KKN PKMSK UPY Dorong Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Sanggrahan
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Permasalahan sampah rumah tangga masih menjadi tantangan di banyak kawasan permukiman, termasuk di RT 008 Kampung Sanggrahan, Sonopakis Kidul. Sampah organik dan anorganik yang tercampur, serta kebiasaan pembakaran terbuka yang menimbulkan asap, menjadi persoalan yang berdampak pada kebersihan lingkungan dan kesehatan warga.
Melalui program KKN PKMSK (Kuliah Kerja Nyata Peduli Kampus dan Masyarakat Sekitar Kampus), Kelompok 3 mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menghadirkan solusi nyata bertajuk “Pengelolaan Sampah Botol Plastik Berkelanjutan melalui Bak Sampah Khusus Botol dan Rocket Stove sebagai Alat Pembakar Sampah Organik Minim Asap.”
Kelompok 3 yang beranggotakan Tesa Yuldani Rumbawa (Ketua Kelompok), Robi MYA, Rangga V, Indah R, April T, Rahmah EDP dan Fangki A, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Rosmauli M.Gz, merancang dua inovasi yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat.
Tesa dalam keterangan tertulisnya, Minggu (1/3/2026) mengungkapkan, KKN PKMSK memiliki pendekatan berbeda dibanding KKN pada umumnya. Program ini diawali dengan observasi mendalam, kemudian mahasiswa diwajibkan menyelesaikan dua permasalahan utama pada satu mitra.
"Di RT 008 Sanggrahan, dua persoalan krusial yang ditemukan adalah pengelolaan sampah botol plastik sekali pakai yang belum terpisah serta praktik pembakaran sampah organik secara terbuka," jelasnya.
Tesa mengungkapkan, penyediaan bank sampah khusus botol plastik menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran memilah sampah. Sebelum program berjalan, botol plastik sekali pakai kerap tercampur dengan sampah dapur sehingga sulit untuk didaur ulang.
Dengan adanya bank sampah khusus, warga kini dapat membuang botol plastik di tempat yang telah disediakan. Sampah yang terkumpul kemudian disalurkan ke bank sampah induk atau pengepul untuk didaur ulang. Selain menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan tertata, program ini juga memberikan nilai ekonomi.
Hasil penjualan botol plastik dimanfaatkan sebagai kas pemuda-pemudi RT 008 setiap bulan. Skema ini tidak hanya mendorong kebersihan, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong dan kemandirian finansial warga.
"Masyarakat pun merasakan manfaat langsung karena bank sampah menjadi sarana tambahan pemasukan," paparnya.
Selain sampah anorganik, persoalan lain adalah pengelolaan sampah organik yang selama ini dibakar secara terbuka. Cara tersebut menghasilkan asap tebal yang berpotensi mencemari udara dan mengganggu kesehatan.
Sebagai solusi, mahasiswa memperkenalkan rocket stove, alat pembakar berbasis biomassa dengan sistem pembakaran tertutup. Sampah organik dimasukkan ke ruang bakar, sementara aliran udara diatur melalui saluran khusus.
"Sehingga proses pembakaran berlangsung lebih sempurna dan menghasilkan asap yang jauh lebih minim," ungkapnya.
Robi menambahkan, inovasi ini menjadi hal baru bagi warga RT 008. Rocket stove dinilai lebih efisien, aman, serta ramah lingkungan dibanding pembakaran terbuka. Meski tidak menghasilkan nilai ekonomi secara langsung, manfaatnya terasa dalam bentuk kualitas udara yang lebih sehat dan lingkungan yang lebih nyaman.
Program pembuatan bank sampah khusus botol plastik dan rocket stove memberikan dampak positif yang signifikan. Lingkungan menjadi lebih bersih, volume sampah berkurang, serta kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah meningkat.
Warga menyambut baik inovasi ini, terutama karena rocket stove baru pertama kali dibangun di wilayah tersebut. Keberadaan alat ini diharapkan mampu mengurangi praktik pembakaran sampah sembarangan.
"Kami berharap program ini tidak berhenti setelah masa KKN selesai," ujarnya.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa dan warga, RT 008 Kampung Sanggrahan kini memiliki fondasi awal menuju lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan produktif. Program ini menjadi bukti bahwa solusi sederhana, jika dirancang sesuai kebutuhan masyarakat, mampu menghadirkan perubahan yang nyata dan berkelanjutan.
“Harapannya, bank sampah dan rocket stove dapat terus dimanfaatkan dan dirawat bersama, sehingga budaya pengelolaan sampah berkelanjutan benar-benar tumbuh di masyarakat,” tandasnya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
