Pameran Internasional Digelar di Langgeng Art Foundation

Rangkaian proyek lintas negara yang sebelumnya berlangsung di Hong Kong dan Taipei.

Pameran Internasional Digelar di Langgeng Art Foundation
Karya-karya pameran internasional Tidal Weavers: Islands Exchange yang digelar di Langgeng Art Foundation Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Lukisan cat minyak atau goresan kuas di atas kanvas mungkin sudah lazim ditemui di ruang-ruang galeri. Namun suasana berbeda terasa di Langgeng Art Foundation, Yogyakarta, tempat digelarnya pameran internasional Tidal Weavers: Islands Exchange yang dibuka Jumat (19/6/2026).

Pameran yang diorganisasi Ace House Collective ini menjadi perhentian terakhir dari rangkaian proyek lintas negara yang sebelumnya berlangsung di Hong Kong dan Taipei.

Melalui karya-karya berbasis tekstil, publik diajak melihat kain bukan hanya sebagai benda budaya, melainkan juga sebagai ruang penyimpan pengetahuan, sejarah dan pengalaman hidup masyarakat kepulauan.

Pada lantai atas galeri, sebuah instalasi kain berlatar hitam menarik perhatian. Motif geometris yang rumit ditenun dengan presisi, sementara sulaman tangan mengelilinginya dengan detail yang halus.

Seniman yang terlibat dalam pameran internasional Tidal Weavers: Islands Exchange yang digelar di Langgeng Art Foundation, Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

Karya itu adalah pis syabit, kain suci masyarakat Muslim Tausug di Sulu Filipina Selatan, wilayah yang selama puluhan tahun hidup dalam bayang-bayang konflik bersenjata. Karya tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana tekstil menjadi medium yang menyimpan jejak sejarah, identitas dan ingatan kolektif.

Direktur Artistik proyek, Ade Darmawan, menjelaskan Tidal Weavers berangkat dari ketertarikan untuk menelusuri hubungan masyarakat kepulauan dengan air, pesisir dan pulau-pulau yang membentuk kehidupan mereka.

"Ini berasal dari keinginan meriset tentang peran pengetahuan tentang air, pulau, dan pesisir," ujar Ade saat ditemui di sela-sela pembukaan pameran.

"Mengapa kita tidak melihat tekstil sebagai sebuah 'museum'? Di dalamnya tidak hanya ada keindahan, tapi ada rekayasa teknologi, jalinan benang, dan cerita," lanjutnya.

Melalui diskusi

Gagasan itu kemudian berkembang melalui diskusi dengan Takahashi Mizuki, Direktur sekaligus Kurator CHAT (Centre for Heritage, Arts and Textile) Hong Kong. Bagi Mizuki, perubahan gaya hidup masyarakat Asia membuat banyak tradisi tekstil perlahan kehilangan ruang hidupnya. "Hari ini kita tidak lagi memakai kain sarung atau kimono setiap hari. Kita kehilangan penggunanya," kata Mizuki.

Berangkat dari gagasan tersebut, para seniman tidak hanya diminta menghasilkan karya. Mereka menjalani residensi dan bekerja bersama komunitas di berbagai wilayah pesisir untuk mempelajari tradisi lokal secara langsung.

Hasilnya terlihat dalam beragam karya yang memenuhi ruang pamer. Ade Darmawan, misalnya, mengolah data mengenai mobilitas manusia menjadi motif-motif tekstil yang dikerjakan bersama perajin di Sambas, Maumere dan Tuban.

Sementara itu, Widi Asari mengangkat karya dari kain dapur bekas industri (deadstock) yang disulam oleh para Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong. Melalui sulaman tersebut, para pekerja migran merekam pengalaman hidup, kerinduan, dan hubungan mereka dengan kampung halaman.

Mitologi banjir

Kisah lain datang dari Chang En-Man, seniman berdarah Paiwan dari Taiwan. Saat menjalani residensi di Makassar, dia menemukan keterhubungan antara mitologi banjir dalam tradisi Paiwan dengan epos Bugis I La Galigo. Temuan itu kemudian diwujudkan dalam karya berbahan kain kulit kayu tradisional Taiwan.

Menurut Zoe Yeh, kurator dari Hong-Gah Museum Taipei, proyek ini membuka ruang pertukaran pengetahuan yang jarang terjadi. "Banyak penenun masyarakat adat kami yang sejarah tenunnya terputus akibat kolonisasi. Melalui proyek ini, ada proses pengayaan dan pembelajaran timbal balik yang luar biasa," ujarnya.

Zoe juga menyoroti dampak yang ditinggalkan proyek tersebut di tingkat komunitas. Salah satunya melalui karya seniman Indonesia Meita Meilita yang bekerja bersama masyarakat Kebalan di Hualien Taiwan.

Bahkan setelah program residensi berakhir, perempuan-perempuan Kebalan tetap melanjutkan praktik menyulam yang telah dipelajari bersama. "Proyek ini benar-benar hidup dan mempengaruhi komunitas yang dikunjungi," kata Zoe.

Soal lingkungan

Pada pameran ini juga ditampilkan karya-karya yang menyinggung sejarah, spiritualitas hingga persoalan lingkungan. Seniman serat senior Taiwan, Yang Wei-Lin, menelusuri sejarah pewarna indigo di Tuban. Penelitiannya menemukan jejak hubungan panjang antara tanaman nila di Indonesia dan upaya VOC membawanya ke Taiwan pada masa lalu.

Sementara itu, Yip Kai Chun dari Hong Kong mendokumentasikan tradisi Tatung di Pontianak bersama kolektif Susur Galur. Melalui instalasi video dan light box, dia merekam praktik spiritual dan tradisi pembuatan kostum ritual yang berkembang di masyarakat setempat.

Prewangan Studio dari Tuban memamerkan instalasi Pesugihan Dhedhet Kemukus. Karya ini mengkritik praktik eksploitasi sumber daya alam melalui penggunaan material industri bekas dan elemen kinetik yang menggambarkan dampak ekstraksi batu bara terhadap lingkungan.

Selain ruang pamer utama, pengunjung juga dapat mengakses Tidal Weavers Resource Room yang digarap bersama Lawe Indonesia dan IVAA (Indonesian Visual Art Archive). Di ruang ini, publik diajak membaca, menyentuh dan mendiskusikan tekstil sebagai medium produksi pengetahuan.

Fondasi utama

Mizuki Takahashi menjelaskan kolaborasi dengan masyarakat lokal menjadi fondasi utama proyek ini. "Tanpa masukan dan kolaborasi dari masyarakat lokal, tidak ada satu pun dari karya ini yang akan terwujud," ujarnya.

Pada akhirnya, Tidal Weavers: Islands Exchange menunjukkan tekstil bukan sekadar warisan budaya atau karya kerajinan. Di balik setiap tenunan, sulaman, dan serat yang dipamerkan, tersimpan cerita tentang sejarah, migrasi, kolonisasi hingga upaya masyarakat menjaga pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. (*)