Erlita Nova Wakil DIY di Miss Grand Indonesia 2026

Kisah perjuangan Lita sebagai pengusaha muda menjadi modal kuat bersaing di tingkat nasional.

Erlita Nova Wakil DIY di Miss Grand Indonesia 2026
Erlita Nova Atika Dewi, wakil DIY dalam Miss Grand Indonesia 2026. (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di tengah dominasi narasi kontestan kecantikan yang identik dengan dunia hiburan dan modeling, sosok Erlita Nova Atika Dewi memiliki cerita berbeda. Perempuan 29 tahun yang akrab disapa Lita Nova itu datang ke panggung nasional Miss Grand Indonesia 2026 bukan hanya membawa gaun dan kemampuan catwalk, tetapi juga pengalaman hampir satu dekade membangun bisnis pemotongan dan distribusi ayam dari nol.

Lita, panggilan akrabnya, yang akan mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam ajang nasional pada Juli 2026 itu menjadikan kontes kecantikan sebagai ruang untuk menyuarakan pentingnya kemandirian ekonomi perempuan. Baginya, kecantikan bukan sekadar penampilan, melainkan keberanian mengambil keputusan dan membangun masa depan secara mandiri.

Lulusan Agroteknologi UPN Veteran Jawa Timur itu merintis bisnis sejak masih di bangku kuliah. Dari usaha kecil yang dibangun pada semester awal perkuliahan, kini jaringan distribusi usahanya telah menjangkau sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Jawa Timur, Makassar hingga Papua.

"Saya bisnis ayam sejak awal kuliah, sekitar semester dua atau tiga. Kalau dihitung sampai sekarang, hampir sepuluh tahun. Perjalanannya panjang, jatuh bangun membagi waktu antara kuliah dan merintis usaha sampai akhirnya bisa stabil seperti sekarang," ujarnya di Yogyakarta, Kamis (4/6/2026) petang.

Gerakan advokasi

Bisnis yang dijalankan Lita bergerak di bidang pemotongan dan penyediaan daging ayam segar. Dengan sistem maklon, dia membeli ayam hidup dari peternak, kemudian diproses di Rumah Pemotongan Ayam (RPA) rekanan di Pati Jawa Tengah, sebelum dipasarkan dengan mereknya sendiri.

Kesuksesan membangun usaha itulah yang kemudian melahirkan gerakan advokasi bertajuk Lead a Leader. Melalui program tersebut, Lita ingin mendorong lebih banyak perempuan berani menjadi pemimpin dan memiliki kemandirian finansial.

"Saya ingin merangkul dan memotivasi perempuan agar mampu membangun usahanya sendiri, mandiri secara finansial dan berani tampil sebagai pemimpin. Minimal menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri," katanya.

Pesan itu menjadi pembeda dalam perjalanan Lita menuju panggung nasional. Alih-alih hanya fokus mengejar gelar kecantikan, dia ingin memanfaatkan sorotan publik untuk memperluas dampak sosial yang selama ini menjadi perhatian utamanya.

Wilayah baru

Meski memiliki pengalaman panjang di dunia bisnis, Lita mengakui dunia pageant merupakan wilayah yang sama sekali baru baginya. Miss Grand Indonesia 2026 menjadi kompetisi kecantikan pertama yang diikutinya.

Dia harus menjalani berbagai pelatihan intensif selama dua hingga tiga bulan terakhir, mulai dari public speaking, penguatan mental hingga catwalk yang menjadi tantangan terbesar. "Saya benar-benar belajar dari nol. Persiapan sekarang sudah sekitar 85 persen dan yang paling banyak digembleng adalah latihan catwalk," ungkapnya.

Menjelang kompetisi nasional, Lita juga sedang menyelesaikan produksi video profil di sejumlah lokasi ikonik Yogyakarta seperti Tamansari, Pasar Ngasem hingga Museum Ullen Sentalu. Pemilihan lokasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya DIY kepada publik nasional.

Dukungan terhadap langkah Lita juga datang dari Regional Director Miss Grand DI Yogyakarta 2026, Aristha Adinegara. Menurutnya, Lita memiliki keunggulan tidak hanya dari sisi pengalaman hidup dan advokasi, tetapi juga kemampuan vokal yang berpotensi membawa prestasi pada kategori Grand Voice.

Persaingan ketat

Aristha menilai kisah perjuangan Lita sebagai pengusaha muda menjadi modal kuat untuk bersaing di tingkat nasional. Di tengah persaingan yang ketat, dia berharap wakil DIY mampu menunjukkan perempuan tidak hanya bisa tampil cantik di atas panggung, tetapi juga sukses membangun bisnis dan memberi dampak bagi masyarakat.

Bagi Lita, mahkota bukanlah tujuan akhir. Panggung Miss Grand Indonesia menjadi kesempatan untuk memperlihatkan bahwa perempuan mampu berdiri di garis depan, mengambil keputusan, menciptakan lapangan pekerjaan, sekaligus menginspirasi perempuan lain agar berani melangkah lebih jauh.

"Perempuan harus percaya bahwa mereka bisa. Tidak harus menunggu sempurna untuk memulai. Yang penting berani melangkah dan terus berkembang," ucapnya. (*)