Karawitan masih Memiliki Relevansi Kuat di Tengah Kehidupan Modern
Festival Karawitan dan Bazar Nusantara #8
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Sebanyak 52 kelompok karawitan dari berbagai daerah memeriahkan Festival Karawitan dan Bazar Nusantara #8 yang diselenggarakan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu dan Minggu (18 dan 19 Juli 2026). Tidak hanya menjadi panggung seni tradisi, kegiatan yang merupakan rangkaian Dies Natalis ke-59 Fakultas Filsafat UGM ini juga menghadirkan 30 tenan UMKM sebagai upaya memperkuat sinergi antara pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ketua Panitia, Dr. Sartini, M.Hum., melalui siaran pers menjelaskan bahwa festival tersebut telah memasuki penyelenggaraan kedelapan. Gagasan awalnya muncul karena banyaknya kelompok karawitan di lingkungan UGM yang membutuhkan ruang bersama untuk tampil dan berjejaring. Dari tahun ke tahun, festival terus berkembang, baik dari jumlah peserta maupun cakupan kegiatannya.
"Festival ini berawal dari keinginan untuk menyediakan wadah bagi kelompok-kelompok karawitan di UGM. Kini kami bersyukur dapat menghadirkan 52 kelompok karawitan dan 30 tenan UMKM sebagai bagian dari perayaan budaya bersama," ujarnya.
Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., menegaskan bahwa festival ini merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya aspek pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya bangsa. Karawitan masih memiliki relevansi kuat di tengah kehidupan modern karena mengajarkan nilai-nilai harmoni, kerja sama, serta kedisiplinan. "Karawitan bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga media untuk menanamkan karakter dan melestarikan budaya bangsa," katanya.
Dukungan terhadap festival juga datang dari Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kepala Dinas Kebudayaan DIY yang diwakili Kepala Bidang Perencanaan dan Monitoring Evaluasi, Rully Andriadi, S.S., menyebut momentum Bulan Warisan Dunia menjadi kesempatan penting untuk memperkuat pelestarian gamelan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Harapannya Festival Karawitan Fakultas Filsafat UGM dapat menjadi bagian dari rangkaian agenda Bulan Warisan Dunia pada 2027, sehingga memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Aspek pemberdayaan ekonomi turut menjadi perhatian dalam festival tersebut. Asisten Deputi Pemasaran dan Digitalisasi Usaha Mikro Kementerian UMKM RI, Ari Anindya Hastika, S.T.P., menilai kehadiran puluhan pelaku UMKM menunjukkan bahwa seni dan budaya dapat menjadi penggerak ekosistem ekonomi lokal. Menurutnya, UMKM tidak dapat berkembang sendiri, melainkan membutuhkan ruang kolaborasi dengan berbagai pihak.
"Di Festival Karawitan Fakultas Filsafat UGM terlihat adanya sinergi antara seni, budaya, pendidikan, dan UMKM dalam satu ruang yang sama. Kolaborasi seperti ini membuka peluang lebih besar bagi produk-produk lokal untuk dikenal masyarakat," ungkapnya.
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., mengapresiasi konsistensi Fakultas Filsafat dalam menyelenggarakan festival budaya yang melibatkan masyarakat luas. Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan jati diri UGM sebagai universitas yang berakar pada kebudayaan.
Rektor juga menilai Festival Karawitan Fakultas Filsafat telah berkembang menjadi salah satu festival budaya yang besar di lingkungan UGM. Dengan peserta yang berasal dari beragam komunitas, festival ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian seni tradisi, tetapi juga memperkuat jejaring budaya antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas seni, dan pelaku UMKM. (*)
Siaran Pers
