Keroncong Plesiran Menyatukan Musisi Lintas Genre

Ribuan penonton menikmati seluruh rangkaian pertunjukan dengan nyaman.

Keroncong Plesiran Menyatukan Musisi Lintas Genre
Armand Maulana menjadi penutup perhelatan Satu Dekade Keroncong Plesiran di Kompleks Candi Prambanan Yogyakarta. (anggarakzza rayyi untuk koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN – Perayaan satu dekade Keroncong Plesiran mencapai puncaknya pada hari kedua penyelenggaraan, Minggu (14/6/2026) malam. Lokasi pertunjukan di Lapangan Nandi kawasan Candi Prambanan memiliki daya Tarik panggung berlatar siluet candi Hindu yang megah. Ini sekaligus menjadi ruang pertemuan yang menyatukan berbagai genre musik dalam balutan aransemen keroncong yang khas.

Berbeda dengan hari pertama yang sempat diguyur hujan deras, malam kedua berlangsung dalam cuaca cerah. Ribuan penonton dapat menikmati seluruh rangkaian pertunjukan dengan nyaman hingga acara berakhir.

Di bawah iringan orkestra Symphony Kerontjong Moeda, sejumlah musisi lintas generasi tampil membawakan karya mereka dengan sentuhan keroncong yang segar. Kolaborasi ini memberikan pengalaman berbeda, baik bagi penampil maupun penonton.

Salah satu momen yang paling mencuri perhatian datang dari Jimi Multhazam, vokalis yang dikenal melalui grup The Upstairs dan Morfem. Dengan gaya panggungnya yang khas, Jimi membawakan sejumlah lagu populer di antaranya Matraman dan Rayakan Pemenang.

Penampilan Jimi Multazam di perhelatan Satu Dekade Keroncong Plesiran di Kompleks Candi Prambanan. (anggarakzza rayyi untuk koranbernas.id)

Dia mengaku tampil di Keroncong Plesiran menjadi pengalaman yang berkesan dalam perjalanan bermusiknya tahun ini. "Tampil di Keroncong Plesiran ini adalah sesuatu yang sangat istimewa, sebuah pencapaian tersendiri bagi saya di tahun 2026," ujar Jimi.

Suasana berubah saat Kunto Aji hadir membawakan lagu-lagunya dalam balutan aransemen keroncong. Ini menjadi penampilan ketiganya di festival tersebut. Kunto mengaku bangga dapat kembali terlibat dalam upaya menjaga dan memperkenalkan musik keroncong kepada generasi yang lebih luas.

"Saya senang sekali dan bangga bisa ikut terlibat kembali dalam menjaga serta melestarikan budaya musik keroncong ini," katanya.

Momen emosional muncul ketika Ghea Indrawari naik panggung. Sebelum menyanyikan salah satu lagu andalannya, dia membagikan cerita personal mengenai proses kreatif yang melatarbelakangi karya tersebut. Ucapannya disambut hening dan perhatian penuh dari para penonton.

Armand Maulana

"Lagu ini aku tulis pada saat aku tidak sedang baik-baik saja. Kenapa selalu gagal, kenapa doaku tak kunjung terkabul? Ndak apa-apa, karena mungkin memang belum saatnya. Tapi jangan lupa untuk selalu berterima kasih kepada diri masing-masing. Kupersembahkan lagu ini untuk jiwa-jiwa yang kuat, untuk jiwa yang sedang bersedih," ungkap Ghea.

Energi festival kembali memuncak saat Armand Maulana tampil di atas panggung. Vokalis GIGI itu membuka penampilannya dengan lagu Ya Ya Ya, lalu mengajak penonton bernyanyi bersama melalui sederet lagu dari proyek solonya seperti Surga, Hanya Engkau yang Bisa dan 11 Januari. Dia juga memberikan kejutan dengan lagu Kamu yang pernah dipopulerkan Coboy Junior.

Selain nama-nama tersebut, malam puncak Keroncong Plesiran dimeriahkan pula penampilan Egha De Latoya, Gadis Gendhis, YKHC (Yogyakarta Hadrah Caln), serta kelompok keroncong legendaris Orkes Sinten Remen.

Memadukan aransemen keroncong yang megah, suasana magis kawasan Prambanan, serta keberanian para musisi untuk keluar dari zona nyaman, Keroncong Plesiran menjadi penegas musik keroncong terus hidup, berkembang dan mampu menjangkau lintas generasi.

Di balik gemerlap panggung dan sorak penonton, ada kerja panjang yang dirajut Boris Sirait bersama tim. Dia memimpin Symphony Kerontjong Moeda yang terdiri para pelajar dan mahasiswa dari berbagai sekolah musik di Yogyakarta. (*)