Pepaya yang Terabaikan Disulap UMBY Menjadi Keripik Bernilai Ekonomi
Tim dosen dan mahasiswa UMBY melatih santriwati Ponpes Rumah Sajada Sleman mengolah pepaya muda menjadi Keripik Pepaya Mustofa sebagai upaya mendorong lahirnya usaha produktif dan kemandirian ekonomi pesantren.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN – Tim dosen dan mahasiswa Program Studi Teknologi Hasil Pertanian (THP) Fakultas Agroindustri Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) melatih santriwati Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Rumah Sajada, Sidokarto, Kapanewon Godean, Sleman mengolah pepaya muda menjadi produk pangan bernilai jual berupa Keripik Pepaya "Mustofa". Program ini diharapkan menjadi awal lahirnya usaha produktif yang mendukung kemandirian ekonomi pesantren.
"Langkah ini kami ambil untuk merespons banyaknya pohon pepaya yang tumbuh subur di sekitar lingkungan pesantren namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Melalui sentuhan teknologi pangan sederhana, pepaya yang biasanya hanya dijual murah dapat diolah menjadi makanan kekinian," kata Ketua Tim Pengabdian Prof. Siti Tamaroh Cahyono Murti dalam siaran pers, Selasa (21/7/2026), terkait kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan 28 Juni 2026.
Menurut Prof. Tamaroh, inovasi Keripik Pepaya "Mustofa" diharapkan mampu melahirkan usaha baru berskala home industry yang dikelola pesantren sehingga dapat memperkuat kemandirian ekonomi panti asuhan secara berkelanjutan.
“Melalui inovasi Keripik Pepaya 'Mustofa' ini, diharapkan akan lahir usaha baru berskala industri rumah tangga dari dalam pesantren yang mampu mendukung kemandirian ekonomi panti asuhan secara berkelanjutan,” lanjutnya.
Tim pengabdian dipimpin Prof. Siti Tamaroh Cahyono Murti dengan anggota Dr. Bayu Kanetro, teknisi laboran Indarti, S.TP., serta mahasiswa Sri Hartati, Syakirah Tsaqif Natsir, dan Chayrunisya Salsabila Putri Januari.
Sebanyak 25 santriwati bersama pengasuh pondok mengikuti pelatihan yang diawali dengan sosialisasi dan dilanjutkan praktik pengolahan pepaya muda. Peserta dikenalkan tahapan produksi mulai dari persiapan bahan, pencampuran tepung beras, terigu, dan tapioka hingga proses penggorengan.
Untuk menjaga kualitas produk, tim THP UMBY memperkenalkan penggunaan mesin spinner guna meniriskan minyak setelah penggorengan. Keripik kemudian dicampur bumbu pedas manis berempah, dioven selama 15 menit pada suhu 90–100 derajat Celsius, lalu packing ke dalam toples.
“Kami tidak hanya melakukan transfer ilmu saja, kami pun menyerahkan bantuan berupa alat spinner dan berbagai perlengkapan produksi lainnya kepada pihak pesantren agar kegiatan produksi bisa berlanjut,” terang Prof. Tamaroh.
Pengasuh Ponpes Rumah Sajada, Nur Kholifah, S.Si., menyambut baik program tersebut. Menurutnya, pelatihan memberikan keterampilan yang dapat menjadi bekal bagi para santriwati.
"Kegiatan ini memberikan keterampilan nyata bagi para santriwati. Ilmu pengolahan pangan dan kewirausahaan ini akan menjadi bekal kemandirian yang sangat berharga bagi mereka setelah lulus dari Pondok Sajada nanti," ungkap Nur Kholifah. (*)
Sariyati Wijaya
