Sumbu Filosofi Yogyakarta Hidup dalam Karya Busana

Karya tugas akhir mahasiswa Akademi Kesejahteraan Sosial (AKS) AKK Yogyakarta itu ditampilkan di Ambarrukmo Plaza.

Sumbu Filosofi Yogyakarta Hidup dalam Karya Busana
Fashion show karya mahasiswa AKS AKK Yogyakarta di Atrium  Ambarrukmo Plaza, Senin (20/7/2026).(yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Sumbu Filosofi Yogyakarta tak lagi hanya dipahami sebagai warisan budaya dan tata ruang kota. Nilai-nilai filosofis yang membentang dari Pantai Selatan hingga Gunung Merapi itu kini diterjemahkan menjadi karya-karya busana yang hidup melalui gelaran Fashion: Journey of Sumbu Filosofi Yogyakarta.

Karya tugas akhir mahasiswa Akademi Kesejahteraan Sosial (AKS) AKK Yogyakarta itu ditampilkan di Atrium Ambarrukmo Plaza, Senin (20/7/2026). Fashion show tersebut menjadi panggung bagi mahasiswa untuk mempresentasikan hasil gelar cipta 2026 sekaligus menunjukkan filosofi Yogyakarta dapat menjadi sumber inspirasi industri mode.

Konsep acara tidak sekadar menampilkan busana, tetapi juga interpretasi visual terhadap perjalanan manusia yang digambarkan melalui Sumbu Filosofi Yogyakarta. Mahasiswa melakukan eksplorasi mulai dari pemilihan material, teknik pembuatan, hingga desain yang mempertimbangkan aspek sejarah, filosofi dan nilai komersial.

Direktur AKK Yogyakarta, Prihatin Saraswati, mengatakan tema tahun ini dipilih karena Yogyakarta semakin dikenal sebagai kota fesyen. Namun, belum banyak karya busana yang benar-benar mengangkat identitas Yogyakarta sebagai sumber inspirasi utama.

"Menurut saya, memaknai Yogyakarta bisa dari banyak sisi. Sekarang Jogja identik dengan dunia fashion karena banyak event fesyen digelar di sini, tetapi masih jarang karya yang benar-benar mengangkat Yogyakarta itu sendiri. Karena itu kami memilih Sumbu Filosofi sebagai inspirasi," katanya.

Prihatin menjelaskan, berbeda dengan tema tahun sebelumnya yang masih bersifat universal, kali ini mahasiswa diminta mengimplementasikan nilai-nilai Sumbu Filosofi yang membentang pada garis imajiner dari Pantai Selatan, Keraton Yogyakarta, Tugu Pal Putih hingga Gunung Merapi. "Setiap titik memiliki makna filosofis yang kemudian diterjemahkan menjadi karakter busana," ujarnya.

Identitas budaya

Dosen Program Studi Desain Busana AKK Yogyakarta, Hari Agung Wicaksono, mengatakan tema Sumbu Filosofi dipilih karena Yogyakarta telah berkembang menjadi salah satu kota fashion di Indonesia. Namun, menurutnya, belum banyak karya mode yang mengangkat identitas budaya Yogyakarta sebagai sumber inspirasi utama.

"Jogja sekarang identik dengan berbagai event fashion. Tetapi masih jarang yang benar-benar mengangkat Jogja itu sendiri. Karena itu kami berusaha mengenalkan Jogja melalui Sumbu Filosofi yang memiliki makna sangat dalam," ungkapnya.

Hari menjelaskan mahasiswa tidak hanya mendesain busana, tetapi juga melakukan eksperimen mulai dari pemilihan material, teknik pembuatan kain, hingga penciptaan motif. Seluruh proses dilakukan dengan mempertimbangkan nilai historis setiap karya agar mampu melahirkan produk fesyen yang memiliki karakter kuat.

Perjalanan filosofis itu diterjemahkan mahasiswa ke dalam lima bagian utama Sumbu Filosofi Yogyakarta. Pantai Selatan menjadi titik awal yang dimaknai sebagai simbol kelahiran, kesucian, serta kehidupan. Unsur mitologi, warna laut, hingga kisah-kisah yang berkembang di kawasan tersebut menjadi inspirasi berbagai desain.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Kandang Menjangan yang menyimpan sejarah Sri Sultan ketika berburu rusa. Selanjutnya Keraton Yogyakarta diangkat sebagai pusat kebudayaan yang menghadirkan inspirasi dari arsitektur, simbol kerajaan hingga nilai-nilai tradisi yang diwariskan turun-temurun.

"Mahasiswa kemudian menerjemahkan Tugu Yogyakarta sebagai simbol spiritual dan kemenangan melalui dominasi warna putih serta emas," ujarnya.

Sementara Gunung Merapi menjadi penutup perjalanan filosofi yang dimaknai sebagai simbol semeleh, yakni kepasrahan manusia kepada Sang Pencipta setelah menjalani perjalanan hidup. Filosofi tersebut divisualisasikan melalui dominasi warna hitam yang merepresentasikan kawah Merapi dengan sentuhan merah sebagai simbol energi alam.

Seluruh konsep tersebut diwujudkan dalam 68 karya busana hasil kreasi 34 mahasiswa. Sebanyak 26 model yang terdiri atas 13 perempuan dan 13 laki-laki memperagakan koleksi tersebut di atas panggung.

Hari mengatakan proses penciptaan busana juga menjadi bagian dari pembelajaran industri kreatif. Mahasiswa diwajibkan berkolaborasi dengan pelaku UMKM sehingga seluruh karya menggunakan produk kustom atau handmade, bukan kain bermotif printing pabrikan.

"Mereka membuat sendiri materialnya, ada yang membatik, menggunakan teknik jumputan, mengembangkan motif sendiri, sehingga mahasiswa juga belajar membangun kolaborasi dengan UMKM dari hulu hingga hilir," katanya.

Konsep keberlanjutan juga mulai diterapkan dalam proses penciptaan karya. Sejumlah mahasiswa menggunakan pewarna alami, kain tenun ATBM, serta berbagai material yang lebih ramah lingkungan sebagai bagian dari penerapan sustainable fashion yang kini menjadi arah perkembangan industri mode global.

Melalui pergelaran ini, AKK Yogyakarta berharap para lulusannya tidak hanya menghasilkan karya yang kreatif dan memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mampu menjadikan warisan budaya Yogyakarta sebagai identitas yang hidup di panggung fashion.

"Sumbu Filosofi pun tidak hanya hadir sebagai warisan dunia, melainkan terus dikenalkan kepada generasi baru melalui bahasa universal bernama busana," ujarnya. (*)