut pada 10 Mei, saat jamaah diberangkatkan menuju Mekkah untuk melaksanakan umrah wajib. Sebelum memasuki kota suci, rombongan terlebih dahulu singgah di Bir Ali untuk melaksanakan salat sunnah dan melafalkan niat umrah. Menggunakan bus Shalawat nomor 18, sepanjang perjalanan menuju Mekkah kalimat talbiah terus bergema.

Setibanya di Hotel Al Zaeer Al Akhyar yang berlokasi di Jalan Ibrahim Al Kholil Nomor 804, jamaah dipersilakan beristirahat sejenak dan melaksanakan salat di masjid hotel. Memasuki malam, tepatnya pukul 21:30 waktu setempat, jamaah mulai diberangkatkan secara bergiliran per rombongan menuju Masjidil Haram untuk memulai prosesi umrah wajib.

Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Sekretariat DPRD DIY Tri Suyutiyanto yang bertugas sebagai Kepala Rombongan (Karom) 4, melaporkan rangkaian umrah dimulai dengan ibadah Tawaf. Jamaah berjalan mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali putaran dengan arah berlawanan jarum jam, yang dimulai dan diakhiri di sudut Hajar Aswad.

Minum Zamzam

“Posisi pundak kiri harus sejajar mengarah ke Kabah. Setiap kali kembali ke titik Hajar Aswad, dihitung satu putaran. Setelah genap tujuh putaran, jamaah melanjutkan dengan salat sunnah dua rakaat di belakang Makom Ibrahim, lalu meminum air Zamzam dengan adab menghadap Kabah dalam tiga kali tegukan dan tiga tarikan nafas,” kata Tri mengenai teknis ibadah tersebut.

Langkah berikutnya adalah melaksanakan Sai, yakni berlari-lari kecil di antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali, begitu pula sebaliknya, hingga rangkaian ibadah ini berakhir di bukit Marwah.

Sebagai penutup rangkaian umrah, jamaah melakukan tahalul atau memotong rambut. Bagi jamaah laki-laki, terdapat ketentuan untuk tidak memotong hingga gundul licin (pelonthos) pada tahap ini, sedangkan bagi jamaah perempuan minimal memotong tiga helai rambut sebagai simbol selasainya ibadah.

Seluruh prosesi umrah wajib tersebut selesai pukul 02:30 dini hari, sebelum akhirnya jamaah kembali ke hotel untuk beristirahat. Pada malam berikutnya, petugas kembali bergerak untuk mendampingi sekitar 20 jamaah lanjut usia dan pengguna kursi roda agar tetap bisa melaksanakan ibadah dengan aman dan nyaman. (*)