Robot Tak Bisa Ajarkan Etika, IGTKI Purworejo Bekali Guru Hadapi Era 5.0

IGTKI Kabupaten Purworejo menggelar Seminar Pendidikan Penguatan Karakter Menghadapi Era 5.0 untuk meningkatkan kompetensi guru TK. Guru didorong memanfaatkan AI tanpa meninggalkan pendidikan karakter.

Robot Tak Bisa Ajarkan Etika, IGTKI Purworejo Bekali Guru Hadapi Era 5.0
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo Yudhie Agung Prihatno menyampaikan sambutan saat Seminar Pendidikan Penguatan Karakter Menghadapi Era 5.0 yang digelar IGTKI Kabupaten Purworejo di Ganesha Convention Hall, Rabu (22/7/2026). (wahyu nur asmani/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO — Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Kabupaten Purworejo mendorong guru TK terus meningkatkan kompetensi sekaligus memperkuat karakter agar mampu menghadapi perkembangan teknologi dan Artificial Intelligence (AI) di era Society 5.0. Upaya itu diwujudkan melalui Seminar Pendidikan bertema Penguatan Karakter Menghadapi Era 5.0 yang digelar di Ganesha Convention Hall, Purworejo, Rabu (22/7/2026).

"Saat ini mungkin masyarakat berpikir saat ada teknologi akan menyingkirkan manusia, tetapi saya tidak berpikir seperti itu. Keberadaan teknologi untuk memperlancar. Contohnya, robot tidak bisa menanamkan etika kepada anak didik. Di situlah peran guru," kata Ketua PGRI Kabupaten Purworejo Irianto Gunawan saat membuka Seminar Pendidikan Penguatan Karakter Menghadapi Era 5.0, Rabu (22/7/2026).

Menurut Irianto, sebagian besar guru TK di Purworejo telah menerima tunjangan profesi guru yang dimanfaatkan untuk meningkatkan kompetensi, salah satunya melalui seminar pendidikan. Tema penguatan karakter dipilih agar guru mampu menjalankan tugas secara optimal di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo Yudhie Agung Prihatno mengapresiasi komitmen IGTKI dalam meningkatkan kualitas guru. Ia menegaskan karakter guru tetap menjadi fondasi utama pembentukan karakter anak meski teknologi berkembang sangat cepat.

"Karakter guru sangat memengaruhi pembentukan karakter anak. Meskipun di era teknologi seperti saat ini, guru tetap harus memberikan perhatian, kasih sayang, dan komunikasi yang baik kepada murid. Guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat," ujarnya.

Yudhie menambahkan, guru dituntut memahami pemanfaatan teknologi, termasuk AI, untuk mendukung proses pembelajaran. Menurutnya, guru juga harus mampu membentuk anak yang tangguh, mampu berpikir kritis, dan berani menyampaikan pendapat.

Ia juga mengingatkan pentingnya menyosialisasikan tujuh kebiasaan Anak Hebat Indonesia, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur lebih awal sebagai bagian dari pembentukan karakter.

Ketua IGTKI Kabupaten Purworejo Purwani mengatakan seminar tersebut menjadi bagian dari program peningkatan kompetensi guru dan kepala TK yang rutin dilaksanakan. Sepanjang 2026, IGTKI telah menggelar dua kali pendidikan dan pelatihan, yakni pada Januari dan Juli.

Menurutnya, anak tidak perlu dijauhkan sepenuhnya dari telepon seluler. Yang lebih penting adalah pendampingan agar anak mampu memanfaatkan teknologi secara bijak sekaligus memiliki karakter yang kuat.

Sementara itu, narasumber seminar, Guru Besar Unika Semarang Prof. Dr. Kristin Widodo, M.Psi., mengingatkan guru TK agar tidak menjadikan gawai sebagai kambing hitam dalam pendidikan anak.

Ia menilai perkembangan digital harus dimanfaatkan secara positif. Guru juga diminta selalu menghadirkan semangat dan senyum saat mengajar, mengajak anak berolahraga untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, serta mengedepankan dialog saat menegur siswa dengan memberikan solusi, bukan sekadar menyalahkan.

Menurut Kristin, pembentukan karakter akan lebih efektif ketika anak merasa sehat, bahagia, dan bersemangat selama proses belajar berlangsung. (*)