Series Samuel Jadi Magnet Pelajar, Tiga Pemain Bagikan Kisah di Balik Layar kepada Siswa SMAN 1 Kasihan

Series Samuel Jadi Magnet Pelajar, Tiga Pemain Bagikan Kisah di Balik Layar kepada Siswa SMAN 1 Kasihan
Tiga cast series Samuel hadir di Meet and Greet di SMAN 1 Kasihan, Bantul, Rabu (23/6/2026). (yvesta putu ayu/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID,YOGYAKARTA -- Kehadiran serial remaja Samuel produksi MD Studios menjadi sarana mengenalkan layanan TV berbayar digital kepada generasi muda. Melalui kegiatan Meet and Greet Cast WeTV Original Samuel yang digelar di SMAN 1 Kasihan, Bantul, Rabu (23/6/2026), ratusan siswa tak hanya diajak mengenal layanan hiburan digital, tetapi juga mendapat kesempatan berdialog langsung dengan para pemain serial tersebut.

Antusiasme siswa langsung pecah saat tiga pemeran utama, Andy William, Rafly Altama, dan Yusuf Kartiko memasuki lokasi acara. Mereka menyapa para pelajar dan berbagi cerita mengenai pengalaman selama proses produksi serial yang mengambil latar kehidupan remaja tersebut.

Bagi para siswa, kesempatan bertemu langsung dengan para pemeran serial yang tengah digemari menjadi pengalaman tersendiri. Apalagi ketiga aktor tersebut tidak hanya berbicara mengenai dunia hiburan, tetapi juga membagikan pengalaman belajar selama menjalani proses syuting yang berlangsung selama berbulan-bulan.

Andy William mengungkapkan serial tersebut memberikan banyak pengalaman baru baginya, mulai dari belajar adegan laga hingga mengendalikan emosi agar dapat mendalami karakter yang diperankan.

"Di series ini saya belajar banyak hal baru, mulai dari adegan berantem sampai belajar mengontrol diri agar tidak mudah emosi. Kami juga banyak menggunakan motor dalam adegan sehingga harus belajar berkendara," ujarnya.

Sementara itu, Rafly Altama mengaku proses produksi memberikan pengalaman berharga karena harus menjalani berbagai tantangan selama syuting, termasuk menjalani adegan berkendara saat bulan Ramadan.

"Kami syuting adegan motoran saat bulan puasa. Itu cukup menantang karena harus tetap fokus di tengah cuaca panas dan menahan lapar serta haus. Tetapi justru pengalaman seperti itu yang membuat proses syuting menjadi berkesan," katanya.

Menurutnya, suasana kekeluargaan yang terbangun di lokasi syuting menjadi alasan mengapa perpisahan setelah produksi selesai menjadi momen paling emosional bagi para pemain.

"Kami sudah seperti keluarga kedua. Hampir setiap hari bersama, kalau ada masalah langsung dibicarakan. Jadi saat syuting selesai rasanya seperti harus berpisah dengan keluarga sendiri," ungkapnya.

Hal senada disampaikan Yusuf Kartiko yang mengaku mendapat tantangan baru dalam menghidupkan karakter yang berbeda dari peran-peran sebelumnya.

"Biasanya saya memainkan karakter yang lebih pendiam, tetapi di serial ini saya memerankan karakter yang lebih aktif dan ekstrovert. Jadi ada banyak hal baru yang harus dipelajari," ujarnya.

Ia menambahkan suasana syuting yang santai membuat seluruh pemain cepat akrab satu sama lain. Bahkan, menurutnya, proses produksi lebih terasa seperti berkumpul bersama teman dibanding bekerja di lokasi syuting.

"Kami sering bercanda dan suasananya sangat cair. Rasanya seperti dibayar untuk nongkrong bersama teman-teman," katanya.

Selain berbagi cerita mengenai pengalaman di balik layar, ketiga pemain juga menegaskan bahwa Samuel tidak hanya menyuguhkan kisah percintaan remaja semata. Serial tersebut juga mengangkat persoalan pencarian jati diri, konflik keluarga, pertemanan hingga cara remaja menghadapi berbagai persoalan hidup.

"Serial ini berbicara tentang bagaimana remaja menghadapi berbagai fase kehidupan dan keluar dari zona nyaman mereka. Setiap karakter memiliki latar belakang dan masalah masing-masing yang harus diselesaikan," ujar Andy.

Menurut mereka, pesan utama yang ingin disampaikan adalah setiap persoalan, baik yang berasal dari diri sendiri maupun faktor eksternal, selalu memiliki jalan keluar selama dihadapi dengan cara yang tepat.

Salah seorang siswa, Siral Nabia, mengungkapkan Series Samuel membuatnya belajar tentang kehidupan. Banyak pesan-pesan moral selain hiburan yang disampaikan series tersebut.

"Dapat pelajaran dari karakter, tidak masalah jadi orang yang tidak kuat," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, para peserta juga diperkenalkan dengan layanan TV berbayar digital yang memungkinkan pengguna menikmati berbagai serial dan film melalui beragam perangkat seperti televisi pintar, telepon seluler, tablet, maupun laptop.

Perubahan pola konsumsi hiburan generasi muda yang kini semakin dekat dengan layanan streaming menjadi salah satu alasan perusahaan menghadirkan kegiatan promosi langsung ke lingkungan sekolah.

Bagi kalangan pelajar, kemudahan akses serta ketersediaan konten yang dekat dengan kehidupan remaja menjadi faktor utama yang membuat layanan digital semakin diminati. Kehadiran serial seperti Samuel pun dinilai mampu menjadi jembatan untuk memperkenalkan pengalaman menonton yang lebih fleksibel dan sesuai dengan gaya hidup generasi muda saat ini.

Melalui perpaduan antara hiburan, interaksi langsung dengan pemain, serta pengenalan layanan digital, kegiatan tersebut menunjukkan bagaimana industri TV berbayar terus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumsi media di kalangan generasi muda yang semakin akrab dengan platform digital. (*)