Puskestan Klaten Gelar Wiwitan, Kesehatan Manusia Dipengaruhi Apa yang Dimakan

Lahan yang dipanen ini, sebelumnya merupakan bera, lahan yang tidak produktif.

Puskestan Klaten Gelar Wiwitan, Kesehatan Manusia Dipengaruhi Apa yang Dimakan
Wiwitan dengan tema 'Merayakan Panen, Merawat Harapan' yang diselenggarakan Puskestan Kabupaten Klaten di lahan pertanian di wilayah Desa Sribit Kecamatan Delanggu, Kamis (18/6/2026). (masal gurusinga/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, KLATEN -- Pusat Kesehatan Tanah dan Tanaman (Puskestan) Kabupaten Klaten bekerja sama dengan mitra kerja dan stakeholder menggelar tradisi Wiwitan di lahan pertanian di wilayah Desa Sribit Kecamatan Delanggu, Kamis (18/6/2026). Kegiatan bertajuk 'Merayakan Panen, Merawat Harapan' dihadiri langsung Prof Widyatmoko, profesor riset dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) serta Prof Rhenald Kasali.

Founder Puskestan Kabupaten Klaten, dr Andreas Philip Avianto Wicaksono, mengatakan perayaan Wiwitan sebagai ucapan syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum memanen apa yang ditanam dengan keringat dan juga harapan.

Andreas Philip Avianto yang lebih akrab dipanggil dr Awi menceritakan rangkaian perayaan Wiwitan diawali arak-arakan menuju lahan yang akan dipanen. Selanjutnya, di tengah lahan pertanian dilakukan doa bersama dan memanen padi.

"Lahan yang dipanen ini, sebelumnya merupakan bera (lahan tidak produktif). Tetapi kami pulihkan kesehatan tanahnya dengan pupuk komsah (kompos seresah dari dedaunan) dan pengurangan pemakaian pupuk kimia separuh dari pemakaian biasa," katanya.

Lebih baik

Wiwitan, lanjutnya, tidak semata-mata acara seremonial belaka, tapi pertanda perjalanan karena lahan yang akan di-wiwit, sebelumnya merupakan lahan bera atau tidak produktif.

"Dianggap petani ora marai untung (tidak bikin untung)," ujar dr Awi seraya menambahkan dari awal Puskestan percaya bukan tanahnya yang tidak produktif atau sudah mati, tapi hanya belum diberikan kesempatan hidup lebih baik.

Tanaman padi yang akan dipanen pada acara Wiwitan tersebut adalah varietas Inpari-32 yang ditanam di lahan seluas 1,2 hektar.  Sebelum menekuni Puskestan kata dia, dirinya adalah seorang dokter umum yang bertugas mengobati pasien yang mayoritas berlatar belakang petani.

"Saya menyadari sesuatu yang sebetulnya simpel tapi penting, yaitu kesehatan manusia dipengaruhi dari apa yang dimakan. Apa yang dimakan tergantung di mana ditanam, yaitu tanah. Dari sini, saat saya masih dokter meluangkan waktu menjadi petani dan sekarang malah kecemplung," katanya.

Kualitas produk

Sementara itu, Prof Widyatmoko (profesor riset dari BRIN) menyampaikan keprihatinannya terkait kualitas produk pertanian sekarang yang disebut berkurang.

"Ngakunya beras mentik wangi tapi sekarang tinggal mentik saja dan wanginya hilang. Dulu kalau ngiris brambang nangis tapi sekarang tertawa. Artinya, kualitas produk ini berkurang padahal satu unggulan pertanian kita. Kalau kita tanya petani, semua menjawab tanahku rusak, tanahku tidak sehat. Itu semua kita sepakat. Kenapa? Karena penggunaan pupuk kimia dan pestisida berlebihan. Ada pola budi daya yang tidak pas (tepat), hilangnya budaya lama dan munculnya budaya baru," kata Prof Widyatmoko.

Jadi, kata dia, kalau ditanya apa yang harus dilakukan, khususnya dalam mendukung swasembada? “Mau tidak mau, suka tidak suka dalam waktu cepat yang harus dilakukan adalah sehatkan tanah. Nenek moyang kita mengajarkan untuk menyehatkan tanah zaman dahulu menggunakan kompos dari daun,” ungkapnya. (*)