UKDW Buka Prodi Baru Teknologi Pangan

Petani masih menjual kunyit atau rempah secara mentah sehingga harganya relatif murah.

UKDW Buka Prodi Baru Teknologi Pangan
Talkshow Masa Depan Pangan Indonesia saat pembukaan Prodi Teknologi Pangan. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Rabu (22/7/2026), resmi meluncurkan Program Studi (Prodi) Teknologi Pangan di bawah Fakultas Bioteknologi.

Prodi yang baru dibuka ini disiapkan untuk mencetak lulusan yang mampu mengembangkan inovasi pangan berbasis sains dan teknologi guna menjawab tantangan ketahanan pangan, kesehatan serta kebutuhan industri yang terus berkembang.

Peluncuran Prodi Teknologi Pangan dirangkai dengan talkshow bertajuk Masa Depan Pangan Indonesia: Inovasi, Keberlanjutan dan Peluang Generasi Muda.

Diskusi dihadiri Founder sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Agradaya, Andhika Mahardika serta Guru Besar Mikrobiologi Pangan Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro (Undip) Prof Dr Ir Yoyok Budi Pramono.

Keduanya membahas perkembangan industri pangan, inovasi teknologi dan kompetensi yang dibutuhkan generasi muda untuk menghadapi tantangan sektor pangan.

Andhika membagikan pengalamannya selama satu dekade membangun hilirisasi produk pertanian dan rempah tropis melalui pendekatan agroforestry. Menurutnya, lulusan teknologi pangan memiliki peran penting sebagai penghubung antara kebutuhan industri modern dengan kondisi petani di pedesaan.

"Kondisi umum di desa saat ini adalah minimnya pengolahan. Petani masih menjual kunyit atau rempah secara mentah sehingga harganya relatif murah. Ditambah lagi ada tantangan kontaminasi mikroba akibat metode pengeringan tradisional di lapangan yang tidak higienis," ujar Andhika.

Padahal, lanjut dia, untuk menembus pasar ekspor seperti Jepang dan Prancis, industri dituntut spesifikasi yang sangat kaku, seperti batas kadar air (moisture content) hingga pemenuhan standar bebas aflatoksin.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Andhika memperkenalkan teknologi pascapanen berupa solar dome bertenaga surya yang mampu menghasilkan suhu 55-60 derajat Celcius sehingga proses pengeringan berlangsung lebih cepat dan higienis.

Menurutnya, penerapan mekanisasi sederhana dan Standard Operating Procedure (SOP) di tingkat BUMDes maupun koperasi menjadi kunci agar komoditas desa memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar global.

Kebutuhan dasar

Senada, Prof Yoyok menyebutkan prospek bidang teknologi pangan akan terus berkembang karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar manusia. Menurutnya, diversifikasi produk pangan yang semakin pesat membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai ilmu pangan, tetapi juga memiliki kemampuan technopreneurship.

"Potensi dan peluang sektor ini berkembang luar biasa pesat. Jika dulu saat saya kecil jenis jajanan sangat terbatas, hari ini kita melihat diversifikasi produk pangan baru yang berbasis tren tumbuh masif di pusat perbelanjaan modern. Di sinilah kompetensi technopreneurship seperti yang dijalankan Mas Andhika sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan masa depan," ungkapnya.

Ketua Program Studi Teknologi Pangan UKDW, Catarina Aprilia Ariestanti STP M Sc, mengatakan prodi tersebut dibuka sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan Indonesia akan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan inovasi pangan berbasis sumber daya hayati tropis secara berkelanjutan.

"Prodi Teknologi Pangan UKDW hadir untuk menjawab tantangan ketahanan dan inovasi pangan berbasis sumber daya hayati tropis yang berkelanjutan. Dengan mengintegrasikan ilmu teknologi pangan modern dan pendekatan bioteknologi, kami berkomitmen mencetak lulusan yang unggul secara akademik serta mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat," ujarnya.

Sebagai bagian dari Fakultas Bioteknologi, Prodi Teknologi Pangan mengintegrasikan ilmu dan teknologi pangan dengan pendekatan bioteknologi untuk mempelajari pengolahan bahan pangan hewani maupun nabati melalui proses fisik, biologis dan kimiawi sehingga menghasilkan pangan yang aman, berkualitas, bergizi serta bermanfaat bagi kesehatan.

Salah satu keunggulannya adalah pengembangan indigenous nutraceutical dan functional food, yakni produk berbahan hayati khas Indonesia yang tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga memberikan manfaat bagi kesehatan.

Selain itu, prodi ini juga mengembangkan teknologi pengolahan hasil pertanian tropis melalui pendekatan biosains tropis yang memadukan ilmu pengetahuan, teknologi dan kearifan lokal.

Catarina menjelaskan, kurikulum disusun mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan industri dengan mengintegrasikan teknologi pangan, kimia pangan, mikrobiologi pangan dan rekayasa pangan.

Proses pembelajaran didukung laboratorium modern, dosen berpengalaman, riset terapan, magang industri, serta kolaborasi dengan berbagai mitra nasional maupun internasional.

"Lulusan dipersiapkan menjadi sarjana teknologi pangan yang inovatif, berintegritas, memiliki jiwa kewirausahaan, dan siap bersaing di tingkat global," katanya.

Menurut Catarina, lulusan Prodi Teknologi Pangan memiliki peluang berkarier sebagai tenaga quality assurance, quality control, research and development, analis laboratorium, production planning and inventory control, product specialist, konsultan pangan dan nutraceutical hingga food technopreneur.

Dia menilai Prodi Teknologi Pangan menjadi langkah strategis UKDW dalam memperkuat kontribusi terhadap pembangunan sektor pangan nasional melalui pendidikan, riset, inovasi dan kolaborasi dengan industri.

UKDW berharap lahir inovator pangan yang mampu mengolah kekayaan hayati Indonesia menjadi produk pangan yang aman, bernilai tambah dan berdaya saing global untuk mendukung ketahanan pangan nasional. (*)