Diskoma UGM Bahas Paradoks Banjir Konten Kesehatan

Generasi Z berpotensi mengalami penurunan kapasitas kognitif akibat konsumsi konten digital berlebihan.

Diskoma UGM Bahas Paradoks Banjir Konten Kesehatan
Sesi Foto bersama dengan narasumber Prof Dr Ana Nadhya Abrar dan dr Rianti Maharani, dalam Diskoma edisi ke-30 yang digelar secara offline di Auditorium Lt.4 Fisipol UGM. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Derasnya arus konten kesehatan di sosial media memunculkan paradoks. Semakin mudahnya akses informasi tidak selalu berbanding lurus dengan perilaku hidup sehat generasi muda.

Hal itu dibahas dalam Diskusi Komunikasi Magister Universitas Gadjah Mada (Diskoma UGM) edisi ke-30 yang digelar di Auditorium Mandiri Lantai 4 FISIPOL UGM, Sabtu (6/6/2026).

Mengusung tema Healthy or Trendy? Pengaruh Komunikasi Kesehatan terhadap Lifestyle Generasi Muda” forum ini dihadiri dua narasumber yakni Prof Dr Ana Nadhya Abrar MES selaku dosen senior Departemen Ilmu Komunikasi UGM serta praktisi kesehatan sekaligus edukator digital dr Rianti Maharani M Si FINEM AIFO-K.

Kegiatan itu diikuti lebih dari 85 peserta dari berbagai institusi, mulai dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, puskesmas, FK-KMK UGM, hingga pelajar SMA dan SMK.

Berlebihan

Prof Ana Nadhya Abrar menyoroti dampak sosial media yang intens terhadap generasi muda. Generasi Z berpotensi mengalami penurunan kapasitas kognitif akibat konsumsi konten digital berlebihan yang dipicu sistem algoritma dan pola adiktif berbasis dopamin.

“Yang paling penting saat ini adalah Generasi Z memiliki otoritas diri. Karena media sosial sekarang mampu mengontrol dan mengawasi penggunanya, Generasi Z memerlukan kesadaran atas otoritas akan dirinya,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Rabu (10/6/2026).

Dia menambahkan, hasil risetnya terhadap mahasiswa menunjukkan pengaruh media sosial cukup besar, namun cenderung menghasilkan perubahan perilaku yang bersifat permukaan. Karena itu, literasi media dinilai penting untuk memperkuat kesadaran kritis generasi muda.

Sementara itu, dr Rianti Maharani menyatakan tantangan utama saat ini bukan lagi keterbatasan informasi, melainkan kelebihan informasi yang kerap bercampur dengan hoaks. Media sosial, menurutnya, membentuk perilaku melalui rantai algoritma, persepsi, keyakinan hingga tindakan.

Enam tahapan

Dia juga memperkenalkan enam tahapan perubahan gaya hidup, yaitu mulai dari pengetahuan, sikap, niat, tindakan, kebiasaan, hingga gaya hidup yang idealnya dibangun secara konsisten dalam jangka waktu minimal 90 hari. Kredibilitas komunikator kesehatan, kata dia, menjadi faktor penting dalam menyampaikan pesan yang berdampak.

Small habits, big impact. Perubahan kecil yang berkelanjutan,” kata dr Rianti Maharani, Praktisi Kesehatan & Influencer Edukasi.

Selain seminar, Diskoma UGM ke-30 juga dimeriahkan pameran poster ilmiah Communication Highlight & Poster Exhibition yang berkolaborasi dengan Korps Mahasiswa Komunikasi (KOMAKO) S1 Ilmu Komunikasi UGM, serta pelatihan penulisan artikel populer bersama Moch Taufik Hidayatullah MA, dosen Universitas Multimedia Nusantara sekaligus mahasiswa doktoral Ilmu Komunikasi UGM.

Dalam sesi pelatihan yang diikuti 24 peserta, Taufik menyoroti jurang antara gagasan akademik dan publikasi yang dapat diakses masyarakat. Dia menyatakan pentingnya storytelling, pemahaman audiens dan karakter media dalam penulisan populer, merujuk pada gagasan Marshall McLuhan the medium is the message.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan pemberian penghargaan untuk karya terbaik pameran poster. Para narasumber sepakat, di tengah banjir informasi kesehatan, tantangan utama Generasi Z bukan sekadar memilih konten, melainkan membangun kesadaran kritis dan otoritas diri dalam menentukan gaya hidup yang sehat. (*)