Tak Perlu Riset Mahal, Irwan Hidayat Buka Jalan UMKM Masuk Bisnis Jamu Berbasis Ilmiah

Irwan Hidayat mengajak UMKM berani memproduksi jamu dengan memanfaatkan hasil riset tanaman obat yang sudah tersedia. Peluang bisnis herbal Indonesia dinilai terbuka lebar tanpa harus mengeluarkan biaya riset mahal

Tak Perlu Riset Mahal, Irwan Hidayat Buka Jalan UMKM Masuk Bisnis Jamu Berbasis Ilmiah
Irwan Hidayat saat menjadi pembicara dalam Seminar Festival Jamu Nusantara 2026 di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Jumat (17/7/2026). (warjono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Banyak pelaku UMKM mengurungkan niat memproduksi jamu karena menganggap penelitian ilmiah membutuhkan biaya besar dan proses yang rumit. Anggapan itu justru ingin dipatahkan Direktur Utama PT Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat.

Menurut Irwan, pelaku usaha tidak perlu lagi menghabiskan waktu dan biaya untuk mengulang penelitian dari awal. Berbagai riset mengenai tanaman obat Indonesia telah tersedia dan bisa langsung dimanfaatkan sebagai bekal membangun usaha herbal yang aman, berkualitas, dan memiliki daya saing hingga pasar global.

Usaha kecil tidak perlu meneliti sendiri karena hanya akan mengulang-ulang hal yang sama. Penelitian itu sudah dilakukan oleh banyak orang, kata Irwan Hidayat saat menjadi pembicara dalam Seminar Festival Jamu Nusantara 2026 di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Jumat (17/7/2026).

Bagi Irwan, Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang jauh lebih besar dibanding banyak negara lain, yakni kekayaan biodiversitas berupa ribuan tanaman yang berpotensi menjadi bahan baku obat herbal.

Kekayaan alam kita dapat diolah agar menjadi sesuatu yang bermanfaat, ujarnya.

UMKM Diminta Berani Memulai

Irwan menilai tantangan terbesar pelaku UMKM bukan terletak pada minimnya bahan baku, melainkan rasa tidak percaya diri untuk memulai usaha jamu berbasis ilmiah.

Padahal, menurut dia, saat ini hasil penelitian berbagai tanaman obat telah banyak dipublikasikan oleh perguruan tinggi maupun lembaga penelitian. Yang dibutuhkan pelaku usaha adalah keberanian memanfaatkan pengetahuan tersebut menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Transformasi itu sebenarnya mudah karena penelitiannya sudah ada. Tinggal mempraktikkannya, katanya.

Untuk memudahkan masyarakat, Sido Muncul menghadirkan Sidoherbalpedia, portal edukasi yang menghimpun hasil kajian literatur, uji praklinis, hingga uji klinis terhadap sekitar 80 tanaman obat tradisional Indonesia.

Mulai dari temulawak, kunyit, daun salam, daun katuk, hingga mahkota dewa, seluruh informasi mengenai kandungan, manfaat, mekanisme kerja, tingkat keamanan, dosis, dan referensi ilmiahnya dapat diakses sebagai bahan pembelajaran.

Melalui portal tersebut, pelaku UMKM cukup mempelajari proses produksi yang benar tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk melakukan penelitian sendiri.

Kalau temulawak misalnya, mereka bisa melihat prosesnya, uji keamanannya, sampai daftar pustakanya. Jadi bisa dimanfaatkan oleh semua orang, termasuk pelaku UKM, ujar Irwan.

Peluang Besar Jamu Indonesia di Pasar Dunia

Irwan meyakini masa depan industri herbal Indonesia masih sangat terbuka. Menurutnya, banyak obat modern pada awalnya juga berasal dari senyawa alami yang ditemukan pada tumbuhan.

Karena itu, ia mengajak masyarakat kembali memanfaatkan kekayaan hayati Indonesia melalui pendekatan ilmiah agar mampu menghasilkan produk yang dipercaya konsumen, baik di dalam maupun luar negeri.

Untuk pasar global, ini menjadi peluang. Semua orang bisa mempraktikkannya, tidak harus menunggu perusahaan farmasi besar, katanya.

Ia menambahkan, masyarakat kini juga semakin mudah memperoleh informasi ilmiah mengenai tanaman obat. Kondisi tersebut membuat peluang membangun usaha jamu menjadi jauh lebih terbuka dibanding beberapa dekade lalu.

Riset Menjadi Fondasi Kepercayaan

Meski mengajak UMKM memanfaatkan hasil penelitian yang telah tersedia, Irwan menegaskan riset tetap menjadi fondasi utama dalam membangun industri herbal yang dipercaya masyarakat.

Pengalaman itulah yang dijalankan Sido Muncul sejak 1985 dengan mengadopsi standardisasi industri farmasi, kemudian dilanjutkan melalui berbagai uji toksisitas dan uji khasiat bersama perguruan tinggi.

Komitmen tersebut diperkuat dengan keberadaan laboratorium quality control, quality assurance, laboratorium produksi, hingga Research and Development (R&D), termasuk laboratorium farmakologi yang baru diresmikan untuk mempercepat pembuktian ilmiah berbagai klaim tanaman herbal.

Roh dari setiap usaha adalah penelitian atau riset. Tanpa alat dan sumber daya manusia yang mumpuni, kami tidak mungkin bisa seperti sekarang, ujar Irwan.

Sementara itu, Rektor UKDW Yogyakarta Dr.-Ing. Wiyatiningsih mengatakan kampusnya berkomitmen memperkenalkan jamu kepada generasi muda melalui pendekatan ilmiah.

Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Sido Muncul, diharapkan mampu melahirkan lebih banyak inovasi sekaligus mendorong lahirnya pelaku usaha baru yang memanfaatkan kekayaan tanaman obat Indonesia secara bertanggung jawab. (*)