Perkuat Stabilitas Sosial, FKUB Purworejo Serap Praktik Baik Kerukunan dari Jawa Timur
FKUB dan Pemkab Purworejo membawa pulang strategi penguatan kerukunan umat beragama usai studi komparasi ke Kota Probolinggo dan Kota Batu.
KORANBERNAS.ID, PURWOREJO – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Purworejo bersama Pemerintah Kabupaten Purworejo membawa pulang sejumlah strategi penguatan kerukunan umat beragama setelah melakukan studi komparasi ke Kota Probolinggo dan Kota Batu, Jawa Timur.
Hasil kunjungan tersebut akan menjadi referensi untuk memperkuat tata kelola kelembagaan FKUB, pola kemitraan antarlembaga, serta menjaga stabilitas sosial di Kabupaten Purworejo.
"Kami memperoleh banyak pembelajaran mengenai tata kelola kelembagaan FKUB, pola kemitraan antara Badan Kesbangpol, Kementerian Agama, dan FKUB, serta strategi membangun komunikasi lintas agama yang efektif," kata Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Purworejo Ahmad Jainudin dalam siaran pers usai Studi Komparasi FKUB Kabupaten Purworejo ke Kota Probolinggo dan Kota Batu, Senin (20/7/2026).
"Pengalaman ini akan menjadi referensi penting bagi Pemerintah Kabupaten Purworejo dalam memperkuat program kerukunan umat beragama dan menjaga stabilitas sosial," lanjutnya.
Studi komparasi berlangsung selama dua hari, yakni Kamis (16/7/2026) di Kota Probolinggo dan Jumat (17/7/2026) di Kota Batu. Kegiatan difokuskan pada penguatan sinergi antara pemerintah daerah melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) dengan FKUB dalam menjaga kerukunan umat beragama.
Rombongan dipimpin Ahmad Jainudin didampingi Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Purworejo Nur Huda, Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Purworejo Puguh Trihatmoko, perwakilan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purworejo Uan Abdul Hanan, Ketua FKUB Kabupaten Purworejo KH Khabib Soleh, serta jajaran pengurus FKUB.
Di Kota Probolinggo, rombongan diterima Kepala Badan Kesbangpol Kota Probolinggo Muhammad Sonhadji bersama Ketua FKUB Kota Probolinggo Ahmad Hudri serta jajaran pengurus FKUB dan Kesbangpol.
Dalam pemaparannya, Muhammad Sonhadji menegaskan bahwa kerukunan umat beragama hanya dapat terjaga melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, FKUB, Kementerian Agama, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), dan tokoh agama. Komunikasi yang intensif, deteksi dini potensi konflik, serta pembinaan masyarakat dinilai menjadi faktor penting menjaga kondusivitas daerah.
Ahmad Hudri turut memaparkan pengalaman Kota Probolinggo dalam membangun dialog lintas agama, memperkuat moderasi beragama, serta menyelesaikan persoalan sosial keagamaan melalui pendekatan musyawarah.
Keesokan harinya, rombongan melanjutkan kunjungan ke Kota Batu dan diterima Sekretaris Badan Kesbangpol Kota Batu yang mewakili Kepala Badan Kesbangpol Kota Batu Ahmad Dahlan, didampingi Ketua FKUB Kota Batu Mokhammad Rubai dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batu Moh Zainal Arifin.
Dalam pertemuan tersebut dijelaskan bahwa keberhasilan menjaga kerukunan di Kota Batu ditopang sinergi pemerintah daerah, Kesbangpol, Kementerian Agama, FKUB, Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat.
Sinergi diwujudkan melalui dialog lintas agama, penguatan moderasi beragama, edukasi masyarakat, deteksi dini konflik, hingga penyelesaian persoalan secara persuasif.
Ketua FKUB Kabupaten Purworejo KH Khabib Soleh mengatakan hasil studi komparasi akan menjadi bahan evaluasi sekaligus pengembangan program FKUB di Purworejo.
"Kerukunan merupakan modal sosial yang sangat penting bagi keberhasilan pembangunan daerah. Karena itu, FKUB harus terus bersinergi dengan Pemerintah Daerah, Badan Kesbangpol, Kementerian Agama, Forkopimda, serta seluruh tokoh agama untuk menjaga persatuan, memperkuat toleransi, dan mewujudkan kehidupan masyarakat yang damai," ujarnya.
Kegiatan di kedua daerah diakhiri dengan dialog dan pertukaran pengalaman mengenai praktik terbaik menjaga kerukunan umat beragama, dilanjutkan penyerahan cendera mata serta foto bersama sebagai simbol komitmen memperkuat sinergi antardaerah dalam mendukung pembangunan yang kondusif. (*)
Wahyu Nur Asmani EW
