Faisol Reza Buka Pameran “Energi Rupa” Afnan Malay, Kisah Penyintas Stroke yang "Menyala" Lewat Lukisan
Pameran Energi Rupa Afnan Malay resmi dibuka Faisol Reza di Kembang Jati Art House, Bantul. Lebih dari 25 lukisan abstrak menampilkan kisah penyintas stroke yang bangkit lewat seni rupa
KORANBERNAS.ID, BANTUL–Delapan tahun setelah serangan stroke mengubah kondisi fisiknya, penyair dan aktivis Afnan Malay justru menemukan bahasa baru untuk menyampaikan gagasan dan pergulatan batinnya. Jika selama ini ia dikenal melalui puisi, kini ia berbicara lewat sapuan warna di atas kanvas. Perjalanan itu diwujudkan dalam Pameran "Energi Rupa" Afnan Malay yang resmi dibuka Wakil Menteri Perindustrian RI Faisol Reza di Kembang Jati Art House, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Sabtu (18/7/2026).
Lebih dari 25 lukisan abstrak dipamerkan dalam ajang yang berlangsung hingga 27 Juli 2026 tersebut. Setiap karya menjadi jejak perjalanan Afnan bangkit sebagai penyintas stroke, memadukan pengalaman sebagai penyair, aktivis, penulis, sekaligus perupa ke dalam bahasa visual yang kaya warna, gestur, dan refleksi kemanusiaan.
Bagi Afnan, kembali melukis bukan sekadar menghidupkan hobi lama. Seni rupa menjadi ruang baru untuk mengekspresikan hal-hal yang tak lagi cukup disampaikan melalui kata-kata.
"Pada akhirnya saya kembali ke seni rupa. Dari sanalah saya merasakan energi saya mengalir deras. Saya melukis hampir setiap hari," ungkap Afnan.
Keputusan itu menjadi titik balik perjalanan kreatifnya. Setelah bertahun-tahun berkecimpung di dunia sastra, jurnalisme, advokasi, politik, hingga aktivisme, alumnus Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta dan Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta tersebut kembali menapaki jalan yang pernah ia tinggalkan. Pengalaman stroke yang dialaminya di London pada 2018 justru menjadi momentum lahirnya cara pandang artistik yang baru.
Saat membuka pameran, Faisol Reza mengaku merasakan kekuatan yang terpancar dari setiap karya Afnan.
"Saya melihat goresan penuh tenaga. Warna-warnanya juga sangat kuat pesannya kepada orang-orang yang melihat lukisan ini," kata Faisol.
Menurutnya, judul-judul karya yang dipilih Afnan mengajak publik menyelami pengalaman hidup sang seniman, mulai dari pergulatan pribadi hingga refleksi sosial yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sebagai penyair dan aktivis.
"Saya merasa ikut merasakan apa yang dia pikirkan dan alami. Bahkan beberapa karya sangat berkesan. Saya melihatnya seperti karya seorang pelukis yang sudah kawakan. Saya sangat menyukai liuk-liuk goresannya dengan warna-warna yang kuat," ujarnya.
Sang pelukis Afnan Malay membersamai Wamen Faisol Reza berkeliling ruang pameran. (warjono/koranbernas.id)
Energi yang Lahir dari Tubuh, Ingatan, dan Harapan
Kurator pameran, Rain Rosidi, melihat Energi Rupa bukan sekadar pameran seni abstrak, melainkan perjalanan seorang seniman yang menemukan kembali bahasa visual setelah tubuhnya mengalami perubahan.
Menurut dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu, pengalaman stroke memang menjadi bagian penting dari kehidupan Afnan, tetapi bukan menjadi pusat cerita dalam karya-karyanya. Yang jauh lebih menarik adalah bagaimana perubahan kondisi fisik justru melahirkan cara baru dalam membangun dialog antara tubuh, kuas, warna, dan kanvas.
"Energi dalam pameran ini tidak semata-mata menunjuk pada karakter visual yang ekspresif ataupun dinamika warna yang memenuhi kanvas. Energi dipahami sebagai daya yang memungkinkan praktik penciptaan terus berlangsung ketika tubuh mengalami perubahan," jelas Rain.
Karena itu, setiap sapuan kuas tidak lagi sekadar membentuk gambar, tetapi merekam proses negosiasi antara tubuh, ingatan, pengalaman hidup, dan kreativitas yang terus tumbuh.
Pendekatan tersebut tampak dalam sejumlah karya seperti Parangtritis, Erupsi Merapi, Fly Over, Berebut Kursi, hingga Kuburan Massal. Meski berangkat dari objek dan pengalaman yang nyata, Afnan tidak menghadirkannya secara ilustratif. Ia mengolahnya menjadi komposisi warna, tekstur, dan gestur yang memberi ruang bagi penonton untuk menafsirkan sendiri makna di balik setiap lukisan.
Abidin Fikri: Energi Kreatif Afnan Tak Pernah Padam
Anggota DPR RI Abidin Fikri, yang menulis pengantar dalam katalog pameran, menilai "Energi Rupa" memperlihatkan bahwa semangat berkarya Afnan tidak pernah surut meski pernah menghadapi ujian berat.
Menurut Abidin, selama ini energi kreatif Afnan banyak dituangkan melalui puisi. Kini energi yang sama menemukan medium baru dalam seni rupa abstrak.
"Pada lukisan Afnan saya melihat garis-garis yang penuh warna, terkadang tebal, memperlihatkan ekspresi sekaligus imajinasi yang liar. Lukisan-lukisan seperti Parangtritis, Erupsi Merapi, Telaga Kecil, dan Tertidur seolah menunjukkan kegembiraan batin ketika ia melukis," tulis Abidin.
Menurutnya, Energi Rupa bukan hanya tentang seni abstrak, melainkan juga tentang energi kehidupan yang terus menyala. Sebagai penyintas stroke, Afnan membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah membatasi daya cipta.
Pameran tunggal "Energi Rupa" diselenggarakan oleh Sastra Bulan Purnama dengan dukungan PLN dan Abidin Fikri Pandjialam Foundation. Pembukaan pameran turut dimeriahkan pembacaan puisi oleh Nunung Rieta, Sonia Prabowo, Jasmine Azahra, serta penampilan lagu puisi oleh Luwi Darto.
Lebih dari sekadar memamerkan karya seni, Pameran Energi Rupa Afnan Malay menjadi kisah tentang keteguhan seorang seniman yang memilih terus berkarya di tengah perubahan hidup. Dari kanvas-kanvas penuh warna itu, Afnan menghadirkan pesan sederhana namun kuat: kreativitas selalu menemukan jalannya, dan harapan tak pernah kehilangan energi. (*)
---
