Muswil VIII LDII DIY Soroti Tantangan AI dan Moral Generasi Muda
Muswil VIII LDII DIY menegaskan fokus organisasi pada regenerasi kepemimpinan, penguatan struktur hingga tingkat akar rumput, serta pembinaan generasi muda menghadapi tantangan era AI dan perkembangan teknologi digital.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII Lembaga Dakwah Islam Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (LDII DIY) resmi dibuka sebagai forum penentu arah organisasi lima tahun ke depan. Regenerasi kepemimpinan untuk menghadapi era Artificial Intelligence (AI) serta penguatan moral dan karakter generasi muda di tengah derasnya arus digital menjadi sorotan utama pembahasan.
Perwakilan Gubernur DIY, H Faishol Muslim SIP M Si, menyatakan Pemerintah Daerah DIY mengapresiasi konsistensi program LDII yang dinilai sejalan dengan visi pembangunan daerah.
"Jika kita kaitkan dengan Panca Mulia sebagai visi pembangunan DIY, yaitu mulia budayanya, manusianya, ekonominya, lingkungannya, hingga tata kelolanya, semuanya sedang dan terus dijalankan secara nyata oleh kawan-kawan LDII. Pemda DIY tidak bisa berjalan sendirian dalam menghadirkan layanan bagi seluruh masyarakat. Oleh karena itu, kemitraan strategis dan kolaborasi erat seperti ini harus terus didukung dan diperluas ke depan," kata Faishol saat membuka Muswil VIII LDII DIY di Gedung Serbaguna Mantrijeron Yogyakarta, Minggu (26/7/2026).
Salah satu keputusan penting yang mencuat dalam Muswil VIII adalah komitmen regenerasi kepemimpinan. Ketua DPW LDII DIY, Ir H Atus Syahbudin S Hut M Agr Ph D IPU, menyatakan tidak akan kembali mencalonkan diri sebagai ketua demi memberi ruang bagi kader muda.
Menurut Atus, LDII DIY kini memiliki banyak sumber daya manusia muda yang berkualifikasi doktor, berkompetensi tinggi, bahkan lulusan luar negeri sehingga siap membawa organisasi menghadapi era digital.
"Pemilihan ketua baru sepenuhnya kami serahkan kepada kedaulatan DPD. Namun, saya pribadi menyatakan tidak bersedia untuk dicalonkan kembali. Saat ini, SDM muda di tubuh LDII Jogja sudah sangat melimpah, banyak yang bergelar S3, memiliki kompetensi tinggi, bahkan lulusan luar negeri," ujarnya.
"Ini sudah zamannya AI dan digitalisasi penuh. Kita yang lebih tua harus bijaksana memberikan kesempatan dan ruang kreasi kepada yang muda agar organisasi ini mampu berlari lebih kencang daripada yang sudah-sudah," tambahnya.
Mencetak pemimpin
Sementara itu, Ketua Umum DPP LDII, H Dody Taufiq Wijaya Ak M Com CA CIA, menambahkan regenerasi merupakan bagian dari konsep generative leadership. Menurutnya, pemimpin tidak hanya bertugas mencari pengikut, tetapi juga mencetak pemimpin baru yang mampu memperkuat organisasi hingga tingkat Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Cabang (PC).
Selain regenerasi, Muswil VIII juga menyoroti tantangan perkembangan teknologi terhadap kehidupan generasi muda. Ketua Komisi VIII DPR RI, H Singgih Januratmoko SKH MM, menilai nilai-nilai agama harus menjadi fondasi agar kemajuan teknologi tidak menggerus moral masyarakat.
Sejalan dengan itu, Dody mengatakan LDII telah menyiapkan berbagai langkah preventif untuk melindungi generasi muda dari dampak negatif internet, seperti judi online, pornografi, hingga pergaulan bebas.
"Realitasnya saat ini, anak usia SD pun sudah memegang gadget. Pengawasan orang tua melalui aplikasi atau software proteksi tentu ada, tetapi itu saja tidak cukup. Anak-anak harus dibangun benteng internalnya sejak dini agar paham mana situs yang sehat dan mana yang merusak," kata Dody.
"Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (KomDigi) telah memiliki standar perlindungan anak, dan kami sebagai ormas keagamaan ikut bergerak aktif di lapangan," lanjutnya.
LDII secara berkala bekerja sama dengan KomDigi menyelenggarakan pelatihan internet sehat serta menyusun kode etik bermedia sosial bagi warganya. Di DIY, pembinaan dilakukan melalui jaringan boarding school, sekolah berkarakter dan masjid sebagai pusat pendidikan agama, literasi Al Quran serta Al Hadits.
Melalui pembinaan tersebut, LDII menargetkan lahirnya generasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan AI tanpa kehilangan integritas, akhlak dan nilai-nilai keagamaan. (*)
